- Kemensos memprioritaskan penyaluran Jatah Hidup tahap ketiga bagi 41.555 jiwa korban banjir di Tapanuli Tengah.
- Pemerintah mengalokasikan anggaran Jadup lebih dari Rp56 miliar dan Rp16 miliar untuk bantuan isi hunian.
- Sinkronisasi data dilakukan untuk mencegah ketimpangan penyaluran bantuan kepada warga terdampak bencana banjir tersebut.
Suara.com - Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan penyaluran Jatah Hidup (Jadup) tahap ketiga untuk warga terdampak bencana di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menjadi prioritas utama.
Langkah ini diambil untuk memperluas cakupan penerima, terutama bagi warga yang hingga kini belum tersentuh bantuan pemerintah.
Kepastian tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu di Kantor Kemensos, Jakarta.
"Kita terus berkoordinasi, berkolaborasi untuk menanggulangi dampak bencana beberapa waktu yang lalu," kata Gus Ipul, Kamis (17/9/2026).
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono merinci, alokasi anggaran Jadup untuk Tapanuli Tengah disiapkan sebesar lebih dari Rp56 miliar yang menyasar 41.555 jiwa.
Selain Jadup, pemerintah juga mengucurkan anggaran Rp16 miliar untuk bantuan isi hunian bagi 5.626 kepala keluarga (KK).
Agus Jabo menegaskan bahwa fokus utama pada tahap ketiga ini adalah sinkronisasi data. Kemensos dan pemerintah daerah bakal menyepadankan data penerima bantuan isi hunian dengan data penerima Jadup.
Pencocokan data ini krusial agar tidak ada ketimpangan penyaluran, seperti warga yang menerima bantuan ganda, sementara korban lain justru belum mendapat bantuan sama sekali.
Dalam skema penanganan ini, penyaluran bantuan harus melalui tiga tahapan ketat, mulai dari pendataan awal, dilanjutkan verifikasi, dan diakhiri validasi di lapangan sebelum anggaran dicairkan ke rekening atau dikirim langsung ke penerima manfaat.
Diketahui, banjir sempat melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, pada Minggu (13/9) lalu setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
![Ilustrasi penerima bantuan pemerintah [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/21/92911-ilustrasi-penerima-bantuan-pemerintah.jpg)
BNPB mencatat tiga wilayah terdampak, yakni Kelurahan Sipange di Kecamatan Tukka, Kelurahan Lopian di Kecamatan Badiri, dan Kelurahan Sarudik di Kecamatan Sarudik.
Sebanyak 30 warga mengungsi ke Gereja HKBP Sipange, sementara banjir dilaporkan berangsur surut pada malam hari. BNPB tetap meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan karena hujan deras masih berpotensi terjadi.
Bencana tersebut terjadi ketika Tapteng masih menjalani proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir sebelumnya. Pemerintah tengah memperkuat sistem pengendalian air dan sedimen di kawasan hulu, antara lain melalui pembangunan sabo dam di Kecamatan Tukka, normalisasi sungai, serta pembangunan dinding penahan sepanjang 1,6 kilometer.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebut penguatan kawasan hulu diperlukan untuk mengurangi risiko aliran air dan material kembali menerjang permukiman saat hujan deras.