-
Nelayan menemukan alat pemantau bawah laut milik China di Selat Lombok.
-
Media Barat mencurigai alat tersebut berfungsi sebagai perangkat spionase militer.
-
Pakar menyebut Selat Lombok jalur strategis bagi pergerakan kapal selam nuklir.
Suara.com - Benda mirip torpedo berukuran besar di dekat Selat Lombok viral menjadi perbincangan pada awal April 2026. Pengamat serta media Barat mencurigai bahwa benda misterius tersebut kemungkinan adalah alat 'mata-mata China'.
Beberapa teori dari analis mengerucut ke dua hal. Pertama, benda tersebut hanya melakukan monitor di Selat Lombok untuk kepentingan sipil dan ilmiah bagi China.
Teori kedua memprediksi bahwa itu berhubungan dengan kepentingan militer China.
Negeri Tirai Bambu dicurigai meletakkan alat mata-mata sebagai bentuk pertahanan apabila kapal selam Barat melakukan manuver di dekat selat tersebut.
Sebagai informasi, nelayan menemukan benda misterius di perairan lepas pantai Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada Senin, 6 April 2026.
Benda mirip torpedo sepanjang 3,7 meter menjadi perbincangan warga lokal.
Tim Gegana Satbrimob Polda NTB memastikan benda mirip torpedo sepanjang 3,7 meter yang ditemukan nelayan di perairan Gili Trawangan, Lombok Utara, bukan bahan peledak.
Setelah diperiksa, benda berbentuk cerutu tersebut dipastikan sebagai alat penelitian/ukur arus laut (Oceanographic Data Buoy) asal China, bukan rudal atau ancaman keamanan.
Kecurigaan Media Barat
Influencer bisnis sekaligus pengamat geopolitik dengan 3 juta follower, Mario Nawfal, mencurigai bahwa benda misterius tersebut adalah alat mata-mata China.
"Seorang nelayan Indonesia secara tidak sengaja mengungkap jaringan mata-mata bawah laut China. Ia menarik sensor akustik berbentuk torpedo sepanjang 3,7 meter dari Selat Lombok. Dibangun oleh Institut Penelitian 710 China, cabang militer dari raksasa galangan kapal negara CSIC. Bukan kecelakaan penangkapan ikan. Sebuah jendela ke dalam apa yang telah dibangun China secara diam-diam selama bertahun-tahun. Selat Lombok adalah koridor perairan dalam utama yang akan digunakan kapal selam nuklir AUKUS untuk mencapai Laut Cina Selatan. China menanam infrastruktur pendengaran langsung di jalur tersebut. Mereka memetakan pola, kecepatan, kedalaman. Seiring waktu, mereka membangun perpustakaan tentang apa yang tepat yang lewat dan kapan," tulis akun @MarioNawfal pada postingan yang viral di X. Ia turut menandai akun resmi milik analis geopolitik lain.
Media Australia, ABC, memberitakan bahwa benda misterius di Selat Lombok adalah "Sistem pemantauan bawah laut buatan China".
Terdapat dua kemungkinan yaitu untuk kepentingan militer atau penelitian ilmiah.
Analis pertahanan maritim H.I. Sutton mengidentifikasi perangkat tersebut sebagai sistem yang dirancang untuk memantau kondisi bawah laut secara real-time.
Menurutnya, sensor pada alat ini dapat merekam data penting seperti suhu, arus, kedalaman, hingga "informasi suara dan target".
Temuan ini mengkhawatirkan karena berada pada lokasi yang strategis. Selat Lombok adalah salah satu dari sedikit jalur laut dalam yang bisa dilalui kapal selam untuk bergerak dari Samudra Hindia ke Laut China Selatan tanpa terdeteksi.
Para ahli berpendapat bahwa teknologi ini memiliki "penggunaan ganda", bisa untuk penelitian ilmiah sipil maupun spionase militer.
Namun, potensinya untuk peperangan bawah laut tidak bisa diabaikan. Malcolm Davis, analis dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), memberikan pandangan yang lebih tajam.
"Tujuan mereka adalah untuk dapat melacak kapal selam sehingga pada masa perang, mereka berada di posisi yang lebih baik untuk dapat menyerang dan menenggelamkannya," ujar Malcolm David dikutip dari ABC News.
![Polisi mendokumentasikan benda mirip torpedo hasil temuan nelayan di perairan Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB, Senin (6/4/2026). [Polres Lombok Utara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/90046-polisi-mendokumentasikan-benda-mirip-torpedo-hasil-temuan-nelayan-di-perairan-gili-trawangan.jpg)
Ini menunjukkan bahwa China kemungkinan sedang memetakan medan perang bawah laut di masa depan.
Dr. Koh, seorang peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies Singapura mengungkap bahwa 'cukup masuk akal' bila China sedang mengumpulkan data.
Hal itu sejalan dengan meningkatnya minat China terhadap perairan teritorial dan jalur laut kepulauan Indonesia, terutama sejak kesepakatan AUKUS Australia dengan AS dan Inggris untuk mengakuisisi kapal selam bertenaga nuklir.
Selat Lombok merupakan koridor ekonomi dan militer utama antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Dengan kedalaman minimum 250 meter dan lebar tersempit 18 kilometer, selat ini merupakan jalur penting bagi kapal-kapal yang memiliki kedalaman lambung terlalu dalam untuk melewati Selat Malaka dan dapat berfungsi sebagai alternatif jika Selat Malaka terblokir.
Pihak Beijing merespons dengan santai. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa hanyutnya peralatan riset kelautan adalah hal biasa.
"Berdasarkan praktik internasional, bukan hal aneh jika peralatan penelitian kelautan hanyut ke perairan teritorial negara lain karena kerusakan atau alasan lain. Tidak perlu ada interpretasi atau kecurigaan yang berlebihan," bunyi keterangan resmi dari Kemenlu China.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia melalui TNI AL menyatakan masih melakukan investigasi mendalam terhadap perangkat tersebut.
Hasil pemeriksaan awal mengungkap bahwa bendar tersebut mengandung bahan peledak atau radioaktif, dan diduga kuat merupakan perangkat sistem pemantauan bawah laut.