Apa yang Terjadi jika Gunung Anak Krakatau Meletus? Ini 7 Dampaknya

Ruth Meliana

Senin, 07 September 2026 | 11:07 WIB
Apa yang Terjadi jika Gunung Anak Krakatau Meletus? Ini 7 Dampaknya
ampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi
baca 10 detik
  • Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda aktif kembali dan berpotensi memicu letusan yang membahayakan kawasan sekitarnya.
  • Dampak letusan meliputi hujan abu vulkanik beracun, gangguan penerbangan, serta awan panas yang mengancam wilayah terdekat.
  • Longsoran tubuh gunung berisiko memicu gelombang tsunami mematikan di wilayah pesisir Banten dan Lampung dalam waktu singkat.

Suara.com - Gunung Anak Krakatau, atau “Anak Krakatau,” merupakan gunung api muda yang tumbuh di tengah kaldera sisa letusan dahsyat Krakatau 1883. Letusan legendaris itu menewaskan sekitar 36.000 orang, sebagian besar karena tsunami, dan mengubah wajah Selat Sunda selamanya.

Sejak muncul ke permukaan laut pada akhir 1920-an, gunung ini terus tumbuh dan kerap aktif, mengingatkan kita bahwa ancaman vulkanik di kawasan ini belum pernah benar-benar padam.

Pada Desember 2018, sebagian tubuh gunung longsor ke laut dan memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 430 orang di pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa itu membuktikan bahwa bahkan letusan yang tidak terlalu besar pun bisa menimbulkan bencana berantai.

Kini, dengan aktivitas yang masih berlangsung dan morfologi gunung yang terus berubah, pertanyaan “apa yang terjadi jika Anak Krakatau meletus lagi?” menjadi semakin relevan bagi jutaan warga yang tinggal di sekitar Selat Sunda.

Letusan gunung api ini tidak selalu berujung pada bencana skala besar seperti 1883. Intensitasnya bisa bervariasi, mulai dari erupsi Strombolian kecil hingga peristiwa yang melibatkan longsoran tubuh gunung.

Namun, lokasi geografisnya yang berada di tengah laut dangkal dan dekat dengan jalur pelayaran serta kawasan padat penduduk membuat setiap aktivitasnya perlu diwaspadai serius.

Pemahaman tentang dampak potensial sangat penting agar masyarakat, pemerintah, dan pelaku transportasi bisa bersiap. Berikut adalah beberapa skenario dan dampak utama yang bisa terjadi jika Gunung Anak Krakatau meletus.

Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Lampung, saat erupsi, Sabtu (5/9/2026).
Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Lampung, saat erupsi, Sabtu (5/9/2026).

1. Hujan abu vulkanik menyebar luas dan mengganggu kesehatan

Abu vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Partikel halus ini mengandung silika tajam yang berbahaya jika terhirup.

baca juga

Masyarakat di Lampung, Banten, hingga Jakarta bisa mengalami iritasi mata, batuk, gangguan pernapasan, serta perburukan asma atau penyakit paru kronis. Sumber air dan makanan juga berisiko tercemar, sehingga warga diimbau menutup sumur dan menyimpan cadangan air bersih.

2. Gangguan penerbangan dan transportasi udara

Abu vulkanik sangat berbahaya bagi mesin pesawat karena bersifat abrasif. Bandara-bandara besar seperti Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan bandara di Lampung atau Jawa Barat bisa ditutup sementara.

Ratusan penerbangan nasional maupun internasional berpotensi dibatalkan atau dialihkan, menimbulkan kerugian ekonomi dan kekacauan perjalanan.

3. Ancaman tsunami akibat longsoran tubuh gunung

Ini adalah risiko paling mematikan. Jika sebagian lereng barat daya gunung longsor ke laut—seperti yang terjadi pada 2018—air laut akan terdorong dan membentuk gelombang tsunami.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jakarta Terimbas Abu Anak Krakatau, Warga Mulai Batuk dan Keluhkan Rumah Cepat Kotor!

Jakarta Terimbas Abu Anak Krakatau, Warga Mulai Batuk dan Keluhkan Rumah Cepat Kotor!

News | Senin, 07 September 2026 | 11:01 WIB

Cara Cek Status Gunung Api di Indonesia Aktif atau Tidak, Ini Link Resminya

Cara Cek Status Gunung Api di Indonesia Aktif atau Tidak, Ini Link Resminya

Tekno | Senin, 07 September 2026 | 10:54 WIB

Rute Melelahkan Persija dan Persebaya Hindari Abu Vulkanik Anak Krakatau: Tempuh Ratusan Kilometer

Rute Melelahkan Persija dan Persebaya Hindari Abu Vulkanik Anak Krakatau: Tempuh Ratusan Kilometer

Bola | Senin, 07 September 2026 | 10:53 WIB

Terkini

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Sport | Sabtu, 12 September 2026 | 23:24 WIB

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

News | Sabtu, 12 September 2026 | 22:11 WIB

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:24 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

×