- NASA menemukan kawah baru di Bulan akibat tumbukan benda asing.
- Penemuan kawah baru di Bulan ini memiliki fenomena titik dingin.
- Kawah baru di Bulan menjadi sarana riset untuk misi antariksa.
Suara.com - Para ilmuwan yang bekerja sama dengan NASA untuk meneliti kawah baru terbesar yang pernah ditemukan di Bulan mengungkapkan bahwa tumbukan tersebut menciptakan "titik dingin" sepanjang lebih dari 6 kilometer.
Dua tahun lalu, sebuah benda seukuran bangunan apartemen kecil setinggi tiga hingga enam lantai menghantam permukaan Bulan. Anehnya, jejak tumbukan ini baru disadari lebih dari setahun kemudian.
Menurut dilaporkan Gizmodo, benda tersebut diduga berupa batuan antariksa kecil atau komet berlapis es, meski tentu saja masih terbuka kemungkinan spekulasi yang lebih "eksotis".
Apa pun wujud aslinya, benda itu berhasil membentuk kawah raksasa yang oleh NASA disebut sebagai fenomena "sekali dalam satu abad".
Kawah baru ini kemungkinan akan membantu misi-misi pangkalan bulan di masa depan
Kawah baru ini memiliki diameter 222 meter dengan kedalaman sekitar 43 meter, atau hanya sekitar 6 meter lebih pendek dari tinggi Arc de Triomphe di Paris.
Penemuan ini bermula dari pengamatan peneliti Robert Wagner dari Intuitive Machines melalui Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) milik NASA, yang kini dikelola oleh perusahaan tersebut atas nama badan antariksa itu setelah mereka merekrut Mark Robinson, mantan peneliti utama LROC di NASA.
"Ini benar-benar pola serpihan tumbukan paling jelas yang pernah saya lihat dalam citra semacam ini," ujar Wagner dalam pengumuman resmi NASA.
Wagner mengenang momen ketika pertama kali menyadari keberadaan kawah tersebut pada 24 Oktober 2025, "Saya langsung berhenti, menghentikan semua pekerjaan, dan mulai menyelidiki apa sebenarnya titik itu."
![NASA temukan kawah baru di Bulan hasil tumbukan misterius. [NASA/ Intuitive Machines]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/21/19296-nasa-temukan-kawah-baru-di-bulan-hasil-tumbukan-misterius.jpg)
Peristiwa Langka Seumur Hidup
Bekerja sama dengan lembaga nirlaba Lunar and Planetary Institute (LPI) dan NASA, tim Intuitive Machines memperkirakan benda misterius ini menabrak Bulan pada rentang waktu antara 11 April hingga 22 Mei 2024.
Hasil analisis tim yang dipublikasikan di jurnal Science Advances (16/09/2026) ini menamai kawah tersebut McGetchin, mengambil nama ahli geologi lapangan misi Apollo, Tom McGetchin.
Dalam studi barunya, tim peneliti menulis bahwa model produksi kawah menunjukkan tumbukan sebesar ini diperkirakan hanya terjadi sekali setiap 132 tahun di Bulan, sehingga peristiwa ini tergolong pengamatan yang secara statistik sangat langka dan hampir mustahil terulang dalam satu masa hidup manusia.
Wagner, seorang spesialis pengolahan citra di Intuitive Machines, menemukan kawah ini dengan cara menumpuk citra "sebelum" dan "sesudah" dari Wide-Angle Camera milik LROC.
Teknik penumpukan ini memperlihatkan perubahan pada permukaan Bulan, di mana lanskap yang tidak berubah tampak dalam warna abu-abu redup, sementara perubahan geologis ditonjolkan dalam warna putih terang atau hitam pekat.
Namun, kawah ini menjadi semakin menarik ketika para peneliti mengamatinya menggunakan perangkat pencitraan multispektral lain milik Lunar Reconnaissance Orbiter. Dari situ mereka mendeteksi apa yang mereka sebut sebagai "anomali suhu titik dingin" dalam makalah kedua terkait temuan ini.
Efek Pendinginan Misterius
Pengukuran dari instrumen Diviner Lunar Radiometer Experiment milik wahana orbiter mengungkapkan adanya wilayah dingin selebar sekitar 7 kilometer yang mengelilingi kawah tersebut, dengan suhu malam hari 8 hingga 9 derajat Celsius lebih dingin dibandingkan permukaan Bulan di sekitarnya.
Para ilmuwan yang berkolaborasi dengan tim dari Johns Hopkins Applied Physics Laboratory, University of California Los Angeles (UCLA), dan sejumlah institusi lain menduga bahwa tanah bulan atau regolit yang terlontar dan menjadi gembur akibat tumbukan tersebut lebih sulit menyimpan panas dibandingkan batuan bulan yang lebih padat.
Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti membandingkan setiap kawah baru berdiameter lebih dari 20 meter, dan menemukan efek pendinginan yang konsisten terjadi pada semua kawah baru berdiameter lebih dari 30 meter.
Yang menarik, titik-titik bersuhu rendah ini juga berbanding lurus dengan ukuran kawah, semakin besar kawahnya, semakin luas dan gembur area regolit berdebu yang tampaknya menjadi penyebab turunnya suhu tersebut.
Para peneliti mencatat bahwa temuan mengenai kawah baru ini kemungkinan akan membantu misi-misi pangkalan bulan di masa depan untuk lebih siap menghadapi potensi proyektil batuan yang dilontarkan dari berbagai tumbukan yang membentuk kawah-kawah di Bulan.
Namun salah satu penulis pendamping studi kedua, David Paige, geofisikawan sekaligus peneliti fisika antariksa dari SPACE Institute UCLA, justru melontarkan gagasan menarik: misi bulan di masa depan mungkin perlu menciptakan kawahnya sendiri, baik untuk kepentingan riset maupun ekstraksi sumber daya.
Paige menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa kini mereka mulai memandang tumbukan sebagai cara untuk "mengolah" regolit, yakni mengaduk sedimen dan mengangkat material yang biasanya berada di bawah permukaan ke atas.