- Laporan Lenovo bersama IDC menunjukkan 96% organisasi Asia Pasifik tingkatkan investasi AI rata-rata 15% hingga 2026.
- Fokus bergeser ke AI berbasis dampak terukur, dengan 88% target ROI positif sekitar 2,8 kali lipat pada 2026.
- Arsitektur Hybrid AI dipilih 86% organisasi Asia Pasifik untuk mengintegrasikan cloud, on-premise, dan edge secara efektif.
Adopsi AI di Asia Pasifik kini meluas ke berbagai fungsi bisnis.
![Lenovo CIO Playbook 2026 di Lenovo TechDay '26, Jakarta, Selasa (13/1/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/13/43801-lenovo-cio-playbook-2026.jpg)
Sebanyak 66 persen organisasi telah menguji coba atau mengadopsi AI secara sistematis, sementara sisanya masih berada pada tahap awal atau evaluasi.
Tren serupa terlihat di kawasan ASEAN+, dengan 67 persen organisasi telah mengintegrasikan AI secara sistematis.
AI kini banyak dimanfaatkan di layanan pelanggan, pemasaran, operasional, keuangan, hingga lini bisnis spesifik industri.
Menariknya, setengah dari organisasi yang disurvei menyebut departemen non-IT kini ikut mendanai inisiatif AI, memperkuat peran CIO sebagai penggerak transformasi lintas fungsi.
Agentic AI Jadi Peluang Baru, tapi Tantangan Masih Besar
Laporan ini juga mencatat lonjakan minat terhadap Agentic AI, teknologi AI yang mampu mengambil keputusan dan bertindak secara otonom.
Dalam 12 bulan ke depan, minat terhadap Agentic AI diperkirakan meningkat dua kali lipat.
Saat ini, 21 persen organisasi di Asia Pasifik telah menggunakannya secara signifikan, sementara hampir 60 persen lainnya masih menjajaki atau merencanakan penerapan terbatas, terutama di sektor telekomunikasi, kesehatan, dan pemerintahan.
Baca Juga: CES 2026: LG Perkenalkan AI in Action, AI Nyata Untuk Rumah Sampai Kendaraan
“Agentic AI merepresentasikan pergeseran fundamental dalam cara kecerdasan ditanamkan ke dalam perusahaan,” kata Fan Ho, Executive Director & General Manager, Asia Pacific, Solutions & Services Group, Lenovo.
Meski demikian, kesiapan organisasi masih timpang. Hanya 10 persen perusahaan yang merasa siap mengimplementasikan Agentic AI dalam skala besar.
Sementara isu keamanan, tata kelola, kualitas data, dan kompleksitas integrasi masih menjadi penghambat utama.
Hybrid AI Jadi Arsitektur Standar Perusahaan
Seiring meningkatnya beban kerja AI, strategi infrastruktur menjadi keputusan krusial bagi para CIO.
Sebanyak 86 persen organisasi di Asia Pasifik kini mengadopsi arsitektur hybrid AI, yang mengombinasikan cloud, on-premise, dan edge.