SuaraBandungBarat.id - Simak contoh naskah khutbah jumat berikut ini tentang hakikat taubat, segera memohon ampunan sebelum ajal menjemput.
Alam akhirat merupakan tujuan utama dari kehidupan, maka dari itu diusahakan jangan sampai membawa dosa ke sana.
Perbanyak memohon ampun kepada Allah SWT, bersedekah untuk mengurangi dosa ketika di dunia.
Berikut ini materi khutbah Jumat tentang hakikat taubat yang dikutip dari lirboyo.net pada Jumat, (17/2/2023).
Khutbah I
: (: )
Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT
Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, Khotib berwasiat kepada diri sendiri dan mengajak kepada hadirin sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT setiap harinya.
Sebab hanya dengan ketakwaan seorang Mukmin bisa disebut Mukmin sejati, dan hanya ketakwaanlah sebaik-baiknya bekal untuk menghadapi ujian di kehidupan dunia yang fana ini.
Baca Juga: 3 Tempat Wisata Hits di Subang Sepanjang 2023, Cocok Buat Healing bersama Pasangan
Hadirin yang di rahmati Allah SWT.
Kita sebagai hamba Allah SWT tidak lah memiliki sifat terjaga dari dosa dan kesalahan. Sifat terjaga dari kemaksiatan hanya dimiliki oleh para Nabi.
Sehingga, sangat mungkin bagi kita sebagai hamba Allah SWT, tukang bakso, tukang cukur, gubernur, para pejabat bahkan seorang kyai sekali pun sewaktu-waktu dapat melakukan dosa dan kesalahan.
Bahkan Rasullullah SAW suatu ketika menyampaikan kepada para sahabat:
: «
“Rosulullah SAW berkata; sesungguhnya salah satu dari kalian, walaupun mengamalkan amal ahli surga hingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali satu jengkal. Kemudian takdir menentukan ia melakukan amal ahli neraka, maka ia terjerumus ke dalam neraka. Sebaliknya, walaupun salah satu dari kalian mengamalkan amal ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali satu jengkal. Kemudian, takdir menentukan ia melakukan amal ahli surga, maka ia dapat masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang setiap harinya melakukan ibadah, seolah-olah sudah memiliki kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah SWT.
Jika sudah ditakdirkan melakukan kesalahan oleh Allah, maka ia tidak akan dapat terhindar dari melakukan kesalahan tersebut.
Barshisha al-‘Abid, begitulah orang-orang memberi gelar kepadanya. Predikat itu disematkan karena ia memang orang yang sangat tekun beribadah.
Bahkan, sampai-sampai malaikat pun terkagum atas ibadahnya. Ia juga merupakan seorang guru spiritual yang ulung.
Konon ia memiliki 60.000 murid yang semuanya berilmu tinggi dan memiliki keramat bisa terbang. Namun, di tengah kekaguman para malaikat itu, lantas Allah mengherankannya dengan berkata kepada para malaikat:
“Gerangan apa yang membuatmu begitu terkagum akan Barsisha. Padahal di dalam pandangan hakikatku, ia tak ubahnya seperti setan yang terkutuk.” Syahdan, Malaikat pun tercengang mendengarnya. Mereka mulai menerka-nerka akan takdir apakah yang membuatnya tersungkur ke dalam lembah derajat setan yang hina dina.
Singkat cerita di akhir hayatnya barshisha tergoda oleh rayuan syaitan. Mulai berbuat zina, membunuh wanita yang dizinahi dan pada puncaknya ia menyekutukan Allah SWT. Naudzubillah.
Para hadirin yang dirahmati Allah SWT.
Sebagai hamba Allah SWT yang selalu melakukan kesalahan demi kesalahan, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT.
Dengan bertaubat kepadanya, besar harpannya dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT.
Dalam sebuah hadist Qudsi disebutkan:
: ! !
“Wahai keturunan Adam, sesungguhnya selagi kalian berdoa dan berharap kepadaku, maka aku akan mengampuni dosa-dosa kalian dan aku tiada perduli. Wahai keturunan Adam andai dosa kalian sampai menyentuh awan-awan di langit, kemudian kalian meminta maaf kepadaku, maka aku akan mengampuni kalian. Wahai keturunan Adam andai kalian mendatangiku dengan kesalahan yang memenuhi bumi kemudian kalian mendatangiku, tidak menyekutukanku, maka aku akan datang dengan ampunan yang memenuhi bumi.” (HR. at-Turmudzi)
Maka dari itu kita sangat perlu untuk mengetahui hakikat taubat.
Hakikat taubat sebagaimana disampaikan Syaikh Muhammad Syakir as-Sakandari dalam karangannya Washoya al Aba’ lil Abna’, kitab yang menjadi mata pelajaran hampir di setiap pesantren yang ada di Indonesia:
.
“Taubat dari dosa tidak cukup hanya dengan kata-kata yang terucap, akan tetapi hakikat taubat adalah pengakuanmu dihadapan Allah SWT atas kesalahan yang kamu lakukan. Pengakuanmu bahwa kamu adalah pendosa yang berhak dihukum dengan hukuman yang telah dipastikan oleh Allah karena dosa itu. Merasa bersalah dan menyesal atas dosa yang dilakukan serta berjanji kepada Allah untuk tidak mengulangi dosa yang sama untuk selamanya. Kemudian dengan penuh harap meminta kepada Allah supaya dimaafkan dosa yang telah lalu. Jika Allah berkehendak maka Allah akan memberi ampunan. Jika berkehendak Allah akan memberikan hukuman.”
Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT
Semoga dosa-dosa yang telah kita lakukan diampuni oleh Allah SWT. Dan kita bisa meningkatkan kwalitas takwa kita kepada Allah SWT setiap harinya.
.
(: )
Khutbah II
. . . . . . . !
Demikian materi khutbah jumat tentang hakikat taubat, semoga bermanfaat.(*)