Gindring Waste: Tengkorak, Kritik Sosial, dan Kegelisahan Seniman di Tengah Intimidasi

Bangun Santoso | Suara.com

Kamis, 06 Maret 2025 | 08:05 WIB
Gindring Waste: Tengkorak, Kritik Sosial, dan Kegelisahan Seniman di Tengah Intimidasi
Seniman mural asal Magelang, Gindring Waste. (Foto: Istimewa)

Suara.com - Nama Gindring Waste identik dengan mural jalanan di Magelang. Kritik sosialnya tajam, satir, tapi juga seringkali penuh humor.

Tak hanya di lokalan Magelang, Gindring pernah menggelar pameran di pop-up area concept store SUPY, di Hong Dae, Korea Selatan. Di sana dia memamerkan sejumlah artwork edisi terbatas yang bernomor seri dan bertanda tangan.

Gindring menggunakan karakter tengkorak ala band horror punk Misfits sebagai media komunikasi gambar. Baginya tengkorak mewakili kejujuran manusia. Kejujuran seniman melihat kondisi di sekitarnya kemudian disampaikan berupa kritik melalui media kesenian. Belakangan ini, kekuasaan berusaha membungkam kritik-kritik itu.

Paling baru, kasus dugaan intimidasi terhadap band punk asal Purbalingga, Sukatani. Ada pihak yang tersinggung terhadap lirik lagu “Bayar Bayar Bayar” yang dinyanyikan Sukatani. Ada upaya membreidel kebebasan ekspresi berkesenian. Ruang yang seharusnya dijaga sebagai bentuk kontrol terhadap kekuasaan.

Dalam wawancara dengan Suara.com, Gindring menyampaikan kegelisahannya. Mewakili banyak seniman kritis yang saat ini merasakan bahwa situasi negara sedang tidak baik-baik saja.

Berikut petikan wawancara jurnalis Suara.com dengan Gindring Waste:

Bagaiamana anda melihat kebebasan berkesenian di hadapan kekuasaan saat ini?

Indonesia katanya negara demokrasi. Rakyat kan seharusnya boleh bersuara. Keran pendapat dibuka lebar. Seniman-seniman itu kan rakyat, seharusnya tidak apa-apa (diberi kebebasan) untuk mengritik. Tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Rasanya malah kayak masa-masa Orba (Orde Baru). Nggak cuma aku, seniman lain juga sambat. Mereka takut untuk menyuarakan bebas berekspresi. Termasuk aku ketar-ketir untuk berekspresi saat ini. Makanya aku memilih mengamankan diri karena ada keluarga. Jadi tidak bisa maksimal sebagai seniman untuk berekspresi saat ini.

Bagaimana sambat (curhat) teman-teman sesama seniman yang selama ini terbiasa melakukan kritik lewat seni?

Mereka mengeluh. Masak (kekuasaan) takut sama gambar? Masak takut sama musik? Takut sama mural? Berarti kan ada yang salah dari pemerintah. Kenapa kok takut dikritik. Itu jadi pertanyaan besar dari teman-teman seniman. Berarti ada sesuatu yang disembunyikan.
Mungkin (negara) akan di-militerkan sedikit demi sedikit. Tapi pakai cara yang halus. Nggak langsung sekejap.

Bagaimana seharusnya seniman yang sering melakukan kritik di jalan merespons sikap kekuasaan saat ini?

Ya seharusnya bebas sih, asal nggak mengejek. Kita seniman itu mengritik bukan mengejek. Sepertinya mereka itu merasa terejek. Berarti kritik itu bisa bener dong, wong mereka merasa terejek. Kalau mereka tidak seperti yang dikritik kan seharusnya diam saja. Kami melempar kritik hanya ingin menyuarakan apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat. Menyampaikan uneg-uneg masyarakat. Lewat seni kan lebih estetik.

Salah satu karya seniman mural Gindring Waste. (Foto: Istimewa)
Salah satu karya seniman mural Gindring Waste. (Foto: Istimewa)

Apa kemudian kekuasaan ini menyadari bahwa kritik lewat seni bisa lebih mengena bagi masyarakat?

Kritik lewat karya seni, musik, lagu kan bisa lebih over power. Lebih masuk ke masyarakat luas. Tapi masyarakat tidak sadar punya kekuatan. Kekuasaan kemudian takut kepada masyarakat yang tersadar. Dari lihat gambar, mendengar lirik lagu, rakyat bisa sadar apa yang terjadi selama ini. Apalagi liriknya jelas sekali ya. “Mau bikin gigs bayar polisi”? (Petikan lirik lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ yang dinyanyikan band Sukatani) Lirik itu kan nggak ngejek polisi. Itu realitanya. Tidak ada lirik ‘polisi an**ng’ yang menghina polisi misalnya. Kalau itu jelas ngejek.

Kita mau apa-apa jelas bayar polisi. Lirik di lagu itu nggak ada yang ngejek. Tapi kok bisa begitu karena mungkin ada yang tersinggung. Mungkin dia sadar atas kelakuannya. Akhirnya jadi serik. Seperti disadarkan (atas perilakunya) tapi tidak terima. Realitanya kan memang seperti itu. Kami seniman hanya menunjukkan kebenaran.

Nah kalau ada orang sudah melawan kebenaran, berarti jahat. Sesuatu yang sudah melawan nalar dan logika, biasanya buruk. Jahat. Seniman ingin menyingkap kebenaran itu. Kami itu aslinya simpel kok. Nggak cuma aku, tapi juga teman-teman seniman lain, cuma ingin hidup damai. Nggak ada pihak yang merugikan dan dirugikan.

Berarti sekarang situasinya tidak damai?

Secara sosial ekonomi kan nggak. Sekarang banyak tagar #kaburdulu, lha itu gimana? Itu kan berarti takut (situasi sedang menakutkan). Orang kabur itu kan gara-gara nggak nyaman. Ada sesuatu yang salah.

Dalam kasus band Sukatani, gimana respons Gindring?

Aku kaget. Soalnya aku ada hubungan juga dengan Sukatani. Sebagai seniman dan musisi. Aku sedang bikin cover lagu terbarunya dia (Sukatani). Single mereka. Lha kok tahu-tahu dia posting itu. Ya terus aku WA cuma nggak ada tanggapan, mungkin lagi sibuk atau sedang tidak lihat sosmed. Tanggapanku soal kasus itu ya, separah itukah? Aku tanya ke mereka tapi belum dijawab WA-ku sampai sekarang.

Karya street art Gindring Waste. (Dok. Pribadi)
Karya street art Gindring Waste. (Dok. Pribadi)

Jadi punya hubungan dekat dengan Sukatani?

Dekat. Aku kan juga punya band (Slappy Ratz), pernah manggung bareng. Mereka lihat aku main terus senang. ‘Gaweke cover laguku sing sesuk, anyar’ (buatkan cover laguku yang baru besok).
Cover lagunya sudah jadi tinggal launching. Cuma lagu ini nggak menyinggung kekuasaan sih. Lebih ke fenomena unik di sekitar. Aku sukanya mereka itu karena kejujuran berkarya. Dari desa, (kalau manggung) suka membagikan sayur, sesuai dengan namanya Sukatani. Aku yang paling suka mereka karena karyanya jujur. Keren sih.

Gindring secara pribadi mengidentifikasi diri sebagai street art nggak sih?

Bebas orang mau menyebut aku apa. Yang penting aku suka berkarya aja. Mungkin beda dengan seniman jalanan lainnya, karya Gindring juga jadi bahan koleksi orang.

Gimana memposisikan dua hal yang sekilas terkesan bertolak belakang itu?

Menurut aku street art dan seni kanvas itu soal sudut pandang saja. Hanya sebagai media. Kalau aku bosen di kanvas ya ke tembok. Kalau bosen di tembok ya balik lagi ke kanvas. Bahkan bisa ke skateboard. Aku menganggap itu semua cuma media. Bahkan kalau karyaku di tembok ditumpuki karya lain ya nggak apa. Fine saja. Misal sudah menggambar di tembok ya itu sudah milik publik. Yang penting aku sudah mendokumentasikan. Sudah difoto, disimpan, cukup. Setelahnya mau tumpuk, dicoret-coret luweh (terserah).

Gimana idealisme karya Gindring bisa diterima oleh mainstream?

Aku sebenarnya cuma menjadi diri sendiri. Membuat pasar sendiri itu juga sebenarnya tidak sengaja. Konsisten saja berkarya. Aku juga nggak tahu ternyata karyaku itu laku. Ada yang koleksi. Aku awalnya menggunakan seni sebagai media bicara karena aku nggak pinter nulis. Bersuara juga nggak dianggap. Makanya aku pakai mural buat mediaku bicara. Menyampaikan uneg-uneg. Sesimpel itu. Tak lakoni terus, ternyata didengarkan orang. Ya sudah aku lanjut terus sampai sekarang. Konsisten saja. Bahkan kalau kita konsisten, kita bikin pasar sendiri. Di musik juga begitu.

Musik noise itu siapa yang dengar?

Nyatanya ya ada. Jualan kaset record ada (yang beli). Mengadakan tur juga ada yang nampani (menonton). Apapun yang kita jual pasti ada yang beli. Wis aku yakin itu.

Gimana Gindring melihat masa depan street art yang sering mengritik kekuasaan saat ini?

Aku sampai sekarang masih belum berani ambil suara. Banyak kasus to. Sekarang sedang ingin menempatkan diri pada posisi damai. Jangan buat masalah. Sampai menunggu (situasi) reda. Aku gelisah makanya aku sekarang menuangkannya di kanvas. Tak simpen sik lah. Bukan untuk publik dulu. Belum saatnya juga. Banyak seniman yang gelisah dengan situasi sekarang cuma mereka mikir juga. Sekarang kan bisa Instagram ke-blokir, padahal sebagai mata pencaharian sehari-hari.
Sangat berisiko. Bukan hanya terhadap diri sendiri, tapi juga keluarga.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sukatani Akui Diintimidasi Polisi, Koalisi Masyarakat Sipil: Ini Tindak Pidana

Sukatani Akui Diintimidasi Polisi, Koalisi Masyarakat Sipil: Ini Tindak Pidana

News | Senin, 03 Maret 2025 | 06:05 WIB

Aksi Ruwatan Kepala Daerah di Akmil Magelang Berujung Represi Aparat, Sejumlah Mahasiswa Luka-luka

Aksi Ruwatan Kepala Daerah di Akmil Magelang Berujung Represi Aparat, Sejumlah Mahasiswa Luka-luka

News | Minggu, 02 Maret 2025 | 17:44 WIB

Usai Lagu Bayar Bayar Bayar Dibredel Hingga Vokalis Kena PHK Sepihak, Sukatani Umumkan Jadwal Manggung Terbaru

Usai Lagu Bayar Bayar Bayar Dibredel Hingga Vokalis Kena PHK Sepihak, Sukatani Umumkan Jadwal Manggung Terbaru

News | Minggu, 02 Maret 2025 | 15:32 WIB

Skandal Intimidasi Terbongkar! Sukatani Tegas Tolak Tawaran Kapolri

Skandal Intimidasi Terbongkar! Sukatani Tegas Tolak Tawaran Kapolri

Video | Minggu, 02 Maret 2025 | 15:00 WIB

Sudah Ada Iwan Fals Sebelum Sukatani, Denny Chasmala Sentil Polisi yang Baper Dikritik

Sudah Ada Iwan Fals Sebelum Sukatani, Denny Chasmala Sentil Polisi yang Baper Dikritik

Entertainment | Minggu, 02 Maret 2025 | 14:40 WIB

Tolak Jadi Duta Polisi Usai Diintimidasi, Sukatani Banjir Doa

Tolak Jadi Duta Polisi Usai Diintimidasi, Sukatani Banjir Doa

Entertainment | Minggu, 02 Maret 2025 | 12:25 WIB

Usai Dibredel, Kini Band Sukatani Difitnah Jual Lagu 'Bayar Bayar Bayar' ke Label Besar

Usai Dibredel, Kini Band Sukatani Difitnah Jual Lagu 'Bayar Bayar Bayar' ke Label Besar

Entertainment | Minggu, 02 Maret 2025 | 04:00 WIB

Terkini

Strategi Anggya Kumala Jadikan Oreo Gerakan Kebaikan Bagi Keluarga Indonesia

Strategi Anggya Kumala Jadikan Oreo Gerakan Kebaikan Bagi Keluarga Indonesia

wawancara | Senin, 23 Februari 2026 | 15:06 WIB

Feri Amsari Bongkar Sisi Gelap Korupsi Politik: Kasus Bisa 'Diciptakan' Demi Jerat Lawan!

Feri Amsari Bongkar Sisi Gelap Korupsi Politik: Kasus Bisa 'Diciptakan' Demi Jerat Lawan!

wawancara | Rabu, 18 Februari 2026 | 14:29 WIB

Kunardy Darma Lie, Ambisi Membawa KB Bank Jadi 10 Besar di Indonesia

Kunardy Darma Lie, Ambisi Membawa KB Bank Jadi 10 Besar di Indonesia

wawancara | Selasa, 06 Januari 2026 | 21:31 WIB

Prodjo Sunarjanto: Peluang Besar Logistik, Mobil Listrik hingga Tantangan dari Gen Z

Prodjo Sunarjanto: Peluang Besar Logistik, Mobil Listrik hingga Tantangan dari Gen Z

wawancara | Kamis, 04 Desember 2025 | 16:43 WIB

Rolas Sitinjak: Kriminalisasi Busuk dalam Kasus Tambang Ilegal PT Position, Polisi Pun Jadi Korban

Rolas Sitinjak: Kriminalisasi Busuk dalam Kasus Tambang Ilegal PT Position, Polisi Pun Jadi Korban

wawancara | Jum'at, 14 November 2025 | 21:09 WIB

Transformasi Sarana Menara Nusantara dari 'Raja Menara' Menuju Raksasa Infrastruktur Digital

Transformasi Sarana Menara Nusantara dari 'Raja Menara' Menuju Raksasa Infrastruktur Digital

wawancara | Senin, 13 Oktober 2025 | 14:33 WIB

Tatang Yuliono, Bangun Koperasi Merah Putih dengan Sistem Top Down

Tatang Yuliono, Bangun Koperasi Merah Putih dengan Sistem Top Down

wawancara | Senin, 29 September 2025 | 14:21 WIB

Reski Damayanti: Mengorkestrasi Aliansi dalam Perang Melawan Industri Scam

Reski Damayanti: Mengorkestrasi Aliansi dalam Perang Melawan Industri Scam

wawancara | Rabu, 10 September 2025 | 20:23 WIB

Andi Fahrurrozi: Engineer Dibajak Timur Tengah saat Bisnis Bengkel Pesawat Sedang Cuan

Andi Fahrurrozi: Engineer Dibajak Timur Tengah saat Bisnis Bengkel Pesawat Sedang Cuan

wawancara | Rabu, 27 Agustus 2025 | 20:36 WIB

Dewa Made Susila: Pasar Otomotif Sudah Jenuh, Saatnya Diversifikasi

Dewa Made Susila: Pasar Otomotif Sudah Jenuh, Saatnya Diversifikasi

wawancara | Kamis, 14 Agustus 2025 | 09:04 WIB