Kondisi saat ini, disebutnya jadi cerminan bahwa ada koordinasi yang kurang maksimal antar stakeholders terkait.
Hal itu juga, kata Djoko, amat berkaitan dengan pemilihan CdM yang berlangsung sangat mepet dengan penyelenggaraan SEA Games 2019.
Seperti diketahui, Harry Warganegara dipilih sebagai Chef de Mission Indonesia hanya tiga bulan menjelang keberangkatan kontingen.
Hal itu disebut Djoko sangat berpengaruh terhadap persiapan tim CdM secara keseluruhan.
![CdM Indonesia untuk SEA Games 2019, Harry Warganegara, di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (30/9/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/09/30/21196-cdm-indonesia-untuk-sea-games-2019-harry-warganeraga.jpg)
Koordinasi mereka dengan masing-masing cabang olahraga terkait jadi berjalan terburu-buru.
"Dari awal sudah miss, dengan target yang berubah-ubah itu saya bingung. Dengan 60 medali emas tidak efisien karena kontingennya saja ada 800 sekian masa target emas segitu," beber Djoko.
Di sisi lain, jauh sebelum SEA Games 2019 bergulir, pemerintah konsisten dengan kebijakan untuk mengirim kontingen dengan kompisisi 60 persen atlet muda.
Dengan mengirimkan 60 persen atlet muda, Indonesia nyatanya masih mampu bersaing untuk setidaknya melampaui raihan medali dan peringkat pada SEA Games 2017.
Sebagaimana diketahui, pada SEA Games 2017 Malaysia, Indonesia harus puas duduk diperingkat lima klasemen akhir, dengan raihan 38 medali emas, 63 perak, dan 90 perunggu.

Hasil tersebut tentu menjadi modal sekaligus harapan besar bagi prestasi Indonesia di event-event internasional selanjutnya, dengan yang terdekat adalah Olimpiade 2020 Tokyo.
"Kita apresiasi atlet muda berbakat. Contoh Windy Cantika Aisah (dari angakt besi). Itu aset penanda kita punya atlet muda berpotensi," beber Djoko.
"Tapi kita juga harus hati-hati, jangan dihabiskan di berbagai event. Saya sarankan disimpan dan buat olimpiade 2024."
"Masih muda jangan diberikan beban. Semua pihak masyarakat, federasi cabang olahraga, KONI, NOC Indonesia dan pelatih harus memahami masih panjang perjalanannya," pungkasnya.