SuaraSumedang.id - PT Pertamina (Persero) melakukan berbagai program efisiensi, semenjak kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada kenaikan biaya produksi BBM.
Pertamina sukses menghemat biaya operasional sekitar Rp 6 Triliun hingga Juli 2022.
Langkah strategis penghematan biaya yang dilakukan oleh Pertamina Group sejak awal tahun dinilai berhasil.
Semenjak konflik Rusia dan Ukraina, perusahaan energi dihadapkan pada situasi yang berat di tengah disrupsi mata rantai pasokan energi global.
Krisis energi menjadi hambatan bagi mobilitas perdagangan global, karena tengah melakukan pemulihan pasca pandemi
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menuturkan, kebijakan Pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi dengan menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi BBM merupakan langkah yang tepat.
Hal tersebut tercermin dari peningkatan konsumsi BBM untuk mobilitas masyarakat serta aktivitas usaha.
Namun di sisi lain, peningkatan konsumsi BBM tersebut menyebabkan kenaikan beban subsidi Pemerintah.
"Kami memahami beratnya beban subsidi Pemerintah, untuk itu Pertamina melakukan berbagai program penghematan biaya,” kata Nicke.
“Dalam rangka membantu menurunkan beban subsidi Pemerintah," ujar Dirut Pertamina.
Porsi terbesar dalam produksi BBM adalah biaya pembelian minyak mentah, yang mencapai 92% dari Biaya Pokok Produksi.
Investasi upgrading Kilang Minyak Pertamina yang telah dijalankan dalam 4 tahun terakhir ini, telah berhasil meningkatkan fleksibilitas minyak mentah.
Artinya, jika selama ini Kilang Pertamina hanya dapat memproses minyak mentah tertentu saja yang harganya mahal.
Maka mulai tahun lalu sudah mampu memproses minyak mentah dengan sulfur content lebih tinggi yang sumbernya banyak dan harganya lebih murah.
Langkah strategis ini, menjadikan Pertamina berhasil secara signifikan menurunkan biaya produksi BBM.
Selain itu, efisiensi energi di seluruh area operasional dari hulu ke hilir, juga memberikan penghematan biaya yang signifikan.
Sekaligus Pertamina mempunyai dampak secara tidak langsung memberikan kontribusi pada penurunan emisi karbon.
“Terobosan pasca restrukturisasi yang juga signifikan untuk mencapai efisiensi Pertamina Group adalah sentralisasi pengadaan barang dan jasa,” kata Dirut Pertamina.
“Serta integrasi dan optimalisasi seluruh aset dari hulu ke hilir,” ungkapnya.
Tidak hanya menghemat biaya, bahkan Pertamina Group juga berhasil meningkatkan pendapatan dengan melakukan ekspor produk-produk bernilai tambah tinggi.
Seperti produk minyak HVO (D100 berbasis kelapa sawit) dan Low Sulfur Fuel Oil.
Demand dunia terhadap produk-produk low carbon terus meningkat, dengan upgrading Kilang yang telah dilakukan.
Saat ini Pertamina mampu menghasilkan produk-produk tersebut, sehingga berhasil menangkap peluang yang sangat prospektif ini.
"Bagi kami, penghematan biaya bukan sekedar cutting cost, tapi mengubah operating model serta memperbaiki bisnis proses,” ujar Dirut Pertamina.
“Sehingga seluruh program tetap terlaksana dan seluruh target pun tercapai, namun dengan biaya yang lebih rendah,” kata Nicke.
“Pertamina akan terus melakukan berbagai upaya penghematan biaya, yang sekaligus mampu menurunkan emisi karbon, sehingga mendukung transisi energi Pertamina dan Indonesia" pungkasnya.