- Program pembinaan bulu tangkis usia dini di Magelang melibatkan 480 siswa SD oleh Pengprov PBSI Jateng dan Djarum Foundation.
- Festival SenengMinton memperkenalkan bulu tangkis secara edukatif kepada siswa kelas 1 hingga 3 Sekolah Dasar.
- Inisiatif ini bertujuan menjaga regenerasi atlet bulu tangkis nasional melalui pembinaan konsisten sejak usia dini.
Suara.com - Upaya menjaga mata rantai prestasi bulu tangkis Indonesia terus digalakkan secara masif hingga ke level paling dasar di sekolah-sekolah.
Kota Magelang menjadi saksi ribuan senyum anak-anak Sekolah Dasar yang antusias memegang raket dalam program pembinaan usia dini yang digelar di GOR Djarum, Kamis (11/12).
Program ini merupakan inisiatif strategis Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI Jawa Tengah bersama Bakti Olahraga Djarum Foundation untuk memperkenalkan olahraga tepok bulu kepada siswa kelas 1 hingga 3 SD.
Sebanyak 480 siswa dari 16 SD dan MI di Magelang ambil bagian, sekaligus menutup rangkaian roadshow pembinaan yang sepanjang tahun 2025 telah menjaring total 2.266 peserta di lima kota besar Jawa Tengah.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menegaskan bahwa strategi mengenalkan bulu tangkis melalui permainan adalah kunci menjaga keberlangsungan regenerasi atlet.
“Regenerasi dan pembinaan atlet adalah proses jangka panjang yang tidak bisa diperoleh secara instan," ujar Yoppy.
Ia menambahkan, "Prosesnya harus dimulai secara konsisten sejak usia dini."
Menurut Yoppy, metode yang edukatif sangat penting agar anak-anak jatuh cinta dulu pada olahraganya sebelum ditempa latihan berat.
"Festival SenengMinton menjadi sarana pengenalan bulutangkis yang edukatif dan mudah diterima siswa, sehingga kecintaan pada olahraga dapat tumbuh lebih dahulu sebelum memasuki tahap latihan yang lebih serius,” jelasnya.
Senada dengan Yoppy, Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Basri Yusuf, melihat antusiasme ribuan siswa ini sebagai angin segar bagi masa depan bulu tangkis nasional.
Basri menilai pendekatan jemput bola ke sekolah dasar sangat efektif untuk menjangkau bakat-bakat terpendam di lapisan grassroot yang selama ini belum tersentuh klub.
“Antusiasme para peserta untuk berkenalan dengan olahraga bulutangkis sangat luar biasa," kata Basri.
Ia mengakui bahwa ini adalah terobosan baru karena biasanya pembinaan hanya bertumpu pada klub, namun kini PBSI bisa menjamah langsung ke sekolah-sekolah.
"Ini merupakan impian kami, karena selama ini pembinaan dilakukan oleh klub, sekarang kami bisa menjamah banyak sekolah," tuturnya.
Basri berharap mata rantai regenerasi tidak akan terputus dengan adanya program yang merangsang sekolah untuk membuat ekstrakurikuler bulu tangkis.
"Hal ini adalah kesempatan bagus untuk menjaring atlet berbakat sejak dini, karena kita berharap mata rantai regenerasi atlet bulutangkis tidak terputus," tegas Basri Yusuf.
"Harapan kami, dari ribuan siswa yang telah menjajal permainan di Festival SenengMinton, banyak yang kemudian menekuni dunia bulutangkis," sambungnya.
"Selanjutnya, kami akan lebih sering menggalakkan kegiatan seperti ini dan mendorong sekolah untuk menciptakan ekstrakurikuler bulutangkis sehingga minat dan kemampuan siswa terakomodir,” pungkasnya.
Dalam ajang ini, kemampuan motorik dan koordinasi anak diasah melalui berbagai rintangan seru seperti Service to Target, Shuttle Run, hingga Zig Zag Run.
Dampak positif pembinaan ini dirasakan langsung oleh Zenuwardiyanto, Guru Olahraga SDN Kemirirejo 1, yang melihat anak didiknya begitu bersemangat meski sekolah belum memiliki fasilitas lengkap.
“Bulutangkis merupakan hal yang baru di sekolah kami," ungkap Zenu.
Ia menceritakan betapa tingginya minat siswa saat pendaftaran dibuka, bahkan mereka rela membawa peralatan sendiri.
"Sewaktu kami umumkan ada informasi tentang Festival SenengMinton, ternyata pendaftarnya banyak sekali, kemudian kami lakukan seleksi," ceritanya.
"Lalu kami mencoba giat berlatih, bahkan mereka berinisiatif membawa raket sendiri untuk bermain di sekolah," tambah Zenu.
Ia pun bersyukur atas kesempatan ini. "Alhamdulilah, para siswa bisa melakukan yang terbaik. Semoga banyak siswa semakin tertarik bermain bulutangkis. Terima kasih Djarum Foundation, ini kesempatan berharga bagi sekolah kami untuk bisa mengikuti Festival SenengMinton,” ucapnya.
Salah satu bukti keberhasilan program ini terlihat dari motivasi Amelisa Candra Kirani, siswi SDN Magelang 6 yang berhasil menjadi peserta tercepat di kategorinya.
“Senang bisa ikut lomba di Festival SenengMinton, ada lari zigzag, menyusun shuttlecock, dan yang paling aku suka Service to Target," kata Amelisa dengan wajah ceria.
Bocah yang terinspirasi dari kakaknya ini bahkan sudah berani menggantungkan mimpi setinggi langit untuk membela Merah Putih.
"Aku merasa percaya diri saat servis karena sering bermain bulutangkis dengan kakak. Dulu aku lihat kakak main badminton dan sepertinya seru lalu aku suka. Cita-citaku jadi atlet badminton dan masuk pelatnas,” tutup Amelisa.