Kebodohan Terbesar Ilmuwan: Pembagian Manusia Berdasarkan Ras

Liberty Jemadu

Minggu, 19 Mei 2019 | 02:15 WIB
Kebodohan Terbesar Ilmuwan: Pembagian Manusia Berdasarkan Ras
Ilustrasi empat orang anak dengan warna kulit berbeda. [Shutterstock]

Suara.com - Sains (ilmu pengetahuan) merupakan salah satu penemuan umat manusia yang paling luar biasa. Ia telah menjadi sumber inspirasi dan pemahaman, telah menyingkap tabir kebodohan dan takhayul, menjadi katalisator perubahan sosial dan pertumbuhan ekonomi, serta menyelamatkan banyak nyawa.

Namun, sejarah juga menunjukkan kepada kita bahwa sains tidak sepenuhnya menjadi berkah. Beberapa temuan sains telah menimbulkan lebih banyak kerusakan daripada kebaikan. Terdapat satu kesalahan yang tidak akan pernah Anda temukan dalam daftar kesalahan terbesar sepanjang masa di internet.

Kesalahan terburuk dalam sejarah sains tidak diragukan lagi adalah pengklasifikasian manusia ke dalam ras-ras yang berbeda.

Sekarang, ada beberapa pesaing besar untuk gelar yang meragukan ini. Kesalahan besar seperti penemuan senjata nuklir, bahan bakar fosil, CFC (klorofluorokarbon), bensin bertimbal, dan DDT (zat yang digunakan untuk pestisida). Dan teori-teori lemah dan temuan-temuan meragukan seperti eter luminiferous, bumi yang mengembang, vitalisme, teori tabula rasa, frenologi, dan Manusia Piltown, sebagai contohnya.

Akan tetapi teori ras menonjol di antara mereka semua karena telah menimbulkan kesengsaraan yang tak terbilang dan telah digunakan untuk membenarkan tindakan biadab mulai dari penjajahan, perbudakan, hingga genosida. Bahkan hari ini teori tersebut masih digunakan untuk menimbulkan ketidaksetaraan sosial, dan terus menginspirasi kebangkitan kelompok ekstremis kanan di seluruh dunia. Kasus terakhir tampak dalam serangan terorisme yang dilakukan oleh penganut supremasi kulit putih di Selandia Baru Maret lalu.

Sebagai contoh lainnya, kontroversi yang melingkupi buku Nicholas Wade pada 2014, A Troublesome Inheritance, jika Anda ragu untuk sesaat bahwa sentimen berbasis ras masih dimiliki sebagian orang.

Ras manusia diciptakan oleh para antropolog seperti Johann Friedrich Blumenbach pada abad ke-18 dalam upaya untuk mengkategorikan kelompok orang baru yang ditemui dan dieksploitasi sebagai bagian dari kolonialisme Eropa yang semakin berkembang.

Sejak awal, sifat pengkategorian ras yang berubah-ubah dan subyektif diakui secara luas. Seringkali, ras dibenarkan atas dasar perbedaan budaya atau bahasa antara kelompok orang daripada perbedaan yang biologis.

Keberadaan mereka dianggap sebagai pemberian sampai abad ke-20 ketika para antropolog sibuk menjadikan ras sebagai penjelasan biologis bagi perbedaan-perbedaan psikologis, kecerdasan, pendidikan dan sosial ekonomi suatu kelompok tertentu.

Namun, muncul kegelisahan tentang ras dan keyakinan luas bahwa kategori berdasarkan ras pada praktiknya sangat sulit untuk diterapkan.

Salah satu kritikus terhadap teori rasial yang terkenal adalah antropolog Amerika Ashley Montagu yang menulis pada 1941: “Telur dadar yang dinamakan ‘ras’ tidak diakui di luar penggorengan statistik dan keberadaannya telah dikurangi oleh panasnya imajinasi antropologis”“.

Jika ras masih dibicarakan hingga hari ini di depan umum dan secara politik, apa yang para ilmuwan pikirkan tentang hal itu? Apakah para antropolog khususnya percaya bahwa ras itu masih valid?

Sebuah survei baru yang melibatkan lebih dari 3.000 antropolog oleh Jennifer Wagner dari Geisinger Health System dan timnya baru-baru ini diterbitkan dalam Jurnal Antropologi Fisika Amerika. Survei tersebut menawarkan beberapa pengetahuan berharga tentang pandangan dan keyakinan mereka.

Orang-orang yang disurvei adalah anggota Asosiasi Antropologi Amerika, badan profesional antropolog terbesar di dunia.

Mereka diminta untuk menanggapi 53 pernyataan tentang ras yang mencakup topik-topik seperti apakah ras itu nyata, jika ras ditentukan oleh biologi, apakah ras harus berperan dalam kedokteran, peran ras dan keturunan dalam pengujian genetik komersial, dan jika istilah ras harus terus digunakan.

Respons yang paling menonjol adalah terhadap pernyataan, "Populasi manusia mungkin dapat dibagi menjadi ras-ras biologis”, dengan 86% responden menjawab sangat tidak setuju atau tidak setuju.

Untuk pernyataan ini, “Kategori ras ditentukan oleh biologi”, 88% menjawab sangat tidak setuju atau tidak setuju. Dan, “Sebagian besar antropolog percaya bahwa manusia mungkin dapat dibagi lagi menjadi ras-ras biologis”, 85% responden sangat tidak setuju atau tidak setuju.

Hal yang dapat kita ambil dari temuan ini adalah adanya konsensus yang jelas di antara para antropolog bahwa ras tidak nyata, bahwa mereka tidak mencerminkan kebenaran biologis, dan bahwa sebagian besar antropolog tidak percaya kategori ras memiliki tempat dalam sains.

Akan tetapi, terkubur dalam hasil survei itu adalah beberapa temuan yang meresahkan seperti fakta bahwa antropolog berasal dari kelompok yang mendapatkan perlakuan khusus-dalam konteks AS laki-laki dan perempuan ‘kulit putih’-cenderung lebih menerima ras sebagai valid daripada kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan istimewa.

Para ilmuwan yang diperlakukan istimewa ini mewakili 75% dari antropolog yang disurvei. Kekuatan dan pengaruh mereka menjangkau jauh hingga menyeberangi bidangnya. Mereka adalah orang-orang penting yang menentukan penelitian apa yang dilakukan, siapa yang mendapatkan dana, serta mereka melatih generasi antropolog berikutnya, dan merupakan wajah publik dari bidang ini serta para ahli yang pendapatnya dicari pada isu-isu terkait ras.

Pesan yang dibawa pulang jelas. Seperti orang lain, para antropolog jauh dari kebal terhadap bias yang tidak disadari, terutama efek status sosial dan budaya dalam membentuk kepercayaan kita pada isu-isu seperti ras.

Ironisnya mungkin, kita sebagai antropolog, sebagai suatu disiplin, perlu untuk bekerja lebih keras dalam menantang pandangan kita sendiri yang dipegang kuat dan tertanam secara budaya, serta memberikan suara yang lebih besar kepada para ilmuwan dari kelompok yang secara historis tidak berasal dari kelompok yang diistimewakan.

Meski begitu, survei tersebut membuat pernyataan yang sangat kuat. Ini adalah penolakan besar terhadap ras oleh para ilmuwan yang disiplinnya menemukan sistem klasifikasi ras itu sendiri.

Hal ini juga menandai penerimaan yang hampir universal oleh para antropolog tentang bukti genetik selama beberapa dekade yang menunjukkan bahwa variasi manusia tidak dapat dikelompokkan menjadi kategori yang disebut ras.

Melangkah keluar dari “menara gading” saya, saya masih belum bisa melihat kelas politik atau komunitas mengadopsi pandangan kuat yang menentang ras dalam waktu dekat.

Artikel ini sebelumnya sudah ditayangkan oleh The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Misteri Rumah Berhantu Mulai Terkuak, Ilmuwan Temukan Pemicu Tak Kasat Mata

Misteri Rumah Berhantu Mulai Terkuak, Ilmuwan Temukan Pemicu Tak Kasat Mata

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 10:42 WIB

Ilmuwan AS Tewas dan Hilang Beruntun, dari Peneliti Nuklir hingga Pengamat UFO

Ilmuwan AS Tewas dan Hilang Beruntun, dari Peneliti Nuklir hingga Pengamat UFO

Tekno | Jum'at, 24 April 2026 | 18:41 WIB

Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS

Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:41 WIB

Gedung Putih Mencari Benang Merah di Balik Kematian Jenderal dan Ilmuwan Nuklir AS William McCasland

Gedung Putih Mencari Benang Merah di Balik Kematian Jenderal dan Ilmuwan Nuklir AS William McCasland

News | Jum'at, 24 April 2026 | 12:59 WIB

11 Ilmuwan Nuklir Tewas Misterius, DPR AS Bakal Periksa Kementerian Perang

11 Ilmuwan Nuklir Tewas Misterius, DPR AS Bakal Periksa Kementerian Perang

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:27 WIB

Seram! Ilmuwan Penting AS Menghilang Satu per Satu, Gedung Putih Desak FBI Usut Tuntas

Seram! Ilmuwan Penting AS Menghilang Satu per Satu, Gedung Putih Desak FBI Usut Tuntas

News | Minggu, 19 April 2026 | 16:40 WIB

10 Fakta Ilmuwan Nuklir AS yang Tewas Misterius: Raib saat Mendaki hingga Konspirasi UFO

10 Fakta Ilmuwan Nuklir AS yang Tewas Misterius: Raib saat Mendaki hingga Konspirasi UFO

News | Sabtu, 18 April 2026 | 18:08 WIB

Kontraktor Nuklir AS Hilang Tanpa Jejak, Publik Tuding Negara Pelakunya

Kontraktor Nuklir AS Hilang Tanpa Jejak, Publik Tuding Negara Pelakunya

News | Sabtu, 18 April 2026 | 17:38 WIB

Misteri Tewasnya 11 Ilmuwan Nuklir AS, Trump Berharap Kebetulan, FBI Bongkar Fakta Ini

Misteri Tewasnya 11 Ilmuwan Nuklir AS, Trump Berharap Kebetulan, FBI Bongkar Fakta Ini

News | Sabtu, 18 April 2026 | 17:16 WIB

Sosok Steven Garcia: Hilang Misterius, Disebut Punya Akses ke Fasilitas Nuklir Rahasia

Sosok Steven Garcia: Hilang Misterius, Disebut Punya Akses ke Fasilitas Nuklir Rahasia

News | Sabtu, 18 April 2026 | 13:50 WIB

Terkini

Krisis Otomotif Paksa Volkswagen Sulap Pabrik Mobil Jadi Fasilitas Militer

Krisis Otomotif Paksa Volkswagen Sulap Pabrik Mobil Jadi Fasilitas Militer

Otomotif | Rabu, 09 September 2026 | 17:15 WIB

Jangan Asal Viral! Peringatan Keras Komdigi untuk Para Kreator Konten di Era AI

Jangan Asal Viral! Peringatan Keras Komdigi untuk Para Kreator Konten di Era AI

Your Say | Rabu, 09 September 2026 | 17:13 WIB

Kortastipidkor Temukan Sejumlah Masalah Kopdes Merah Putih, Transparansi Pengadaan Dinilai Minim

Kortastipidkor Temukan Sejumlah Masalah Kopdes Merah Putih, Transparansi Pengadaan Dinilai Minim

News | Rabu, 09 September 2026 | 17:13 WIB

Rektor Unhas: Tuntaskan Pengeboman Ikan

Rektor Unhas: Tuntaskan Pengeboman Ikan

Sulsel | Rabu, 09 September 2026 | 17:08 WIB

Rupiah Paling Berotot se-Asia Hari Ini, Ditutup ke Level Rp17.511

Rupiah Paling Berotot se-Asia Hari Ini, Ditutup ke Level Rp17.511

Bisnis | Rabu, 09 September 2026 | 17:06 WIB

Cerai Berujung Bayar Rp28 Triliun, Bos Game Korea Serahkan 35 Persen Saham ke Mantan Istri

Cerai Berujung Bayar Rp28 Triliun, Bos Game Korea Serahkan 35 Persen Saham ke Mantan Istri

Entertainment | Rabu, 09 September 2026 | 17:03 WIB

Ada 3 Bakteri Patogen di Menu MBG Karo, Dokter Bedah Sebut Bisa Picu Komplikasi Berat pada Siswa

Ada 3 Bakteri Patogen di Menu MBG Karo, Dokter Bedah Sebut Bisa Picu Komplikasi Berat pada Siswa

Lifestyle | Rabu, 09 September 2026 | 17:01 WIB

TV Layar Besar Makin Diminati, Sharp Gabungkan Teknologi dan Layanan Premium

TV Layar Besar Makin Diminati, Sharp Gabungkan Teknologi dan Layanan Premium

Tekno | Rabu, 09 September 2026 | 17:00 WIB

Ulasan Buku Peter Pan: Ketika Kita Terlalu Takut untuk Menjadi Dewasa

Ulasan Buku Peter Pan: Ketika Kita Terlalu Takut untuk Menjadi Dewasa

Your Say | Rabu, 09 September 2026 | 17:00 WIB

5 Fakta Wartawan Hilang Kontak Saat Liput Erupsi Gunung Anak Krakatau

5 Fakta Wartawan Hilang Kontak Saat Liput Erupsi Gunung Anak Krakatau

Jabar | Rabu, 09 September 2026 | 16:58 WIB

×