![CEO Apple, Tim Cook dalam ajang WWDC 2020. [Apple]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/06/23/50963-ceo-apple-tim-cook.jpg)
Namun, Apple membuat peralihan dari iPhone ke Android tampak sangat jelas berbeda. Selain itu, tidak banyak aplikasi seluler untuk toko Windows Mobile yang sekarang sudah tidak berfungsi, apalagi Xbox atau PlayStation.
Perusahaan-perusahaan ini tahu bahwa pengguna didorong oleh kenyamanan dan menggunakan kekuatan itu atas pilar kehidupan digital pengguna untuk membuatnya tidak nyaman beralih ke tempat lain.
3. Perusahaan teknologi tidak sebesar itu
Banyak perusahaan teknologi "merendah" dengan mengatakan bahwa perusahaannya bukanlah apa-apa jika dibandingkan yang lainnya.
Jeff Bezos, CEO Amazon, mengatakan bahwa Amazon hanya menyumbang kurang dari 1 persen dari 25 triliun dolar AS di pasar ritel global dan kurang dari 4 persen ritel di Amerika Serikat.
Namun menurut firma riset eMarketer, Amazon menyumbang 38 persen dari semua belanja online di Amerika Serikat.
Hal itu juga terjadi pada Facebook, di mana Zuckerberg menyarankan agar Facebook bersaing dengan semua produk yang menghubungkan orang, tidak hanya perusahaan jejaring sosial.
Nyatanya, Facebook merupakan satu-satunya jejaring sosial yang digunakan oleh 69 persen orang Amerika Serikat, disusul Instagram yang digunakan 37 persen orang dewasa di Amerika Serikat.
4. Hanya memberikan informasi yang "paling relevan"
Google ingin pengguna percaya bahwa produknya hanya menarik minat pengguna.
![Logo Google. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/04/30/44540-logo-google.jpg)
"Kami selalu fokus untuk memberikan informasi yang paling relevan kepada pengguna dan kami mengandalkan kepercayaan tersebut bagi pengguna untuk kembali ke Google setiap hari," kata Pichai.
Namun Rep. David N. Cicilline (D-R.I.) menegaskan bahwa model bisnis Google sebenarnya didorong untuk hanya menunjukkan "apa pun yang paling menguntungkan bagi Google".
Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh outlet berita pengawas teknologi Markup menemukan bahwa lebih dari 15.000 kueri populer seperti "penyakit Alzheimer" Google, mencurahkan 41 persen halaman pertama hasil penelusuran seluler ke situsnya sendiri dan itu disebutnya sebagai "jawaban langsung", termasuk informasi lain yang disalin dari sumber lain.
Juru bicara Google Lara Levin mengatakan kepada Markup bahwa outlet itu seharusnya tidak menghitung "jawaban" sebagai "Google".
Meski begitu, Markup melaporkan Google menghasilkan pendapatan lima kali lebih banyak melalui iklan di situsnya sendiri daripada menjual ruang iklan di situs luar.
5. Media sosial tidak mengambil keuntungan dari informasi berbahaya
Mark Zuckerberg setuju bahwa jejaring sosial memiliki tanggung jawab untuk membatasi penyebaran konten yang dapat merugikan masyarakat.
Namun hal itu menjadi pertanyaan, mengapa kesalahan informasi sangat sering menjadi konten yang paling banyak dilihat dan paling terlibat di Facebook.
Terbaru, sebuah video viral yang mengklaim obat palsu untuk virus Corona (Covid-19) telah ditonton 20 juta kali di jejaring sosial sebelum Facebook menghapusnya.
Bisnis Facebook dibangun berdasarkan perhatian pengguna, ketika pengguna membuka aplikasi atau situs web dan menayangkan iklan.
![CEO Facebook, Mark Zuckerberg. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/08/10/73996-ceo-facebook-mark-zuckerberg.jpg)
Menurut Cicilline, bisnis Facebook memprioritaskan keterlibatan untuk membuat pengguna tetap di platform untuk menayangkan lebih banyak iklan.
Saat kepemilikan Facebook atas Instagram dan WhatsApp menjadi topik hangat, Zuckerberg juga mengatakan bahwa skala besar ini membantunya menemukan dan menghapus informasi berbahaya.
Namun, Cicilline berpendapat Facebook mungkin akan melakukan tugasnya lebih baik jika memiliki persaingan dari Instagram dan WhatsApp untuk menangani masalah secara berbeda.