Romo Boni: Toleransi Itu Urusan Hati

Arsito Hidayatullah
Romo Boni: Toleransi Itu Urusan Hati
Ilustrasi wawancara sosok Pastor Bonifasius Abas alias Romo Boni. [Suara.com / Teguh Lumbiria]

Bagi Romo Boni sendiri, memandu pasien Muslim yang kritis mengucap dua kalimat syahadat jelang ajal, adalah salah satu wujud toleransi.

Nah, bicara mengenai toleransi, ini erat kaitannya dengan pluralisme dan kemajemukan di Indonesia. Dan salah satu tokoh yang mengedepankan itu adalah KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Seperti apa Anda memandang seorang Gus Dur dan pluralisme?

Saya itu termasuk orang yang simpati kepada Gus Dur, dan saya merupakan orang yang menokohkan Gus Dur sebagai tokoh yang baik menurut saya.

Maka, ketika kita berhadapan dengan yang lain, kalau kita tidak pernah membuka diri, maka kita akan sulit untuk bisa saling menghargai.

Kalau kita membuka diri dengan orang lain, maka kita bisa saling menerima. Tidak hanya baiknya, tidak hanya cocoknya saja, tapi menerima perbedaannya.

Menurut Anda, apa yang khas dari diri Gus Dur dalam hal memaknai perbedaan dan kemajemukan?

Ketika ada clash (masalah), Gus Dur itu orang yang memandang tidak perlu diperbesar. Jadi Presiden saja, ketika ada clash, jawabnya 'gitu saja kok repot.'

Jadi, memang tidak perlu saling direpotkan dengan perbedaan. Mari kita saling introspeksi diri, mari kita selesaikan bagaimana baiknya. Karena semua itu tujuannya untuk kedamaian. Kalau tidak pernah berdamai, maka hidup akan berisi dengan tekanan.

Bagi saya, Gus Dur itu merupakan sosok, tokoh yang betul-betul punya hati, dan mau terbuka dengan siapa saja.

Satu hal, Romo Boni, bagaimana penilaian Anda mengenai toleransi dari masyarakat Majenang dan sekitarnya?

Saya baru satu tahun tugas di Majenang. Sebelumnya di Purwokerto, Makassar, Yogyakarta, Pekalongan, dan Banjarnegara. Dan saya melihat, teman teman secara umum, ya di Majenang, masyarakatnya cukup terbuka.

Pastor Bonifasius Abas alias Romo Boni di sela-sela acara Sarasehan dan Buka Bersama Memaknai Kesalehan Sosial, 27 Mei 2019, di Cilacap. [Suara.com / Teguh Lumbiria]
Pastor Bonifasius Abas alias Romo Boni di sela-sela acara Sarasehan dan Buka Bersama Memaknai Kesalehan Sosial, 27 Mei 2019, di Cilacap. [Suara.com / Teguh Lumbiria]

Terkait dengan itu, apakah ada tolok ukur dari kegiatan sarasehan yang baru saja dilaksanakan kemarin itu?

Dengan kegiatan kemarin (acara bertajuk 'Sarasehan dan Buka Bersama: Memaknai Kesalehan Sosial di Bulan Suci Ramadan' yang diadakan di Gereja Santa Theresia, Majenang, Cilacap, 27 Mei 2019 --Red), kan (melibatkan) bukan hanya Katolik dan Gusdurian. Tapi juga dengan NU, Muhammadiyah, lalu dengan gereja Kristen lain (yang) kita undang. Mereka hadir juga.

Dengan melihat itu, saya merasa bahwa orang di Majenang itu terbuka dan betul-betul punya hati. Dan saya rasa (mereka) sangat mendukung soal toleransi, soal kerja sama.

Dan yang istimewa, kemarin (peserta) membaur langsung. Orang tidak pusing, apakah kamu NU, kamu Muhammadiyah, atau saya Katolik. Orang semuanya membaur, jadi sama-sama duduk bareng. Ini Indonesia banget. Dan saya rasa soal toleransi di Majenang cukup berkembang.

Lantas, secara umum, bagaimana Anda memaknai kemajemukan di Indonesia?

Terkait kemajemukan di Indonesia, terutama mengenai agama, itu seperti orang naik gunung. Misal, kita naik lewat jalur utara, dan ada yang dari jalur selatan.

Kita tidak bisa menyalahkan orang yang naik gunung lewat jalan lain. Tapi, agama mengajarkan kita untuk setia dengan jalan yang kita pilih. Tentu ada perbedaan, tapi perbedaan ini bukan lantas membuat kita bertarung, tapi (harusnya) saling menerima dan memaafkan.

Menurut saya, agama ini (adalah) jalan yang menuntun kita menuju Tuhan. Maka, yang paling pokok bukan bagaimana membandingkan dengan yang lain, tapi bagaimana kita setia pada jalan yang kita pilih.

Kontributor : Teguh Lumbiria

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS