SuaraSumedang.id - Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang tak dapat dihindari.
Diketahui, hal tersebut terjadi usai laga antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 dimenangkan oleh tim tamu 2-3.
Akhirnya, para suporter Arema turun ke lapangan hingga kerusuhan terjadi.
Lebih lanjut, insiden mematikan yang membuat ratusan orang meregang nyawa tersebut mendapat sorotan dari pengamat usai didapati adanya aparat TNI yang juga melakukan kekerasan terhadap suporter di sana.
Diketahui, sejumlah aparat TNI tertangkap kamera sedang menendang suporter hingga jatuh tersungkur saat kericuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur (Jatim).
Menanggapi hal tersebut, Analis militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengungkapkan, lebih setuju apabila aparat TNI tidak ikut turun saat bertugas membantu aparat Polri dalam pengamanan pertandingan sepak bola.
Pernyataan tersebut disampaikan Fahmi, lantaran dirinya memahami kalau prajurit TNI itu didik untuk bertempur dan mampu menghilangkan ancaman terhadap negara.
"Sederhananya, doktrin mereka adalah 'membunuh atau dibunuh'. Jika tidak hati-hati dan terkendali, pelibatan tentara tersebut justru bisa jadi bumerang," kata Fahmi. Dilansir dari Suara.com, Selasa (4/10/2022).
Apabila situasi memburuk, maka menurut Fahmi, para prajurit TNI secara naluriah akan menganggap yang dihadapinya itu musuh yang mesti dibasmi.
Baca Juga: Komika Mamat Alkatiri Dipolisikan Anggota DPR RI Hillary Brigitta karena Masalah 'Sangrai'
"Sehingga sangat mungkin terjadi kekerasan yang tidak patut dan berlebihan," katanya menambahkan.
Ketimbang dilibatkan langsung ke lapangan, Fahmi menilai kalau para prajurit TNI itu cukup diperankan sebagai kekuatan cadangan apabila terjadi eskalasi serta berpotensi menjadi huru-hara yang meluas hingga menjadi ancaman bagi keselamatan masyarakat.