Miliki Ponsel, Anak Rentan Jadi Perisak di Dunia Maya

Liberty Jemadu

Kamis, 18 Oktober 2018 | 21:53 WIB
Miliki Ponsel, Anak Rentan Jadi Perisak di Dunia Maya
Seorang anak sedang memegang ponsel. [Shutterstock]

Suara.com - Jumlah orang tua yang memberikan telepon seluler kepada anaknya yang berada di bangku Sekolah Dasar (SD) tiap tahun bertambah.

Persentase murid kelas tiga SD di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa mereka memiliki gawai meningkat dua kali lipat dari 19% pada 2013 menjadi 45% pada 2017. Peningkatan persentase yang serupa terjadi pada siswa kelas empat dan lima SD. Sekitar setengah dari murid kelas empat SD dan 70% murid kelas lima SD berangkat ke sekolah membawa telepon genggam.

Orang tua seringkali memberikan gawai kepada anak-anaknya dengan alasan supaya mereka dapat dengan mudah berkomunikasi, hal tersebut juga dilihat sebagai suatu bentuk pengamanan bagi anak. Bahaya orang asing dan predator seksual menjadi ketakutan pertama yang timbul di pikiran orang tua. Beberapa sekolah negeri di Amerika Serikat bahkan sudah mengadopsi kebijakan untuk membatasi komunikasi pribadi antara murid dan guru.

Namun penindasan dan intimidasi lewat dunia maya atau cyberbullying menjadi kekhawatiran yang lebih umum, dan penelitian saya pada tahun 2017 menemukan bahwa pemberian telepon seluler kepada anak kecil dapat meningkatkan kemungkinan anak tersebut menjadi korban atau pelaku penindasan. Penelitian yang melibatkan 4.500 murid SD di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kehadiran telepon seluler di sekolah berhubungan dengan keterlibatan anak-anak dalam penindasan dan cyberbullying, baik sebagai pelaku maupun pelaku/korban. Seorang pelaku/korban adalah seorang anak yang pada saat yang berbeda dapat menjadi pelaku maupun korban perundungan.

Riset menunjukkan bahwa meskipun lebih dari setengah murid kelas tiga SD yang memiliki telepon genggam, hanya 35% dari anak-anak yang tidak terlibat dalam penindasan. Terlebih lagi, 75% dari cyberbullies yang duduk di kelas tiga SD memiliki gawai, dibandingkan dengan hanya 37% anak-anak kelas tiga SD yang tidak terlibat dalam penindasan dunia maya. Hasil yang mirip—meskipun sedikit lebih lemah–juga ditemukan di antara murid kelas empat dan lima SD.

Hasil terkuat di antara anak-anak yang paling muda bisa disebabkan karena mereka memiliki kemampuan terbatas untuk memahami dinamika komunikasi dalam dunia digital. Contohnya, dalam studi lapangan saya di Pusat Pengurangan Agresi Massachusetts (Massachusetts Aggression Reduction Center), saya mempelajari bahwa banyak remaja bisa mewaspadai bagaimana emosi bisa dengan cepat meningkat di dunia maya dan hal tersebut dapat menimbulkan konflik dan penindasan. Namun, anak-anak yang lebih muda secara umum belum menyadari hal tersebut, dan adanya perbedaan tersebut yang memotivasi saya dan kolega saya untuk membuat suatu panduan untuk anak-anak yang telah mendapatkan gawai pertamanya.

Anak-anak dapat belajar bagaimana cara menggunakan teleponnya dengan aman dan orang tua dapat mengikuti tahapan-tahapan praktis yang dapat meminimalisir keterlibatan anaknya dalam penindasan dan perundungan dunia maya serta menjamin kesejahteraan anak.

Beberapa tips-nya antara lain:

1. Menetapkan kepemilikan

Telepon genggam tersebut bukan milik anak Anda—telepon tersebut milik Anda. Sehingga Anda mempunyai hak untuk melihat isinya. Dengan memeriksa gawai anak Anda, Anda dapat mendeteksi pesan-pesan yang memiliki tanda-tanda keterlibatan anak dalam penindasan dan cyberbullying. Pada tahun 2012, MacAfee mengeluarkan penelitian yang menemukan bahwa setengah dari anak-anak yang menjadi responden mengubah perilaku mereka di dunia maya saat mereka tahu bahwa orang tua mereka memonitor tindak-tanduk mereka.

2. Larang telepon genggam saat makan malam

Penelitian yang dilakukan di Universitas McGill pada tahun 2014 menemukan bahwa makan malam bersama keluarga dapat melindungi anak-anak dari perundungan. Waktu makan malam dapat menjadi saat untuk membangun hubungan emosional, bahkan meskipun yang terjadi hanya percakapan basa-basi. Namun, momen tersebut dapat menjadi waktu bagi anak-anak untuk mendiskusikan tantangan dan kesulitan yang mereka hadapi serta solusi dan strategi dengan orang-orang yang menyayangi mereka. Sayangnya, makan malam dengan keluarga seringkali diganggu oleh pesan-pesan dari telepon seluler. Untuk alasan tersebut, peraturan yang melarang telepon genggam di meja makan bisa mendorong hubungan baik dalam keluarga yang dapat melindungi anak dari perundungan.

3. Batasi penggunaan telepon genggam saat mengerjakan pekerjaan rumah

Mendengarkan musik selagi anak mengerjakan pekerjaan rumah boleh saja tapi menonton video atau bermain gawai seharusnya tidak diperbolehkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa multitasking justru dapat menurunkan kualitas ingatan, pembelajaran dan kinerja kognitif.

4. Jangan memperbolehkan penggunaan telepon seluler sebelum tidur

Penelitian menunjukkan bahwa melihat layar yang terang tepat sebelum tidur dapat menggangu pola tidur. Permasalahan tidur juga telah dikaitkan dengan keterlibatan anak dalam perundungan. Untuk mendorong tidur yang sehat dan mengurangi kemungkinan terlibat dalam perundungan, bantu anak Anda membangun kebiasaan-kebiasaan sebelum tidur yang baik dengan cara menyingkirkan perangkat elektronik yang ada satu jam sebelum tidur. Kalau mereka mau membaca menggunakan gadget, gunakanlah aplikasi yang mempunyai filter UVB atau fitur redup dan atur agar latar layarnya menjadi hitam.

Untuk membantu anak Anda tetap tidur, perangkat elektronik harus disimpan di luar kamar. Bahkan saat anak Anda berniat untuk tidur, suara atau getaran dapat membangunkannya. Keberadaan gawai di kamar tidur juga dapat menjadi godaan untuk mengirim pesan atau bermain.

5. Berikan contoh yang baik ketika Anda menyetir

Mendorong anak-anak untuk menyingkirkan telepon seluler selama mereka berada di dalam mobil sejak mereka SD bisa menjadi kebiasaan yang menyelamatkan nyawanya. Hasil ulasan statistik mencatat bahwa penggunaan gawai adalah gangguan kedua paling utama saat menyetir. Setiap hari, 11 remaja tewas karena mereka menyetir dan mengirim SMS pada saat yang bersamaan. Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua dapat mengajari anak-anaknya untuk tidak menggunakan perangkat elektronik selama mereka duduk di bangku depan. Kursi depan mobil bisa menjadi tempat untuk berbincang alih-alih tempat untuk bermain gawai.

6. Tanamkan tanggung jawab

Mempunyai telepon seluler adalah suatu hak istimewa. Sebagai orang tua, tanamkan kebiasaan menggunakan telepon seluler secara bertanggung jawab. Tunjukkan kepada anak Anda bagaimana cara mengalokasikan waktu daring dengan aplikasi seperti unGlue. Ajarkan juga kepada anak Anda bahwa mendiskusikan permasalahan sosial adalah bagian dari kedewasaan yang dibutuhkan untuk mempunyai telepon seluler sendiri. Pertimbangkan juga pemberian tugas-tugas rumah sebagai cara agar anak Anda bisa mendapatkan giliran untuk menggunakan gawai mereka.

Artikel ini sebelumnya telah ditayangkan oleh The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Santriwati Tidur Digeledah Polisi, KPAI Ungkap Dugaan Penodongan Senjata

Santriwati Tidur Digeledah Polisi, KPAI Ungkap Dugaan Penodongan Senjata

News | Senin, 02 November 2026 | 20:49 WIB

Ahmad Doli Sebut Kekerasan Anak Sudah Darurat: Wake-Up Call buat Kita Semua

Ahmad Doli Sebut Kekerasan Anak Sudah Darurat: Wake-Up Call buat Kita Semua

News | Senin, 02 November 2026 | 17:57 WIB

Soyeon Eks T-ara Hamil Anak Pertama, Umumkan Kabar di Anniversary ke-4

Soyeon Eks T-ara Hamil Anak Pertama, Umumkan Kabar di Anniversary ke-4

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 13:57 WIB

Dari Wishlist hingga Checkout, Lagu no na x Shopee Jadi Soundtrack Kehidupan Para Shopping Lovers!

Dari Wishlist hingga Checkout, Lagu no na x Shopee Jadi Soundtrack Kehidupan Para Shopping Lovers!

News | Senin, 02 November 2026 | 09:00 WIB

Belajar dari Kasus Madiun: Mengapa Orang 'Pintar' Seperti Dwi Bagus Bisa Berbuat Sadis?

Belajar dari Kasus Madiun: Mengapa Orang 'Pintar' Seperti Dwi Bagus Bisa Berbuat Sadis?

News | Senin, 02 November 2026 | 08:05 WIB

Film Pendek Heartbeat Tayang di Netflix, Angkat Isu Depresi dari POV Anak

Film Pendek Heartbeat Tayang di Netflix, Angkat Isu Depresi dari POV Anak

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 12:30 WIB

Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?

Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 18:40 WIB

Cara Membuat Paspor Anak Terbaru: Syarat Lengkap, Biaya, dan Prosedurnya

Cara Membuat Paspor Anak Terbaru: Syarat Lengkap, Biaya, dan Prosedurnya

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 12:29 WIB

Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret

Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 15:30 WIB

Ratusan Rider Cilik Adu Cepat di JMTB Pushbike Competition 2026: Semua Bawa Pulang Trofi!

Ratusan Rider Cilik Adu Cepat di JMTB Pushbike Competition 2026: Semua Bawa Pulang Trofi!

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 08:37 WIB

Terkini

OJK Satukan Regulasi Sektor Keuangan Syariah, Perbankan hingga Fintech

OJK Satukan Regulasi Sektor Keuangan Syariah, Perbankan hingga Fintech

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 23:42 WIB

Shin Tae-yong Absen Karena Sakit Hadapi PSMS, Persija Incar Kemenangan Perdana di League Cup

Shin Tae-yong Absen Karena Sakit Hadapi PSMS, Persija Incar Kemenangan Perdana di League Cup

Bola | Senin, 02 November 2026 | 23:25 WIB

Puluhan UMKM Pulo Panjang Dapat Bantuan Peningkatan Produksi dan Pemasaran

Puluhan UMKM Pulo Panjang Dapat Bantuan Peningkatan Produksi dan Pemasaran

Banten | Senin, 02 November 2026 | 23:08 WIB

QRIS Error, Nasabah MNC Bank Panik Tarik Tunai Dibatasi Maksimal Rp2 Juta

QRIS Error, Nasabah MNC Bank Panik Tarik Tunai Dibatasi Maksimal Rp2 Juta

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 23:08 WIB

Anggota DPRD Kota Serang Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan, Korban Mengaku Dua Kali Dilecehkan

Anggota DPRD Kota Serang Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan, Korban Mengaku Dua Kali Dilecehkan

Banten | Senin, 02 November 2026 | 23:05 WIB

Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti

Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti

Sumsel | Senin, 02 November 2026 | 23:02 WIB

Kapolres Bogor Bantah Pelaku Pembunuhan Bobotoh Suporter Persikabo: Bukan Suporter Klub Mana Pun

Kapolres Bogor Bantah Pelaku Pembunuhan Bobotoh Suporter Persikabo: Bukan Suporter Klub Mana Pun

Jabar | Senin, 02 November 2026 | 22:57 WIB

Aturan Baru Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Meluncur 2027?

Aturan Baru Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Meluncur 2027?

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 22:52 WIB

KPK Sita Rp106,3 Miliar di Kasus ATR/BPN, Kuasa Hukum Summarecon Buka Suara

KPK Sita Rp106,3 Miliar di Kasus ATR/BPN, Kuasa Hukum Summarecon Buka Suara

Bogor | Senin, 02 November 2026 | 22:49 WIB

Kapolda Banten Larang Polisi dan Tamu Ngevape di Kantor Kepolisian, Pelanggar Terancam Sanksi

Kapolda Banten Larang Polisi dan Tamu Ngevape di Kantor Kepolisian, Pelanggar Terancam Sanksi

Banten | Senin, 02 November 2026 | 22:39 WIB

×