alexametrics

Yuk, Buat Planet Mirip Bumi 2.0 Versi Suka-suka

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Yuk, Buat Planet Mirip Bumi 2.0 Versi Suka-suka
Ilustrasi Bumi. Shutterstock

Setiap orang dapat membuat Bumi 2.0 versi sendiri dengan situs web Earth-like (mirip Bumi).

Suara.com - Kini, setiap orang dapat membuat Bumi 2.0 versi sendiri dengan situs web Earth-like (mirip Bumi). Kehadiran situs ini untuk menunjukkan berapa banyak planet ekstrasurya, yang disebut sebagai "earth-like" atau mirip Bumi karena ukurannya.

"Sangat menggoda untuk berpikir bahwa ada sebuah planet seukuran Bumi seperti Bumi kita yang dapat dihuni. Tetapi mengubah hanya satu properti planet ini dapat mempengaruhi lingkungan secara signifikan," ucap Kana Ishimaru, seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Arizona.

Ishimaru memimpin pengembangan situs web Earth-like dan Twitterbot dengan nama yang sama saat ia masih seorang mahasiswa sarjana di Universitas Tokyo. Dalam situs web tersebut, pengguna dapat memanipulasi faktor-faktor, termasuk fraksi tanah dan gunung berapi di dalam planet dan di mana planet itu berada dalam zona layak huni. Pengubahan kecil pada interior planet dapat secara dramatis mempengaruhi lingkungan di permukaan planet.

Dari sekian ribu planet ekstrasurya yang ditemukan Teleaskop Luar Angkasa Kepler dan instrumen lainnya, banyak planet yang ditemukan memiliki massa dan ukuran mirip dengan Bumi sehingga sering dikategorikan sebagai "earth-like".

Baca Juga: Anaknya Diberi Tugas Susah, Curhatan Emak-emak Ini Malah Bikin Ngakak

Namun, ada berbagai faktor penting yang sebenarnya membedakan Bumi dari planet-planet tersebut. Penasihat Ishimaru, Elizabeth Tasker, khawatir hanya karena memiliki massa dan ukuran yang sama seperti Bumi, planet ekstrasurya itu terlalu sering dipandang sebagai kembaran Bumi yang sesungguhnya.

Kekhawatiran tersebut yang mendasari pembuatan situs web Earth-like, di mana siapa pun dapat menyelidiki bagaimana perubahan kecil dalam kondisi planet dapat mengubah kelayakhuniannya.

Sebagai contoh, di Bumi sebagian besar karbon disimpan di bebatuan dan sedimen, laut, dan atmosfer. Hujan dapat memulai siklus karbon, karena karvon atmosfer bergabung dengan air yang jatuh ke permukaan.

Asam yang dihasilkan dapat melarutkan batuan melalui pelapukan kimia untuk melepaskan berbagai ion. Ion-ion tersebit dibawa ke laut, di mana kalsium dan ion karbon bergabung membentuk kalsium karbonat.

Di laut, organisme juga dapat menghasilkan kalsium karbonat yang dapat disatukan dan berubah menjadi batuan setelah organisme itu mati. Sementara, lempeng tektonik dapat mengubuh satu lapisan batu yang kaya karbon di bawah lapisan lain dan membuatnya meleleh di bawah tekanan yang ekstrem dan melepaskan karbon dioksida. Kemudian, gunung berapi yang meletus membawa gas karbon ke permukaan dan kembali ke atmosfer, tempat siklus tersebut dimulai kembali.

Baca Juga: Mantan Astronot NASA Sebut COVID-19 Lebih Berbahaya daripada Misi Antariksa

Situs web Earth-like ini memungkinkan pengguna bermain-main dengan daratan dan vulkanisme planet. Selain itu, pengguna juga dapat menggerakkan planet mendekat atau menjauh dari bintangnya untuk melihat opsi lain dari kustomisasi planet.

Komentar