- Letusan besar Krakatau pada tahun 1883 di Selat Sunda meninggalkan kaldera baru berdiameter tujuh kilometer.
- Erupsi bawah laut di dalam kaldera tersebut teramati sejak 1927 dan membentuk pulau permanen Anak Krakatau pada 1930.
- Sebagian besar tubuh gunung runtuh akibat erupsi dan longsor pada 2018, tetapi aktivitas vulkaniknya terus menumbuhkan material baru.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau terbentuk dari aktivitas vulkanik yang membangun gunung api baru di dalam kaldera bekas kehancuran Gunung Krakatau akibat erupsi besar.
Proses terbentuknya Gunung Anak Krakatau dari kaldera purba berlangsung bertahap setelah aktivitas erupsi kembali muncul di kawasan Selat Sunda dan menghasilkan tumpukan material vulkanik di bawah laut.
Aktivitas tersebut mulai teramati pada 1927, ketika erupsi bawah laut terjadi di dalam kaldera hasil letusan Krakatau 1883 sebelum material vulkanik secara perlahan membangun tubuh gunung hingga muncul di atas permukaan laut.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan melalui pergantian endapan lava dan material piroklastik, sehingga bentuk gunung yang terlihat saat ini merupakan hasil pembangunan tubuh gunung secara berulang.
Proses Terbentuknya Gunung Anak Krakatau dari Kaldera Purba
![Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari Pulau Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Selasa (8/9/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/nz]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/08/52282-aktivitas-gunung-anak-krakatau-erupsi-gunung-anak-krakatau.jpg)
Sejarah Krakatau bermula dari sebuah kompleks gunung api di Selat Sunda yang mengalami perubahan bentuk berkali-kali akibat aktivitas vulkanik dan runtuhan tubuh gunung.
Catatan geologi menunjukkan adanya kaldera besar berdiameter sekitar 7 kilometer yang terbentuk akibat runtuhnya bangunan gunung api purba, dengan perkiraan waktu pembentukan yang dalam sejumlah kajian ditempatkan sekitar abad ke-5 hingga ke-6 Masehi.
Runtuhan tersebut tidak membuat aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau berhenti. Sisa-sisa tubuh gunung kemudian menjadi bagian dari pulau-pulau seperti Verlaten, Lang atau Panjang, dan Rakata, sementara aktivitas vulkanik berikutnya membangun kerucut Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuwatan.
Ketiga kerucut tersebut kemudian berkembang dan menyatu sehingga membentuk pulau Gunung Krakatau sebelum letusan besar 1883.
Fase berikutnya menjadi titik penting dalam sejarah Krakatau ketika terjadi erupsi dahsyat pada 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar bangunan Krakatau, termasuk Gunung Danan dan Perbuwatan, serta menyisakan bagian dari Rakata.
Runtuhnya tubuh gunung menghasilkan kaldera baru berdiameter sekitar 7 kilometer yang kemudian menjadi ruang tempat terbentuknya gunung api generasi berikutnya.
Kaldera 1883 kemudian tidak menjadi wilayah yang benar-benar mati secara vulkanik. Pada 29 Desember 1927, aktivitas erupsi bawah laut mulai teramati di dalam kaldera tersebut, menandai awal pembangunan pusat gunung api baru yang kelak dikenal sebagai Anak Krakatau.
Material hasil erupsi bawah laut secara bertahap menumpuk di sekitar pusat aktivitas hingga akhirnya muncul ke permukaan laut.
Smithsonian mencatat bahwa sebuah pulau sementara terlihat pada awal 1929, sedangkan pada Agustus 1930 tubuh Anak Krakatau telah terbentuk sebagai pulau permanen di atas permukaan laut.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus membangun tubuhnya melalui pengendapan material hasil erupsi, termasuk lava dan material piroklastik.
Penelitian Badan Geologi mencatat pertumbuhan Anak Krakatau berlangsung cepat; dalam periode 1930 hingga 2005, ketinggiannya bertambah hingga sekitar 315 meter dengan rata-rata pertumbuhan yang diperkirakan sekitar empat meter per tahun.
Siklus pembentukan tersebut kembali terganggu pada 22 Desember 2018 ketika sebagian besar tubuh Anak Krakatau runtuh akibat aktivitas erupsi dan longsoran ke laut sehingga memicu tsunami di pesisir sekitar Selat Sunda.
Smithsonian mencatat bahwa peristiwa tersebut menghancurkan sebagian besar bangunan gunung yang sebelumnya telah mencapai sekitar 338 meter.
Meski mengalami kehancuran, aktivitas vulkanik Anak Krakatau tidak berhenti.
Material baru kembali terbentuk setelah peristiwa 2018, menunjukkan bahwa tubuh gunung api dapat kembali tumbuh selama suplai magma dan aktivitas erupsi terus berlangsung.
Proses terbentuknya Anak Krakatau dapat dipahami sebagai bagian dari siklus panjang kawasan Krakatau: gunung api terbentuk, mengalami erupsi besar dan keruntuhan, meninggalkan kaldera, kemudian aktivitas magma kembali membangun gunung api baru di dalamnya.
Anak Krakatau yang dikenal saat ini merupakan salah satu fase terbaru dari siklus geologi tersebut, yang menunjukkan bahwa bentuk sebuah gunung api dapat berubah secara drastis dalam perjalanan sejarahnya.