Bank Sperma dengan HIV Positif Pertama di Dunia Telah Dibuka

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Bank Sperma dengan HIV Positif Pertama di Dunia Telah Dibuka
Ilustrasi seorang lelaki di laboratorium. [Shutterstock]

Bank sperma ini menerima donor dari lelaki yang hidup dengan HIV tetapi memiliki viral load yang tidak terdeteksi.

Suara.com - Sebuah bank sperma dengan HIV positif pertama di dunia telah dibuka secara resmi dan berlokasi di Selandia Baru.

Proyek yang disebut Sperm Positive ini, telah menerima donor dari lelaki yang hidup dengan HIV tetapi memiliki viral load yang tidak terdeteksi.

Dengan kata lain, lelaki tersebut telah menerima pengobatan antiretroviral dan tingkat HIV dalam darahnya sangat rendah, sehingga tidak dapat dideteksi melalui tes darah. Meskipun secara teknis ia masih HIV postif, tetapi lelaki itu tidak dapat menularkan virus ke pasangan secara seksual.

"Bank sperma HIV positif sangat aman," ucap Dr. Mark Thomas, seorang dokter penyakit menular di Universitas Auckland, seperti yang dilansir laman IFL Science.

Menariknya, bank sperma ini tetap melakukan pendonoran dan mencari penerima serta donor yang sesuai. Namun, penerima donor sperma akan diberitahu bahwa sperma tersebut memiliki HIV positif tapi dengan viral load yang tidak terdeteksi berkat pengobatan yang sedang berlangsung.

"Saya ingin orang-orang tahu bahwa hidup tidak akan berhenti setelah didiagnosis HIV dan aman untuk memiliki anak jika Anda sedang menjalani pengobatan," ucap Damien Rule-Neal, salah satu dari tiga donor pertama.

Bank sperma dengan HIV positif ini diresmikan tepat sebelum Hari AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember oleh New Zealand Aids Foundation, Positive Women Inc, dan Body Positive, dengan harapan menghapus stigma buruk mengenai penderita HIV positif. Mereka juga berharap memberi peluang orang yang hidup dengan HIV dan kualitas hidup yang sama dengan orang lain yang tidak terinfeksi.

"Saya tahu banyak lelaki yang hidup dengan HIV akan menjadi ayah yang hebat. Saya pikir bank sperma dengan HIV positif adalah ide yang bagus karena memberi semua orang, termasuk penderita HIV positif, kegembiraan untuk menjadi orang tua," tambah Dr. Thomas.

Ilustrasi virus HIV. (Shutterstock)
Ilustrasi virus HIV. (Shutterstock)

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 37,9 juta orang telah hidup dengan HIV pada akhir 2018 dan lebih dari dua pertiganya tinggal di Afrika.

Meski tidak ada obat untuk infeksi HIV, tapi lewat proyek ini dengan obat antiretroviral yang efektif, dapat mengendalikan virus dan membantu mencegah penularan kepada orang lain. Selain itu, juga memungkinkan banyak orang yang hidup dengan HIV untuk hidup lebih lama dan bahagia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS