- Andry Adi Utomo dari Sharp menyatakan harga memori chip televisi pintar melonjak dari di bawah Rp2 juta menjadi lebih dari Rp3 juta di Jakarta pada Rabu, 9 September 2026.
- Kenaikan harga tersebut memberikan tekanan biaya produksi yang lebih besar pada televisi berukuran kecil dibandingkan televisi layar besar.
- Sharp mengatasi tantangan tersebut dengan memperkuat produksi lokal televisi layar besar dan meningkatkan layanan purnajual tanpa mengandalkan perang harga.
Suara.com - Harga memori chip yang digunakan pada perangkat televisi pintar mengalami kenaikan cukup signifikan. Komponen yang berfungsi untuk menyimpan aplikasi dan mendukung sistem operasi Android TV tersebut kini harganya disebut telah menembus Rp3 juta.
Kenaikan harga ini ikut menjadi tantangan bagi industri televisi di Indonesia. Namun, dampaknya tidak sama untuk setiap ukuran TV.
Menurut Sharp Electronics Indonesia, TV berukuran kecil justru lebih sensitif terhadap kenaikan biaya memori chip dibandingkan televisi layar besar.
National Sales Marketing Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengatakan harga memori chip yang sebelumnya sempat berada di bawah Rp2 juta kini sudah berada di atas Rp3 juta.
“Memory itu untuk simpan aplikasi Android, untuk memory channel, segala macam. Nah ini kan rugi kalau kita pasang di kecil. Makanya harganya sudah mahal, sudah mau Rp3 juta lebih. Dulu sempat di bawah Rp2 juta,” ujar Andry di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, kebutuhan memory pada TV berukuran kecil dan besar pada dasarnya tidak jauh berbeda. Perbedaannya terletak pada porsi biaya komponen tersebut terhadap harga jual televisi.
Pada TV berukuran kecil, harga memori chip yang mencapai jutaan rupiah memberikan tekanan lebih besar terhadap biaya perangkat.
Sementara pada TV layar besar, biaya memori relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai keseluruhan unit.
“Memory dipakai di inch kecil sama dengan memory dipakai di inch gede. Tapi inch gede nggak terlalu banyak kendala, nggak terlalu banyak berdampak. Karena nilai memori chip dibanding dengan unitnya kontribusinya kecil,” kata Andry.
Harga TV Kecil Lebih Rentan
Kondisi ini membuat produsen televisi harus lebih berhati-hati dalam menentukan strategi produk dan harga.
Kenaikan harga komponen tidak serta-merta membuat produksi TV berhenti, tetapi dapat memengaruhi struktur biaya dan keputusan perusahaan dalam menyediakan produk.
Andry mengatakan, Sharp tetap menjaga ketersediaan TV di pasar. Tantangannya justru berada pada pasokan memori chip yang tidak selalu bisa dipesan dalam jumlah sesuai kebutuhan.
“Padahal kenaikan memori itu apakah bisa mengurangi produksi TV-TV itu? Nggak. Tapi kita menjaga supaya TV-TV ini dengan tahu-tahu. Sebenarnya nggak maksimal. Kita nggak bisa booking, mau beli berapa itu kita susah,” ujarnya.
Ketika pasokan tersedia, Sharp memilih mengambil komponen yang ada untuk menjaga produksi. Dalam kondisi tertentu, distribusi produk bahkan harus dipercepat menggunakan transportasi udara.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga memori chip tidak hanya menjadi persoalan biaya produksi. Ketersediaan komponen juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan produsen dalam menjaga pasokan TV di pasar.
![Sharp meluncurkan AQUOS XLED. [Sharp Electronics Indonesia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/07/26/94235-aquos-xled.jpg)
Sharp Dorong TV Layar Besar
Di tengah tekanan biaya tersebut, Sharp justru melihat peluang pertumbuhan pada segmen TV layar besar.
Saat ini, kontribusi seluruh kategori TV terhadap bisnis Sharp berada di kisaran 18 persen. Namun, porsi TV berukuran besar baru sekitar 5-8 persen dari kontribusi tersebut.
“TV total itu baru sekitar 18 persen. Jadi antara TV total ini kita banyak bermain di inch kecil. Dari yang 18 persen itu mungkin TV gedenya baru sekitar 5-8 persen. Masih kecil,” kata Andry.
Sharp ingin meningkatkan kontribusi kategori TV sekaligus memperbesar pasar televisi berukuran besar. Perusahaan menargetkan kontribusi TV secara keseluruhan dapat meningkat hingga sekitar 20 persen.
Strategi tersebut menjadi semakin relevan ketika kenaikan harga memori chip membuat persaingan di segmen TV kecil semakin menantang.
Tak Mau Terjebak Perang Harga
Sharp juga tidak ingin mengandalkan perang harga untuk mendorong penjualan TV layar besar.
Menurut Andry, persaingan harga akan sulit berakhir karena konsumen selalu memiliki pilihan produk dengan harga lebih murah.
Karena itu, perusahaan mencoba memberikan nilai tambah melalui layanan purnajual.
“Kalau harga nggak akan pernah berakhir, nggak pernah akan berakhir harga. Terus apa yang diharapkan dari customer? Salah satunya adalah proses pemasangan, instalasi, atau mungkin kecepatan dalam penanganan masalah,” ujarnya.
Sharp kemudian memperkuat Platinum Service untuk pelanggan TV premium. Layanan tersebut antara lain menawarkan respons maksimal satu jam pada proses awal penanganan pelanggan serta target kunjungan dan instalasi maksimal 1x24 jam setelah unit dan lokasi siap.
TV Besar Mulai Diproduksi Lokal
Selain memperkuat layanan, Sharp juga mulai meningkatkan produksi lokal untuk TV berukuran besar.
Saat ini, TV berukuran 75 inci dan 85 inci sudah diproduksi di Indonesia. Sementara model berukuran 98 inci masih mengandalkan impor.
“Ke depan kita, nggak semua impor. 75 inch, 85 inch sudah lokal. 98 inch masih impor. Nanti kita juga lokal semua,” kata Andry.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Sharp memperbesar kontribusi TV layar besar di Indonesia.