- Letusan besar Krakatau pada tahun 1883 di Selat Sunda meninggalkan kaldera baru berdiameter tujuh kilometer.
- Erupsi bawah laut di dalam kaldera tersebut teramati sejak 1927 dan membentuk pulau permanen Anak Krakatau pada 1930.
- Sebagian besar tubuh gunung runtuh akibat erupsi dan longsor pada 2018, tetapi aktivitas vulkaniknya terus menumbuhkan material baru.
Siklus pembentukan tersebut kembali terganggu pada 22 Desember 2018 ketika sebagian besar tubuh Anak Krakatau runtuh akibat aktivitas erupsi dan longsoran ke laut sehingga memicu tsunami di pesisir sekitar Selat Sunda.
Smithsonian mencatat bahwa peristiwa tersebut menghancurkan sebagian besar bangunan gunung yang sebelumnya telah mencapai sekitar 338 meter.
Meski mengalami kehancuran, aktivitas vulkanik Anak Krakatau tidak berhenti.
Material baru kembali terbentuk setelah peristiwa 2018, menunjukkan bahwa tubuh gunung api dapat kembali tumbuh selama suplai magma dan aktivitas erupsi terus berlangsung.
Proses terbentuknya Anak Krakatau dapat dipahami sebagai bagian dari siklus panjang kawasan Krakatau: gunung api terbentuk, mengalami erupsi besar dan keruntuhan, meninggalkan kaldera, kemudian aktivitas magma kembali membangun gunung api baru di dalamnya.
Anak Krakatau yang dikenal saat ini merupakan salah satu fase terbaru dari siklus geologi tersebut, yang menunjukkan bahwa bentuk sebuah gunung api dapat berubah secara drastis dalam perjalanan sejarahnya.