Suara.com - Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, melalui akun Twitter-nya mengancam akan mengobarkan perang dengan negara tetangganya, Armenia, setelah puluhan warganya tewas dalam konflik perebutan wilayah.
Dalam serangkaian tweet, Aliyev, mengatakan puluhan warganya tewas dalam bentrokan merebut wilayah Nagorno-Karabakh dan karenanya dia berjanji akan mengembalikan wilayah itu dengan berbagai cara, termasuk menggunakan kekuatan militer.
Ancaman perang via Twitter adalah yang pertama yang pernah dilakukan oleh seorang kepala negara dalam sejarah.
Azerbaijan dan Armenia mulai terlibat konflik wilayah sejak bubarnya Uni Soviet. Pasukan Armenia menguasai kendali de facto atas Nagorno-Karabakh, yang 90 persen warganya merupakan etnis Armenia. Tetapi secara hukum, wilayah pegunungan itu adalah milik Azerbaijan.
"Sebagai akibat serangan tentara pendudukan Armenia, jatuh korban di pihak angkatan bersenjata kami. Beberapa tentara telah menjadi martir," tulis Aliyev, Kamis (7/8/2014).
"Kami akan memulihkan kedaulatan. Bendera Azerbaijan akan berkibar di semua wilayah yang diduduki, termasuk Shusha dan Khankandi (di Nagorno-Karabakh)," tulis Aliyev lebih lanjut.
"Seperti kami sudah mengalahkan Armenia di medan politik dan ekonomi, kami bisa mengalahkan mereka di medan tempur," tegas dia di akun Twitter-nya yang punya lebih dari 76.000 follower.
"Kami akan mengembalikan kedaulatan wilayah kami baik dengan cara damai maupun militer. Kami siap menggunakan kedua pilihan itu," tegas dia.
We will restore our territorial integrity either by peaceful or military means. We are ready for both options.
— Ilham Aliyev (@presidentaz) August 7, 2014
Ketegangan antara dua negara pecah menjadi bentrokan bersenjata pada akhir pekan lalu. Setidaknya 14 orang tewas dalam bentrokan tersebut dan kedua negara saling menyalahkan sebagai penyebab kekisruhan.
Kedua negara, dengan bantuan Rusia, menandatangani gencatan senjata pada 1994, setelah bertempur sengit selama enam tahun. Sekitar 30.000 jiwa melayang dalam perang tersebut. Sejak itu kedua negara selalu bersitegang dan puluhan orang tewas setiap tahun di zona militer tersebut. (The Guardian)