Satu Setengah Abad The Malay Archipelago: Buku Tentang Nusantara yang Mengguncang Dunia Sains

Liberty Jemadu

Rabu, 13 April 2022 | 21:57 WIB
Satu Setengah Abad The Malay Archipelago: Buku Tentang Nusantara yang Mengguncang Dunia Sains
Potret Alfred Russel Wallace dalam pameran Wallacea Week 2017 yang digelar di Perpustakaan Nasional RI Jakarta. (Suara.com/Risna Halidi)

Selain itu, Wallace juga terilhami dari kecenderungan perubahan secara gradual terhadap spesies yang ia temui antara kompleks kepulauan satu dengan yang lain. Misalnya, ia menjumpai bagaimana kupu-kupu yang mengalami modifikasi sayap di tiap kepulauan.

Hal ini menurutnya disebabkan oleh tekanan jumlah pemangsa yang berbeda di tiap kompleks kepulauan sehingga mendorong seleksi modifikasi bentuk sayap kupu-kupu. Pemikiran tersebut dapat kita analogikan dengan pengamatan Darwin di Kepulauan Galapagos terhadap paruh burung Finch serta pengamatannya terhadap seleksi buatan burung merpati di London.

Pada Januari 1858 ketika Wallace bermukim di Ternate dan terserang penyakit malaria, ia menulis sebuah esai dan mengirimkannya dalam bentuk surat kepada sahabat penanya yaitu Charles Darwin. Tulisan ini guna memperkuat artikel yang ia tulis sebelumnya, yang terkenal dengan “Sarawak Law”. Wallace berharap Darwin akan mengirim tulisan tersebut kepada ilmuwan geografi terkemuka pada saat itu, Charles Lyell untuk diulas.

Namun alangkah terkejutnya Darwin ketika membaca tulisan Wallace yang memiliki ide sama seperti dirinya mengenai proses seleksi alam dan teori evolusi.

Oleh karena itu pada 1 Juli 1858, sebuah presentasi atas nama Darwin dan Wallace yang dimoderatori oleh Charles Lyell digelar di hadapan Linnean Society of London untuk mempresentasikan karya ilmiah keduanya. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai awal mula revolusi ide seleksi alam dan evolusi.

Catatan persatuan dan kearifan masyarakat Nusantara

Selain catatan tentang kondisi biodiversitas dan geografi Kepulauan Nusantara, Wallace juga memberikan catatan penting tentang masyarakat pra-Indonesia di dalam buku The Malay Archipelago. Hal ini yang sering terlewatkan karena buku ini sering dianggap sebagai buku sains klasik saja oleh sebagian besar orang.

Padahal Wallace mencatatkan secara detail perilaku masyarakat, adat, dan kebudayaan yang dijumpainya termasuk variasi bahasa dari 59 suku di Kepulauan Nusantara. Walau Wallace masih menggunakan sudut pandang kolonialis, ia tetap menyadari bahwa suku bangsa yang mendiami Kepulauan Nusantara sangat beraneka ragam dan kearifan lokalnya membuat ia kagum.

Seperti ketika Wallace melakukan perjalanan dengan perahu lokal dari Makasar ke Pulau Aru pada 1856. Wallace menuliskan di dalam salah satu bab, bahwa walau di dalam perahu terdapat sekitar 50 orang dengan beraneka ragam suku dan bahasa namun mereka tetap dapat rukun, tidak saling bertengkar dan dapat bekerja sama.

baca juga

Sesampainya di Dobo, Pulau Aru, Wallace menyaksikan komunitas campuran antara masyarakat Papua, Maluku, Melayu, Tionghoa, Bugis dan juga Jawa. Masyarakat yang multikultural tersebut telah lama berinteraksi dalam perdagangan di sana. Ia juga menggambarkan pelbagai aktivitas masyarakat mulai dari pasar yang ramai, sabung ayam, hingga aktivitas salat Jumat di sebuah masjid kampung.

Catatan berharga ini menunjukkan cikal bakal masyarakat Indonesia pada abad ke-19, dari Sabang sampai Merauke, suku bangsa yang berbeda di Kepulauan Nusantara telah berbaur. Sebuah komunitas imajiner – walaupun belum berbentuk sebuah negara – telah mempraktikkan hakikat bhinneka tunggal ika.

Di akhir bukunya, Wallace membuat kesimpulan dengan membandingkan kearifan masyarakat asli di Kepulauan Nusantara dengan bangsa Eropa. Menurut dia, di antara penduduk asli yang tertinggal peradabannya dibanding Eropa, ia dapat menemukan pendekatan terhadap kondisi sosial yang sempurna.

Wallace mencatat bahwa masyarakat Nusantara yang pada saat itu tidak memiliki perangkat hukum maupun pengadilan. Namun, setiap opini publik di desa-desa secara bebas dapat dieskpresikan. Tiap orang dengan cermat menghormati hak-hak sesamanya dan pelanggaran apa pun terhadap hak-hak itu jarang atau tidak pernah terjadi.

Wallace pun akhirnya berkesimpulan bahwa pada masa itu bangsa Eropa tidak dapat menyamai moralitas tinggi yang dimiliki oleh masyarakat di Kepulauan Nusantara.

Lebih dari 150 tahun setelah The Malay Archipelago, Wallace telah memberikan catatan dan bukti kuat kepada kita semua bahwa Kepulauan Nusantara tidak hanya indah dan beragam biodiversitasnya namun juga manusianya.

Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Air Kelapa dan Limbah Tahu Bisa Jadi Bahan Sensor untuk Pantau Aktivitas Otot: Bagaimana Caranya?

Air Kelapa dan Limbah Tahu Bisa Jadi Bahan Sensor untuk Pantau Aktivitas Otot: Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 15:55 WIB

Olah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar, Teknologi BRIN Berpotensi Tekan Emisi 79 Persen

Olah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar, Teknologi BRIN Berpotensi Tekan Emisi 79 Persen

News | Selasa, 03 November 2026 | 14:00 WIB

Kurangi Ketergantungan Plastik, BRIN Kembangkan Potensi Kemasan dari Sumber Daya Laut

Kurangi Ketergantungan Plastik, BRIN Kembangkan Potensi Kemasan dari Sumber Daya Laut

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:08 WIB

BRIN Paparkan Riset ke Prabowo: Potensi Limbah Sawit Jadi Listrik

BRIN Paparkan Riset ke Prabowo: Potensi Limbah Sawit Jadi Listrik

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 19:48 WIB

Prabowo Panggil Kepala BRIN ke Istana, Minta Update Perkembangan Riset

Prabowo Panggil Kepala BRIN ke Istana, Minta Update Perkembangan Riset

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:51 WIB

Prabowo Mendadak Panggil Kepala BRIN ke Istana Malam Ini, Ada Apa?

Prabowo Mendadak Panggil Kepala BRIN ke Istana Malam Ini, Ada Apa?

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 18:49 WIB

Prabowo Panggil Sejumlah Menteri Bahas Karhutla, Siapa Saja yang Hadir?

Prabowo Panggil Sejumlah Menteri Bahas Karhutla, Siapa Saja yang Hadir?

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:42 WIB

Kemenyan Berpotensi Jadi Bahan Parfum dan Aromaterapi, Bagaimana Manfaatnya bagi Masyarakat?

Kemenyan Berpotensi Jadi Bahan Parfum dan Aromaterapi, Bagaimana Manfaatnya bagi Masyarakat?

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:10 WIB

Kemensos dan BRIN Tandatangani MoU untuk Perkuat Penyelenggaraan Sekolah Rakyat

Kemensos dan BRIN Tandatangani MoU untuk Perkuat Penyelenggaraan Sekolah Rakyat

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 15:23 WIB

92 Persen Sampah Laut Berakhir di Pantai Indonesia, BRIN Dorong Pencegahan dari Daratan

92 Persen Sampah Laut Berakhir di Pantai Indonesia, BRIN Dorong Pencegahan dari Daratan

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Terkini

Siap Jadi Ketum FKPPI, Titiek Soeharto: Putra-Putri Purnawirawan Harus Dukung Program Prabowo

Siap Jadi Ketum FKPPI, Titiek Soeharto: Putra-Putri Purnawirawan Harus Dukung Program Prabowo

News | Rabu, 04 November 2026 | 23:56 WIB

Menang AMI Awards 2026, Hindia Angkat 3 Jari: Kami Dedikasikan untuk Teman-teman yang Sulit Bernapas

Menang AMI Awards 2026, Hindia Angkat 3 Jari: Kami Dedikasikan untuk Teman-teman yang Sulit Bernapas

Entertainment | Rabu, 04 November 2026 | 23:23 WIB

Menteri Riefky Mabar Bareng Anak SD di Bojonggede, Game Sambal Siap Mendunia

Menteri Riefky Mabar Bareng Anak SD di Bojonggede, Game Sambal Siap Mendunia

Jabar | Rabu, 04 November 2026 | 22:37 WIB

Warisan Bukan Sekadar Harta, Habib Jafar Ingatkan Pentingnya Menjaga Masa Depan Keturunan

Warisan Bukan Sekadar Harta, Habib Jafar Ingatkan Pentingnya Menjaga Masa Depan Keturunan

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 22:16 WIB

HP Disadap Eks Kapolri, Prabowo Ternyata Tahu dari Sosok Ini

HP Disadap Eks Kapolri, Prabowo Ternyata Tahu dari Sosok Ini

News | Rabu, 04 November 2026 | 22:15 WIB

TNI AL Benarkan Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Jumlah Personel Dirahasiakan

TNI AL Benarkan Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Jumlah Personel Dirahasiakan

News | Rabu, 04 November 2026 | 22:05 WIB

Pentingnya Kesehatan Mata Pemain Sepak Bola: Tak Hanya Diukur dari Ketajaman Penglihatan

Pentingnya Kesehatan Mata Pemain Sepak Bola: Tak Hanya Diukur dari Ketajaman Penglihatan

Health | Rabu, 04 November 2026 | 22:05 WIB

Berani Lawan Trump, Inilah Sosok Abdul El-Sayed yang Cetak Rekor Politik AS

Berani Lawan Trump, Inilah Sosok Abdul El-Sayed yang Cetak Rekor Politik AS

News | Rabu, 04 November 2026 | 21:43 WIB

Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba

Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 21:43 WIB

Gerindra Minta Kasus Dugaan Penyadapan Prabowo Diusut Tanpa Intervensi

Gerindra Minta Kasus Dugaan Penyadapan Prabowo Diusut Tanpa Intervensi

News | Rabu, 04 November 2026 | 21:32 WIB

×