SUARA BANDUNG – Sampai saat ini, kepemimpinan perempuan masih mengalami berbagai hambatan, khususnya dalam sektor dunia politik.
Berdasarkan penelitian, terdapat kesenjangan gender dalam politik yang terjadi, menunjukkan banyaknya sebab dari kurangnya representasi perempuan, salah satunya yaitu budaya patriarki.
Budaya patriarki ini menempatkan laki-laki sebagai manusia unggul, sehingga mempengaruhi pandangan masyarakat dan memunculkan stereotipe negatif terhadap perempuan.
Hasil daripada pemantauan komnas perempuan, menunjukkan mengapa terjadi kurangnya repsentasi perempuan dalam politik adalah karena adanya anggapan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin.
Anggapan tersebut didukung oleh anggapan bahwa perempuan hanya bertanggung jawab pada urusan domestik, sebagaimana nenek moyang kita dulu.
Selain itu, perempuan juga dianggap kurang cakap dalam hal pengambilan keputusan besar dan dinilai memiliki kemampuan serta kecerdasan lebih rendah daripada laki-laki.
Sementara itu, perempuan harus berpartisipasi dalam politik untuk menyuarakan visinya, dan mendapatkan dukungan dari pemimpin atau tokoh masyarakat yang justru saat ini banyak didominasi oleh kaum laki-laki.
Maka, perlu diadakannya kampanye yang bertujuan untuk menyadarkan dan mengajak masyarakat untuk bisa merealisasikan cita-cita bangsa.
Sehingga dengan upaya ini, harapannya akan terjadi kesetaraan yang substansif antara laki-laki dan perempuan dalam sektor politik.
Perempuan perlu diberikan peluang yang lebih baik dalam dunia politik, yang mana hal itu perlu diciptakan dan diupayakan dengan adanya perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pejabat laki-laki di pemerintahan.(*/khanif)
Sumber : @komnasperempuan.