- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda aktif kembali dan berpotensi memicu letusan yang membahayakan kawasan sekitarnya.
- Dampak letusan meliputi hujan abu vulkanik beracun, gangguan penerbangan, serta awan panas yang mengancam wilayah terdekat.
- Longsoran tubuh gunung berisiko memicu gelombang tsunami mematikan di wilayah pesisir Banten dan Lampung dalam waktu singkat.
Gelombang bisa mencapai ketinggian beberapa meter hingga lebih dari 10 meter di pantai terdekat dalam waktu kurang dari 30–45 menit. Pesisir Anyer, Carita, Tanjung Lesung, hingga Lampung Selatan menjadi zona rawan.
Sistem peringatan dini sangat krusial karena tsunami vulkanik sering datang tanpa gempa bumi sebagai tanda awal.
4. Aliran piroklastik dan lontaran material panas
Material pijar, lava, dan aliran piroklastik (awan panas) bisa menghancurkan segala sesuatu di sekitar kawah hingga radius beberapa kilometer. Kapal nelayan atau wisata yang berada terlalu dekat berisiko tinggi.
Selain itu, gas beracun seperti sulfur dioksida dapat menyebabkan sesak napas dan sakit kepala bagi orang yang terpapar.
5. Dampak terhadap ekosistem laut dan pulau sekitar
Erupsi dapat mematikan ikan dan biota laut di sekitar Selat Sunda akibat perubahan suhu air dan endapan material vulkanik.
Pulau-pulau kecil seperti Rakata, Sertung, dan Panjang bisa mengalami kerusakan vegetasi. Aktivitas pelayaran dan pariwisata bahari pun terhenti sementara, memengaruhi perekonomian lokal.
6. Getaran gempa vulkanik dan perubahan morfologi gunung
Erupsi biasanya diikuti gempa vulkanik yang terasa hingga daratan. Setelah letusan besar, bentuk gunung bisa berubah drastis—tinggi berkurang atau bahkan terbentuk danau kawah baru.
Proses pertumbuhan kembali gunung juga bisa berlangsung cepat, menciptakan kondisi ketidakstabilan baru di masa depan.
7. Dampak sosial-ekonomi yang luas
Evakuasi penduduk pesisir, kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok, dan penurunan kunjungan wisata bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Pelajaran dari 2018 menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan edukasi masyarakat sangat menentukan jumlah korban.
Meski kemungkinan letusan sehebat 1883 dianggap sangat kecil oleh para ahli, risiko longsoran dan tsunami tetap nyata karena gunung ini terus tumbuh di tepi kaldera yang curam. Dengan memahami skenario-skenario di atas, kita bisa lebih siap menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau kapan pun ia “bangun” kembali.