5 Kritik Ferry Latuhihin: Rupiah Anjlok, Curigai Mati Listrik Massal Gegara 'Ekonomi'

Cesar Uji Tawakal, Rezza Dwi Rachmanta

Rabu, 10 Juni 2026 | 14:53 WIB
5 Kritik Ferry Latuhihin: Rupiah Anjlok, Curigai Mati Listrik Massal Gegara 'Ekonomi'
Ekonom senior Ferry Latuhihin soroti pasar domestik yang diyakini tak baik-baik saja. (YouTube FERRY LATUHIHIN)
baca 10 detik
  • Ferry Latuhihin sampaikan lima kritik ekonomi termasuk prediksi dolar tembus Rp25 ribu.

  • Pemadaman listrik massal dicurigai terjadi akibat masalah finansial dari perusahaan PLN.

  • Kebijakan PT DSI dan tarif ojol dinilai berisiko mengusir para investor.

Suara.com - Ekonom senior sekaligus pengamat pasar modal, Ferry Latuhihin menuai sorotan setelah memberikan beragam kritik berani. Ferry Latuhihin bahkan mencurigai bila fenomena mati listrik massal pada sejumlah daerah ada hubungan dengan 'masalah ekonomi'.

Sebagai informasi, cuplikan video mengenai prediksi Prof. Ferry Latuhihin tentang nilai dolar bisa mencapai Rp22-25 ribu viral di media sosial.

Tak hanya itu, Ferry Latuhihin menyinggung sejumlah kejanggalan serta pengambilan kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tepat.

Kebijakan tersebut diklaim dapat membuat pelaku pasar terutama investor asing dapat meninggalkan Indonesia.

Ia menyampaikan sejumlah kritik tajam pada video YouTube berjudul "Rupiah Sekarat, Market Hancur! Surat Terbuka Ferry Latuhihin untuk Presiden".

Prof Ferry menyoroti fenomena blackout di Sumatera beberapa waktu lalu kemungkinan berhubungan dengan masalah ekonomi.

Ferry Latuhihin, ekonom senior sekaligus pengamat pasar modal. (YouTube Prof. Rhenald Kasali)
Ferry Latuhihin, ekonom senior sekaligus pengamat pasar modal. (YouTube Prof. Rhenald Kasali)

Melalui berita terpisah, PLN telah memberikan keterangan resmi mengenai pemadaman listrik massal di sejumlah wilayah Sumatera pada Mei lalu.

Salah satu petinggi PLN mengungkap bahwa terjadi gangguan pada transmisi Rumai-Muaro Bungo 275 kV. Hal itu menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera bagian utara mengalami padam total.

Netizen sekarang menyoroti pemadaman listrik di sejumlah wilayah Jawa seperti Bogor, Bekasi, Tegal, Banyumas, hingga Yogyakarta pada Rabu (10/06/2026).

baca juga

PLN memberikan keterangan resmi bahwa telah terjadi gangguan di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Karawang.

"Sehubungan dengan adanya gangguan teknis pada PLTGU Jawa 1 yang mengakibatkan penurunan kemampuan pasok pembangkit ke sistem kelistrikan, PT PLN UP3 Bekasi saat ini melakukan berbagai langkah untuk tetap menjaga keandalan pasokan listrik kepada pelanggan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di sebagian wilayah layanan," bunyi keterangan dari perusahaan saat menjawab gangguan listrik di Bekasi.

Sementara di Yogyakarta, perusahaan mengungkap bahwa mereka sedang melakukan jadwal pemeliharaan jaringan distribusi. Itu membuat sejumlah daerah di Bantul dan Sleman mengalami pemadaman.

Perlu diketahui, IHSG merosot tajam sejak awal tahun sementara dolar AS sempat menembus Rp18 ribu. Berikut 5 kritik berani ekonom senior Ferry Latuhihin:

1. Curigai Ada Masalah Ekonomi di Balik Pemadaman Listrik

Prof. Ferry mencurigai bahwa pemadaman listrik di sejumlah daerah kemungkinan bukan masalah teknis, melainkan masalah finansial.

"Nah, kemarin juga, minggu lalu, kita lihat PLN itu listrik blackout di Sumatera, ya. Itu 8 jam apa berapa jam, satu Sumatera katanya gelap. Bahkan saya lihat juga di video-videonya di Medan itu orang berebut mencari genset, ya. Dan kalau satu pulau itu blackout, ya, banyak yang mengatakan jangan-jangan ini bukan masalah technical problem, tapi ini masalah financial problem. Sebab setahu saya, PLN dengan dolar di harga 16.500 menurut saya itu udah kaing-kaing, apalagi sekarang di 18.000, ya teman-teman, ya. Kenapa? Karena PLN membeli listrik dari IPP, ya, Independent Power Plant itu dalam bentuk dolar per kilowatt-nya, ya, tidak dalam bentuk rupiah, sedangkan penghasilannya itu dalam bentuk rupiah, ya," ungkap Ferry dikutip dari kanal YouTube-nya pada Rabu (10/6/2026).

2. Prediksi Nilai Rupiah Melemah hingga Rp25 Ribu

"Ramalan saya bisa 22.000 sampai 25.000 di semester kedua. Prediksi saya ini Juli-Agustus bukan tidak mungkin dolar itu ke 22.000 sampai 25.000. Kalau sampai itu di-downgrade oleh apalagi oleh S&P ya yang paling kuat ya dari tiga itu S&P, Moody's, and Fitch itu kan, itu dolar bisa ke 25.000 loh bos," kata Ferry.

3. Teori Inflasi Dua Digit yang Tidak Memiliki "Obat"

Jika inflasi disebabkan oleh kenaikan harga komoditas global seperti minyak bumi (cost-push inflation), maka, menurut Ferry, Bank Indonesia tidak akan bisa mengatasinya hanya dengan kebijakan moneter konvensional seperti menaikkan suku bunga.

"Bila harga minyak tetap tinggi, saya khawatir kita akan mengalami double-digit inflation. Nah, kalau double-digit inflation ini tidak ada obatnya, karena ini cost-push inflation. BI tidak bisa meng-counter dengan higher interest rate atau menaikkan suku bunga," jelas Ferry.

4. Kritik Terhadap Kebijakan Pendirian PT DSI

Kewajiban bagi eksportir untuk menyalurkan komoditas seperti sawit dan batu bara melalui PT DSI dinilai terlalu berisiko, tumpang tindih, serta membuka celah terjadinya moral hazard (potensi pemerasan). Ferry mengungkap bahwa PT DSI bisa membuat investor dan pelaku pasar takut.

"Tapi yang didirikan adalah suatu badan hukum yang seolah-olah, ya, para eksportir ini harus menyerahkan barangnya dulu kepada PT DSI, dan PT DSI baru meneruskannya ke buyers. Nah, ini bisa terjadi moral hazard, ya. Bisa terjadi moral hazard dalam arti apa? Banyak yang berpikir bahwa PT DSI ini bisa-bisa nanti digunakan untuk memeras para eksportir. Kan bisa terjadi, mereka punya kekuasaan kok, ya. Mereka bisa bilang 'Eh, lu mau enggak, ya, barang lu dikirim? Tapi lu harus ini dan itu.' Dan itu bisa terjadi. Ini sangat menakutkan, ya, bagi si pelaku bisnis ekspor batu bara, sawit, dan ferroalloy," kata Ferry.

5. Dampak Pembatasan Tarif Potongan Ojek Online (Ojol)

Kebijakan pemerintah yang menurunkan batas komisi aplikasi ojol secara drastis dinilai berbahaya bagi kelangsungan bisnis operator transportasi online.

Itu pada akhirnya dapat mengancam lapangan kerja jutaan pengemudi jika operator memutuskan untuk menyerah.

"Commission fee 20 persen dipaksa dengan Perpres turun ke 8 persen. Nah itu sangat berbahaya. Seandainya para operator ojol ini seperti GoTo dan Grab, ya, tidak bisa meng-cover operating cost mereka dan mereka mengatakan 'ya saya give up', itu 7 juta loh pengemudi ojol at stake loh, ya, bisa menjadi pengangguran," pungkas Ferry.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia-Singapura Umumkan Kerja sama Ekonomi, Dari Investasi hingga Rute Pesawat

Indonesia-Singapura Umumkan Kerja sama Ekonomi, Dari Investasi hingga Rute Pesawat

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:06 WIB

Pasar Makin Tak Pasti, Ini Cara Investor Mengubah Kepanikan Jadi Cuan

Pasar Makin Tak Pasti, Ini Cara Investor Mengubah Kepanikan Jadi Cuan

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 10:46 WIB

Chatib Basri Sorot Efisiensi Anggaran MBG: Harus Lebih Efisien Lagi

Chatib Basri Sorot Efisiensi Anggaran MBG: Harus Lebih Efisien Lagi

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:36 WIB

BI Rate Naik Mendadak, Pertanda Apa untuk Ekonomi Indonesia?

BI Rate Naik Mendadak, Pertanda Apa untuk Ekonomi Indonesia?

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:53 WIB

Terkini

Link CPNS 2026 Viral, Publik Diminta Waspada Penipuan Modus Menyamar Ala BKN

Link CPNS 2026 Viral, Publik Diminta Waspada Penipuan Modus Menyamar Ala BKN

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:44 WIB

Kepuasan Publik ke Prabowo Menurun Tajam, Begini Respons PDIP

Kepuasan Publik ke Prabowo Menurun Tajam, Begini Respons PDIP

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:43 WIB

Kemenhut Siapkan SDM Kehutanan Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

Kemenhut Siapkan SDM Kehutanan Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:33 WIB

Pengamat Cium Aroma Perlawanan Balik Koruptor di Balik Isu Febrie Adriansyah: Corruptor Fights Back

Pengamat Cium Aroma Perlawanan Balik Koruptor di Balik Isu Febrie Adriansyah: Corruptor Fights Back

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:33 WIB

Bentrok Maut di Menteng Diduga Gara-gara Beli Nasi Uduk Tapi Ogah Bayar

Bentrok Maut di Menteng Diduga Gara-gara Beli Nasi Uduk Tapi Ogah Bayar

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:26 WIB

Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai

Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai

Bali | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:21 WIB

5 Weton Paling Sakral dan Sakti, Punya Kekuatan Terpendam Menurut Primbon Jawa

5 Weton Paling Sakral dan Sakti, Punya Kekuatan Terpendam Menurut Primbon Jawa

Lifestyle | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:17 WIB

9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang

9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang

Lifestyle | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:15 WIB

Kaesang Maju di Dapil Puan, Ganjar: Silakan, Saya Masih Yakin Jateng Kandang Banteng!

Kaesang Maju di Dapil Puan, Ganjar: Silakan, Saya Masih Yakin Jateng Kandang Banteng!

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:12 WIB

Bertabur Bintang Beken, 5 Drakor Adaptasi Webtoon Ini Malah Anjlok di TV Korea

Bertabur Bintang Beken, 5 Drakor Adaptasi Webtoon Ini Malah Anjlok di TV Korea

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 18:10 WIB

×