Peneliti Sebut Kehilangan Penciuman karena Covid-19 Bisa Jadi Hal Baik?

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Peneliti Sebut Kehilangan Penciuman karena Covid-19 Bisa Jadi Hal Baik?
Ilustrasi indera penciuman. (Pixabay)

Para peneliti mengklaim bahwa kehilangan penciuman sebenarnya bisa menjadi hal yang baik bagi pasien positif Covid-19.

Suara.com - Virus Corona (Covid-19) diketahui memiliki serangkaian gejala yang tidak menyenangkan, mulai dari batuk kering hingga kehilangan fungsi indera penciuman.

Namun sekarang, para peneliti mengklaim bahwa kehilangan penciuman sebenarnya bisa menjadi hal yang baik bagi pasien positif Covid-19.

Para peneliti dari UC San Diego Health mengatakan bahwa hilangnya penciuman menandakan pasien akan terserang penyakit yang lebih ringan.

"Normosmia atau indera penciuman normal adalah prediktor independen untuk masuk dalam kasus Covid-19. Dalam penelitian sebelumnya, kami menemukan bahwa kehilangan fungsi penciuman adalah gejala awal yang umum, setelah demam dan kelelahan. Yang penting dalam temuan baru ini adalah kehilangan penciuman mungkin merupakan prediktor bahwa infeksi Covid-19 tidak akan separah ini dan kecil kemungkinannya memerlukan rawat inap," ucap Dr Carol Yan, peneliti yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari Mirror, Rabu (27/5/2020).

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis 169 pasien yang positif virus Corona antara 3 Maret dan 8 April.

Dari 169 pasien yang dianalisis, sebanyak 26 orang dirawat di rumah sakit. Namun, analisis mengungkapkan bahwa pasien-pasien ini secara signifikan lebih kecil kemungkinannya memiliki kehilangan penciuman atau kehilangan indera pengecap dibandingkan pasien yang tidak dirawat di rumah sakit.

Ilustrasi virus corona. [Shutterstock]
Ilustrasi virus corona. [Shutterstock]

"Pasien yang memiliki gejala kehilangan penciuman 10 kali lebih kecil kemungkinan untuk dirawat karena Covid-19 dibandingkan dengan mereka yang tidak kehilangan penciuman," kata Dr Adam DeConde, seorang penulis senior penelitian ini.

Meski asalan untuk temuan ini masih belum jelas, para peneliti mengatakan bahwa virus awalnya terkonsentrasi di hidung dan saluran napas bagian atas, di mana itu akan berdampak pada indera penciuman dan menghasilkan infeksi yang lebih ringan daripada kasus di mana virus telah mencapai paru-paru.

Penelitian ini dilakukan tidak lama setelah kehilangan penciuman ditambahkan sebagai gejala atau tanda peringatan dini dalam Covid-19, selain demam dan batuk terus-menerus. Pedoman di Inggris menyarankan orang yang memiliki salah satu dari tiga gejala tersebut harus mengisolasi diri selama tujuh hari.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS