- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda aktif kembali dan berpotensi memicu letusan yang membahayakan kawasan sekitarnya.
- Dampak letusan meliputi hujan abu vulkanik beracun, gangguan penerbangan, serta awan panas yang mengancam wilayah terdekat.
- Longsoran tubuh gunung berisiko memicu gelombang tsunami mematikan di wilayah pesisir Banten dan Lampung dalam waktu singkat.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau, atau “Anak Krakatau,” merupakan gunung api muda yang tumbuh di tengah kaldera sisa letusan dahsyat Krakatau 1883. Letusan legendaris itu menewaskan sekitar 36.000 orang, sebagian besar karena tsunami, dan mengubah wajah Selat Sunda selamanya.
Sejak muncul ke permukaan laut pada akhir 1920-an, gunung ini terus tumbuh dan kerap aktif, mengingatkan kita bahwa ancaman vulkanik di kawasan ini belum pernah benar-benar padam.
Pada Desember 2018, sebagian tubuh gunung longsor ke laut dan memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 430 orang di pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa itu membuktikan bahwa bahkan letusan yang tidak terlalu besar pun bisa menimbulkan bencana berantai.
Kini, dengan aktivitas yang masih berlangsung dan morfologi gunung yang terus berubah, pertanyaan “apa yang terjadi jika Anak Krakatau meletus lagi?” menjadi semakin relevan bagi jutaan warga yang tinggal di sekitar Selat Sunda.
Letusan gunung api ini tidak selalu berujung pada bencana skala besar seperti 1883. Intensitasnya bisa bervariasi, mulai dari erupsi Strombolian kecil hingga peristiwa yang melibatkan longsoran tubuh gunung.
Namun, lokasi geografisnya yang berada di tengah laut dangkal dan dekat dengan jalur pelayaran serta kawasan padat penduduk membuat setiap aktivitasnya perlu diwaspadai serius.
Pemahaman tentang dampak potensial sangat penting agar masyarakat, pemerintah, dan pelaku transportasi bisa bersiap. Berikut adalah beberapa skenario dan dampak utama yang bisa terjadi jika Gunung Anak Krakatau meletus.

1. Hujan abu vulkanik menyebar luas dan mengganggu kesehatan
Abu vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Partikel halus ini mengandung silika tajam yang berbahaya jika terhirup.
Masyarakat di Lampung, Banten, hingga Jakarta bisa mengalami iritasi mata, batuk, gangguan pernapasan, serta perburukan asma atau penyakit paru kronis. Sumber air dan makanan juga berisiko tercemar, sehingga warga diimbau menutup sumur dan menyimpan cadangan air bersih.
2. Gangguan penerbangan dan transportasi udara
Abu vulkanik sangat berbahaya bagi mesin pesawat karena bersifat abrasif. Bandara-bandara besar seperti Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan bandara di Lampung atau Jawa Barat bisa ditutup sementara.
Ratusan penerbangan nasional maupun internasional berpotensi dibatalkan atau dialihkan, menimbulkan kerugian ekonomi dan kekacauan perjalanan.
3. Ancaman tsunami akibat longsoran tubuh gunung
Ini adalah risiko paling mematikan. Jika sebagian lereng barat daya gunung longsor ke laut—seperti yang terjadi pada 2018—air laut akan terdorong dan membentuk gelombang tsunami.
Gelombang bisa mencapai ketinggian beberapa meter hingga lebih dari 10 meter di pantai terdekat dalam waktu kurang dari 30–45 menit. Pesisir Anyer, Carita, Tanjung Lesung, hingga Lampung Selatan menjadi zona rawan.
Sistem peringatan dini sangat krusial karena tsunami vulkanik sering datang tanpa gempa bumi sebagai tanda awal.
4. Aliran piroklastik dan lontaran material panas
Material pijar, lava, dan aliran piroklastik (awan panas) bisa menghancurkan segala sesuatu di sekitar kawah hingga radius beberapa kilometer. Kapal nelayan atau wisata yang berada terlalu dekat berisiko tinggi.
Selain itu, gas beracun seperti sulfur dioksida dapat menyebabkan sesak napas dan sakit kepala bagi orang yang terpapar.
5. Dampak terhadap ekosistem laut dan pulau sekitar
Erupsi dapat mematikan ikan dan biota laut di sekitar Selat Sunda akibat perubahan suhu air dan endapan material vulkanik.
Pulau-pulau kecil seperti Rakata, Sertung, dan Panjang bisa mengalami kerusakan vegetasi. Aktivitas pelayaran dan pariwisata bahari pun terhenti sementara, memengaruhi perekonomian lokal.
6. Getaran gempa vulkanik dan perubahan morfologi gunung
Erupsi biasanya diikuti gempa vulkanik yang terasa hingga daratan. Setelah letusan besar, bentuk gunung bisa berubah drastis—tinggi berkurang atau bahkan terbentuk danau kawah baru.
Proses pertumbuhan kembali gunung juga bisa berlangsung cepat, menciptakan kondisi ketidakstabilan baru di masa depan.
7. Dampak sosial-ekonomi yang luas
Evakuasi penduduk pesisir, kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok, dan penurunan kunjungan wisata bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Pelajaran dari 2018 menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan edukasi masyarakat sangat menentukan jumlah korban.
Meski kemungkinan letusan sehebat 1883 dianggap sangat kecil oleh para ahli, risiko longsoran dan tsunami tetap nyata karena gunung ini terus tumbuh di tepi kaldera yang curam. Dengan memahami skenario-skenario di atas, kita bisa lebih siap menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau kapan pun ia “bangun” kembali.