Manfaat Ikan Sapu-Sapu Jadi Sumber Protein di Amazon Tapi Berbahaya di Indonesia

Agung Pratnyawan

Selasa, 21 April 2026 | 11:52 WIB
Manfaat Ikan Sapu-Sapu Jadi Sumber Protein di Amazon Tapi Berbahaya di Indonesia
Bahaya Ikan Sapu-Sapu bagi Ekosistem: Jakarta Basmi Spesies di Sungai (ipb.ac.id)

Suara.com - Ikan sapu-sapu ternyata bisa membuat satu negara 'ribut'. Apakah ada manfaat dari ikan sapu-sapu yang dianggap membahayakan di Indonesia?

Adapun ikan invasif ini memang habitat aslinya bukan perairan Indonesia, sehingga menjadi hama bagi ekosistem sekitar.

Pemusnahan ikan sapu-sapu akhirnya digencarkan oleh pemerintah, termasuk Pemprov DKI Jakarta yang baru-baru ini sedang diterpa angin kontroversi dari Majelis Ulama Indonesia atau MUI.

MUI melalui keterangan resmi sontak menilai bahwa pemusnahan ikan sapu-sapu dengan cara dikubur hidup-hidup seperti yang digencarkan oleh para pemangku kebijakan tak sesuai dengan ajaran Islam.

Tak sedikit pihak yang akhirnya menyarankan agar ikan sapu-sapu dimanfaatkan.

Lantas, apa manfaat ikan sapu-sapu sebenarnya? 

Sebagai hidangan di habitat aslinya

Ikan sapu-sapu sebagai hidangan (Youtube).
Ikan sapu-sapu sebagai hidangan (Youtube).

Habitat ikan yang sering dijuluki sebagai pleco ini adalah di perairan tawar kawasan Amerika Tengah dan Selatan, terutama di sepanjang aliran Sungai Amazon.

Kala hidup di habitat aslinya, ikan ini hidup di sungai-sungai berarus tenang dengan dasar berbatu atau berkayu.

Meskipun di Indonesia ikan ini sering dianggap sebagai "pembersih akuarium" atau ikan sungai yang tercemar, faktanya di negara asalnya seperti Brasil dan Peru, pleco dianggap sebagai komoditas pangan bergizi.

Masyarakat lokal di sana mengolahnya menjadi berbagai santapan lezat, seperti sebagai berikut.

  • Sopa de Carachama: Sup tradisional berbumbu rempah.
  • Pleco bakar: Dimasak langsung di atas bara api.

Dagingnya yang putih dan padat terlindungi oleh sisik keras justru membantu menjaga kelembapan daging saat proses pembakaran.

Jadi, bagi penduduk di Brasil, sapu-sapu bukanlah hama, melainkan sumber protein penting.

Kenapa sapu-sapu di Indonesia tak bisa dimakan?

Meskipun di Amazon ikan ini menjadi hidangan favorit, ikan sapu-sapu di Indonesia terutama yang hidup di wilayah perkotaan sangat berbahaya untuk dikonsumsi.

Penyebab utamanya adalah sifat adaptif mereka yang luar biasa terhadap lingkungan buruk.

Ikan sapu-sapu merupakan penyaring makanan yang sangat kuat.

Saat hidup di sungai-sungai yang tercemar, sapu-sapu menyerap logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium ke dalam daging serta organ tubuhnya.

Ikan ini mengumpulkan polutan dari limbah industri dan domestik di dalam tubuhnya. Sebagian besar populasi di kota besar hidup di air dengan kadar oksigen rendah dan polusi tinggi.

Mengonsumsi ikan ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan keracunan logam berat yang merusak sistem saraf dan organ dalam manusia.

Maka dari itu karena itu, ikan sapu-sapu di Indonesia lebih tepat berfungsi sebagai indikator kebersihan air daripada bahan pangan.

Warga mengangkut ikan sapu-sapu saat operasi pembersihan di Sungai Ciliwung, Cililitan, Jakarta, Jumat (17/4/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom]
Warga mengangkut ikan sapu-sapu saat operasi pembersihan di Sungai Ciliwung, Cililitan, Jakarta, Jumat (17/4/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom]

Sebagai 'tukang bersih-bersih' akuarium

Manfaat yang paling populer dari sapu-sapu selain sebagai makanan perannya sebagai pembersih alami di akuarium terkontrol.

Ikan ini memiliki mulut yang berfungsi seperti alat hisap untuk memakan lumut dan alga yang menempel pada kaca atau dekorasi akuarium.

Kebiasaan ikan ini sangat membantu menjaga kejernihan air tanpa harus terlalu sering menguras tangki secara manual.

Bahan baku industri non-pangan

Karena kandungan protein dan mineralnya yang tinggi, ikan sapu-sapu sering diolah menjadi tepung ikan.

Tepung ini merupakan komponen penting dalam pembuatan pakan ternak (seperti ayam atau bebek) dan pakan ikan budidaya lainnya.

Selain itu, kulitnya yang sangat keras dan bersisik kasar berpotensi untuk dikembangkan dalam industri kerajinan kulit atau gelatin.

Pengendali ekosistem terrkontrol

Saat hidup di lingkungan perairan buatan, ikan ini membantu menekan pertumbuhan populasi alga yang berlebihan (eutrofikasi).

Namun, perlu diingat bahwa pelepasan ikan ini ke sungai liar harus dihindari karena sifatnya yang invasif dapat merusak keseimbangan ekosistem asli.

Kontributor : Armand Ilham

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Selain Ikan Sapu-Sapu, 7 Spesies 'Monster' Ini Juga Merusak Ekosistem Perairan Indonesia

Selain Ikan Sapu-Sapu, 7 Spesies 'Monster' Ini Juga Merusak Ekosistem Perairan Indonesia

Lifestyle | Selasa, 21 April 2026 | 11:16 WIB

4 Ciri-Ciri Siomay yang Pakai Ikan Sapu-Sapu, dari Aroma hingga Harga

4 Ciri-Ciri Siomay yang Pakai Ikan Sapu-Sapu, dari Aroma hingga Harga

Lifestyle | Selasa, 21 April 2026 | 11:08 WIB

Dimusnahkan Pemprov Jakarta, Memangnya Apa Dampak Buruk Ikan Sapu-Sapu Bagi Lingkungan?

Dimusnahkan Pemprov Jakarta, Memangnya Apa Dampak Buruk Ikan Sapu-Sapu Bagi Lingkungan?

Lifestyle | Senin, 20 April 2026 | 13:04 WIB

Terkini

Telkomsel Ungkap 361 BTS Sudah Pakai Energi Terbarukan, Komitmen Hijau Makin Nyata

Telkomsel Ungkap 361 BTS Sudah Pakai Energi Terbarukan, Komitmen Hijau Makin Nyata

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:07 WIB

SheHacks dan AI Jadi Kunci UMKM Perempuan Indonesia Naik Kelas di Era Digital

SheHacks dan AI Jadi Kunci UMKM Perempuan Indonesia Naik Kelas di Era Digital

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 21:23 WIB

Game Silent Hill: Townfall Meluncur 24 September 2026 ke PS5 hingga PC

Game Silent Hill: Townfall Meluncur 24 September 2026 ke PS5 hingga PC

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:34 WIB

Turnamen Yu-Gi-Oh! World Championship 2026 Resmi Dimulai, Tebar Hadiah Gratis

Turnamen Yu-Gi-Oh! World Championship 2026 Resmi Dimulai, Tebar Hadiah Gratis

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:31 WIB

Pertolongan Pertama HP Kemasukan Air, Lakukan 7 Langkah Ini agar Tidak Mati Total

Pertolongan Pertama HP Kemasukan Air, Lakukan 7 Langkah Ini agar Tidak Mati Total

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 17:00 WIB

5 HP Android dengan Desain Kamera Boba 3 Mirip iPhone Seri Pro, Harga Mulai Rp1 Jutaan

5 HP Android dengan Desain Kamera Boba 3 Mirip iPhone Seri Pro, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 14:36 WIB

5 Rekomendasi Google TV Murah, Harga Mulai 1 Jutaan Fitur Premium

5 Rekomendasi Google TV Murah, Harga Mulai 1 Jutaan Fitur Premium

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 14:21 WIB

5 HP Snapdragon 8 Gen 5 Terbaik 2026, Performa Monster untuk Gaming hingga Fotografi

5 HP Snapdragon 8 Gen 5 Terbaik 2026, Performa Monster untuk Gaming hingga Fotografi

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 12:25 WIB

7 HP OPPO RAM 8GB Terbaru 2026, Baterai Jumbo hingga Layar AMOLED

7 HP OPPO RAM 8GB Terbaru 2026, Baterai Jumbo hingga Layar AMOLED

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 12:02 WIB

Konservasi Candi Borobudur Memanfaatkan Teknologi Drone 360 Spasial

Konservasi Candi Borobudur Memanfaatkan Teknologi Drone 360 Spasial

Tekno | Jum'at, 05 Juni 2026 | 11:28 WIB