"Memang harus dikasih mati anak itu," ujar Ferdy Sambo sambil menatap Eliezer. Eliezer kaget dan hanya terpaku.
"Nanti kamu yang tembak Yosua ya karena kalau kamu yang tembak Yosua saya yang akan jaga kamu karena kalau saya yang tembak tidak ada yang jaga kita," sambung Ferdy Sambo.
Eliezer tetap diam. Ia masih bingung antara nyata atau tidak apa yang disampaikan atasannya itu. Lalu Ferdy Sambo menjelaskan mengenai skenarionya ke Eliezer.
"Jadi gini skenarionya di 46 (Duren Tiga). Jadi nanti skenarionya ibu dilecehkan Yosua, baru ibu teriak, kamu dengar, kamu respons, Yosua ketahuan, Yosua tembak kamu, kamu tembak balik Yosua, Yosua yang mati," papar Ferdy Sambo.
Eliezer makin kalut. Pikirannya kacau, psikologinya tertekan. Ia baru saja diperintah untuk membunuh seseorang oleh seorang jenderal.
"Kamu tenang aja, kamu aman. karena posisinya kamu bela ibu kedua kamu bela diri jadi kamu aman chad kau tenang aja," ujar Sambo mencoba menenangkan Eliezer.
Pada saat itu, Ferdy Sambo sempat berbincang sedikit dengan Putri. Eliezer tidak begitu mendengar percakapan suami istri itu karena suaranya kecil.
Yang didengar Eliezer, Putri hanya mengatakan tentang CCTV dan sarung tangan. Setelah itu, Ferdy Sambo kembali menjelaskan mengenai skenarionya ke Eliezer berulang-ulang.
"Senpi kamu mana? tanya Sambo. "Siap ada bapak," jawab Eliezer.
Sambo meminta Eliezer menambah amunisi di senjata apinya sambil mengeluarkan sekotak amunisi dan memberikannya ke Eliezer. Eliezer membuka magasin lalu mengisi penuh.
"Senjata Yosua mana?" tanya Ferdy Sambo. Eliezer menjawab senjata Yosua ada di mobil Lexus. Segera Sambo memerintahkan Eliezer mengambil senjata Yosua di mobil.
Ia turun ke bawah menuju mobil mengambil senjata api Yosua lalu dimasukkannya ke tas. Setelah itu Eliezer naik lagi ke lantai 3 menggunakan tangga memberikan senjata Yosua ke Ferdy Sambo.
Ketika turun, Yosua yang dalam keadaan kalut, masuk ke toilet. Ia berdoa. "Tuhan kalau bisa Tuhan ubah pikiran Pak Sambo ya Tuhan. Kalau bisa ubah pikirannya biar ga jadi."
Eliezer lalu ke luar rumah kembali bergabung dengan ajudan lain. Di sana sudah ada Putri Candrawathi sedang berbincang dengan ajudan-ajudan lain termasuk Yosua.
Detik-detik Penembakan
Tak berapa lama, Putri bersama Kuat Ma'ruf masuk ke rumah disusul Eliezer. Sementara Yosua masih berada di luar bersama ajudan lain.
Putri masuk ke kamar diantar Kuat yang membawakan tas Putri sedangkan Eliezer menuju lantai 2. Karena masih merasa takut, Eliezer masuk ke kamar dan kembali mengulang doanya seperti yang ia lakukan di toilet.
Ketika sedang berdoa, Eliezer mendengar suara Ferdy Sambo di bawah. Ia turun. Sampai di ujung tangga, Eliezer melihat Ferdy Sambo sudah pakai sarung tangan karet warna hitam.
"Sudah kau isi (kokang) senjatamu?" tanya Sambo. Eliezer menjawab belum. Sambo lalu menyuruhnya segera mengisi senjata apinya.
Setelah mengokang senjata dan menaruhnya di pinggang, Yosua masuk didampingi Ricky dan Kuat. Ferdy Sambo yang menoleh ke belakang melihat Yosua.
"Sini kamu," geram Sambo sambil tangannya merangkul leher Yosua.
"Sini berlutut kau situ. Berlutut," perintah Sambo. Yosua tampak kebingungan. Ia tak tahu apa mengapa disuruh berlutut.
"Kenapa pak? Ada apa Pak?" elak Yosua dengan kedua tangannya di depan dada sambil jalan mundur.
"Kau berlutut!" perintah Sambo sambil menyuruh Eliezer untuk menembak Yosua.
"Woy kau tembak, kau tembak cepat," sergah Sambo ke Eliezer. Eliezer langsung mengeluarkan senjata apinya dan mengarahkan ke Yosua yang ada di hadapannya dalam jarak 2 meter.
"Dor, dor, dor!!" tiga sampai empat peluru dimuntahkan senjata Eliezer. Yosua mengerang lalu tubuhnya roboh.
Melihat tubuh Yosua tergeletak dengan posisi tengkurap, Ferdy Sambo maju mengokang senjata api lalu menembak ke arah tubuh Yosua.