Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait ikut buka suara menanggapi viralnya aksi Ria Ricis dan sang suami, Teuku Ryan membawa anak mereka, Moana bermain jetski di tengah laut.
Adapun aksi Ria Ricis mengajak Moana bermain jetski ini sampai disorot oleh media asing.
Media asal Amerika Serikat, Insider ikut menyoroti aksi Ria Ricis itu dengan artikel yang menyebut seorang Youtuber mengajak anaknya bermain jetski tanpa pengaman.
Artikel Insider ditulis dengan judul "A YouTube mom with 30 million subscribers filmed her baby on a jet ski with no life jacket, sparking concern among viewers."
Buntut dari aksi Ricis yang sudah 'go internasional, Arist Merdeka Sirait pun ikut mengecamnya.
Menurut Arist, Ria Ricis perlu diingatkan karena melihat tanggapan dari dokter jika aksi tersebut berbahaya dan bisa memberi guncangan kepada bayi.
"(Ria Ricis) Harus diingatkan, silakan aja kalau mau diperiksa ada guncangan atau tidak seperti kata psikolog.
Jadi itu harus menjadi perhatian kita, inilah yang menyebabkan media asing itu memberi respons karena itu menurut dia tidak wajar, ngga mungkin mereka berkomentar kalau itu baik," ujar Arist, dikutip dari akun Instagram @lambegosiip, Kamis (12/1/2023).
Arist juga mengingatkan, setiap anak memiliki hak untuk menikmati waktu luang dan mengembangkan bakat dan minatnya sesuai dengan perjanjian internasional, Konvensi Hak Anak.
Baca Juga: Pengantin Baru asal Tanggamus Meninggal Kecelakaan, Sudah Dijemput Travel Tetap Ingin Naik Motor
Kendati demikian, hak anak tersebut harus diberi sesuai dengan perkembangannya.
Arist pun mengingatkan untuk jangan membahayakan anak hanya demi konten semata saja.
"Saya ingin sampaikan, pertama setiap anak di belahan dunia, termasuk di Indonesia punya hak untuk menikmati waktu luang. Kedua, setiap anak punya hak mengembangkan bakat dan minatnya.
Kalau mau mengembangkan bakat minat, apakah itu konten dan sebagainya tentu berdasarkan perkembangan anak itu sendiri.
Jangan memperkenalkan demi konten seperti yang dilakukan oleh (Ria Ricis), kan banyak kegiatan anak, pola pengasuhan, pola permainan, kan banyak di Indonesia," jelas Arist.