Menyimpan Sel Telur dan Sperma Beku, Apa Keuntungannya?

Vania Rossa | Dini Afrianti Efendi
Menyimpan Sel Telur dan Sperma Beku, Apa Keuntungannya?
Ilustrasi sel sperma dan sel telur (Shutterstock).

Beberapa kondisi berikut akan diuntungkan dengan menyimpan sel telur atau sperma beku.

Suara.com - Berbicara bayi tabung, memang tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih memandangnya sebagai hal yang tabu, karena berhubungan dengan area pribadi. Tapi teknologi ini sudah diizinkan di Indonesia, termasuk penyimpanan sel telur dan sperma untuk digunakan nanti.

"Kita baru mulai (penyimpanan sel telur dan sperma). Seperti bayi tabung dulu, egg banking sekarang masih tabu," ujar Prof. drh. Arief Boediono, PhD, seorang ahli embrio, ketika ditemui di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2019)

Tapi yang jadi masalah, khusus untuk perempuan, saat proses pengambilan sel telur akan merusak selaput dara, alias merusak virginitas. Padahal, usia produktif yang belum menikah atau belum ingin punya anak disarankan menyimpan sel telur karena kualitasnya masih bagus.

"Wanita karier sebelum menikah, kan virginitas masih diutamakan. Sementara untuk pembekuan sel telur, diambilnya harus melalui intra vagina. Itu masih menjadi masalah," jelas Prof. Arief.

Terlepas dari orang muda yang masih sehat dan produktif, siapa saja sebenarnya yang bisa mendapat manfaat besar dari menyimpan sel telur atau sperma beku ini?

1. Pasien kanker
Pengobatan kanker atau kemoterapi bisa jadi akan merusak sel telur maupun sperma. Itu sebabnya, pada penderita sel kanker, disarankan jika memang ada kemungkinan sembuh dan ingin punya anak, segeralah menyimpan sel telur dan spermanya lebih dahulu dengan cara dibekukan.

"Jadi sebenarnya banyak pasien kanker baik lelaki maupun perempuan, setelah kemoterapi ternyata sel telur dan spermanya rusak sampai nol. Kalau rusak, nol, ketika menikah ingin punya anak, sudah tidak ada harapan lagi," ungkap Prof. Arief.

Nah, pada fase ini, membekukan sel telur atau sel sperma sangat disarankan. Sehingga nanti setelah sembuh, menikah, dan ingin memiliki anak, sel telur dan sperma yang sudah dibekukan tersebut bisa digunakan kembali melalui proses bayi tabung.

2. Pasangan LDR
Hubungan jarak jauh atau LDR (long distance relationship) bukan hanya melanda sepasang kekasih, tapi juga suami istri. Nah, hal ini biasanya akan menyulitkan pasangan yang sedang menjalani program kehamilan atau memiliki anak. Karena bisa saja ketika suami pulang, ternyata sang istri tidak sedang berada di masa subur.

"Pada keluarga yang suaminya pelaut, atau tentara, saat melakukan program (hamil), yang punya siklus (kesuburan) kan perempuan. Pas program lagi bagus, tapi suaminya nggak ada. Nah, ini bisa digunakan, caranya sperma dibekukan. Jadi pas lagi bagus, bisa dilakukan fertilisasi atau pembuahan, atau penyatuan sel telur dan sperma melalui bayi tabung," tutup Prof. Arief.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS