-
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu hujan abu hingga wilayah Jabodetabek.
-
Dentuman keras dan lontaran lava pijar membahayakan radius steril tiga kilometer.
-
Longsoran bodi gunung ke laut berpotensi memicu gelombang tsunami susulan.
Tsunami terjadi jika letusan besar memicu longsoran badan gunung ke dalam laut (flank collapse), mirip dengan peristiwa maut pada Desember 2018 silam.
Belajar dari Sejarah Dahsyat Krakatau 1883
Potensi bahaya Anak Krakatau selalu dikaitkan dengan "induknya", yaitu Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada tahun 1883.
Letusan kala itu menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia dengan dampak global:
- Tsunami dan Korban Jiwa: Menewaskan sekitar 36.000 jiwa akibat awan panas dan tsunami raksasa.
- Dunia Menjadi Gelap: Atmosfer tertutup debu vulkanik hingga membuat beberapa negara gelap selama 2,5 hari.
- Penurunan Suhu Global: Hamburan debu mencapai Norwegia dan New York, menyebabkan suhu rata-rata global turun 1,2 derajat Celcius selama setahun.
- Lahirnya "Sang Anak": Setelah puncak Krakatau sirna pada 1883, muncul Gunung Anak Krakatau ke permukaan laut pada tahun 1927.
Anak Krakatau dikenal sebagai gunung yang sangat aktif "tumbuh". Setiap tahunnya, ketinggian gunung ini bertambah sekitar 6 hingga 12 meter.
Saat ini, ketinggiannya diperkirakan telah mencapai 230 meter di atas permukaan laut.
Pertumbuhan yang cepat ini terus dipantau karena berkaitan dengan stabilitas struktur tubuh gunung.