- Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp17.512 per dolar AS pada Rabu, 10 September.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh dolar AS yang mulai *rebound* serta sikap *wait and see* investor terhadap data penjualan ritel.
- Pergerakan mata uang Asia bervariasi dengan won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar dan dolar Taiwan melemah paling tinggi.
Suara.com - Rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Rabu 10 September dibuka ke level Rp17.512 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini melemah 1 poin atau naik 0,01 persen dibandingkan hari sebelumnya yang ada di Rp17.511 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini dikarenakan dolar AS yang mulai rebound.
Selain itu investor juga masih wait and see mengenai perilisan data penjualan rite di Indonesia. Sehingga, bisa memberikan sentimen negatif.
"Rupiah masih berpotensi menguat terhadap dolar AS, namun penguatan diperkirakan terbatas, dengan investor wait and see menentikan data penjualan ritel Juli Indonesia dan data inflasi produsen AS. Range rupiah bisa di kisaran Rp17.450-Rp17.600," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, dolar Taiwan jadi mata uang yang paling lemah di Asia dengan turun 0,09 persen. Diikuti peso Filipina yang anjlok 0,05 persen dan ringgit Malaysia juga melemah tipis 0,01 persen.
![Ilustrasi Won Korea. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/02/83468-ilustrasi-won-korea.jpg)
Sedangkan won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,23 persen.
Selanjutnya ada yen Jepang dan baht Thailand yang sama-sama melesat 0,09 persen. Disusul, dolar Singapura terkerek 0,06 persen. Kemudian ada dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,008 persen terhadap the greenback pada pagi ini.