Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.092,467
LQ45 682,759
Srikehati 330,936
JII 470,691
USD/IDR 17.400

Pertumbuhan Produksi Listrik Indonesia Tertinggal Dibandingkan Vietnam

Doddy Rosadi | Suara.com

Selasa, 09 September 2014 | 13:37 WIB
Pertumbuhan Produksi Listrik Indonesia Tertinggal Dibandingkan Vietnam
Ilustrasi: Petugas mengecek trafo mobile di Gardu Induk PLN Karet Baru, Jakarta. (Antara/Puspa Perwitasari)

Suara.com - Salah satu akar masalah dari ketimpangan investasi antardaerah  adalah listrik. Pengamat Ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Agus Tony Poputra mengatakan, dari 30.320 MW kapasitas terpasang PLN pada 2009, sebanyak 75,55% berada di Jawa dan Bali.

Selain itu pada lingkup nasional, bila merujuk pada endowment rasio elektrifikasi Indonesia yang relatif rendah, maka pertumbuhan produksi listrik Indonesia Indonesia belum mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi.

Menyitir data pemerintah, Tony mengatakan, pada periode 2007-2011, pertumbuhan produksi listrik Indonesia rata-rata sebesar 6,41 persen. Angka ini di bawah Vietnam yang tumbuh rata-rata 10,30 persen.

“Kondisi ini menjelaskan, mengapa Vietnam yang sebelumnya sebagai negara terbelakang karena perang bisa melejit dengan pesat. Sebaliknya, Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam mengalami pembangunan yang kurang berkualitas,” ungkap Tony, dalam keterangan tertulis yang diterima suara.com, Selasa (9/9/2014).

Dari serangkaian akar masalah yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan suplai listrik Indonesia, terdapat 2 faktor yang cukup dominan. Pertama, lemahnya respons PLN terhadap kebijakan pemerintah yang menetapkan dua harga untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), yaitu harga subsidi dan harga keekonomian pada lebih dari 1 dekade lalu. PLN terlambat untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel ke sumber pembangkit yang lain, seperti batubara, panas bumi, dan sebagainya sesuai dengan ketersediaan lokal.

Kedua, luas jangkauan layanan PLN yang meliputi seluruh wilayah Indonesia membuat perusahaan plat merah itu tidak fokus. Mengingat Jawa dan Bali memiliki infrastruktur pendukung yang jauh lebih baik, maka investasi PLN banyak diarahkan ke wilayah ini.

Sebaliknya kawasan lain terutama Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang merupakan wilayah kepulauan dan terbatas dalam infrastruktur pendukung sehingga investment cost-nya tinggi, menjadi prioritas kesekian.

“Bila kondisi ini terus dibiarkan, maka wilayah-wilayah di luar Jawa dan Bali semakin tertinggal dalam investasi, karena investor potensial mensyaratkan ketersediaan energi listrik,” papar Tony.

Tony melanjutkan, setelah 69 tahun merdeka, Indonesia belum mampu mempersempit kesenjangan pembangunan antara Jawa dan daerah di luar Jawa, bahkan cenderung melebar. Salah satu pemicu utama dari kondisi ini adalah rendahnya investasi di luar Jawa.

Sebagai contoh, katanya, data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperlihatkan bahwa investasi asing tahun 2013 yang senilai USD 28,62 miliar teralokasi ke Jawa sebesar 60,54% dan Sumatera sebesar 11,86%. Dengan demikian hanya kurang dari 18% dilakukan di luar kedua wilayah tersebut.

Hal serupa, kata Tony, juga terjadi pada investasi domestik dimana nilai investasi sebesar Rp 128,15 triliun terserap di Jawa sebesar 51,89% dan Sumatera sebesar 17,88%. Sehingga yang tersisa bagi daerah lain hanya kurang 28%. Bila dibanding penyebaran investasi asing dan domestik pada tahun-tahun sebelumnya, terlihat pola yang mirip yaitu investasi sangat terkonsentrasi pada wilayah tertentu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

PT PLN Disarankan Dipecah Menjadi Tiga Perusahaan

PT PLN Disarankan Dipecah Menjadi Tiga Perusahaan

Bisnis | Senin, 08 September 2014 | 20:51 WIB

Tarif Listrik Naik, PLN Lebih Mudah Ngutang ke Luar Negeri

Tarif Listrik Naik, PLN Lebih Mudah Ngutang ke Luar Negeri

Bisnis | Rabu, 03 September 2014 | 14:45 WIB

Indonesia Kembangkan Biogas Listrik dari Kotoran Santri

Indonesia Kembangkan Biogas Listrik dari Kotoran Santri

Tekno | Rabu, 03 September 2014 | 07:43 WIB

Hari Ini, Tarif Listrik Delapan Golongan Kembali Naik

Hari Ini, Tarif Listrik Delapan Golongan Kembali Naik

Bisnis | Senin, 01 September 2014 | 11:51 WIB

Terkini

Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026

Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:25 WIB

Ukuran Tabung CNG 3 Kg Diprediksi Lebih Besar dan Berat dari LPG 12 Kg

Ukuran Tabung CNG 3 Kg Diprediksi Lebih Besar dan Berat dari LPG 12 Kg

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:10 WIB

BRILink Agen Tembus 1,18 Juta per Maret 2026, Jangkau Lebih dari 80% Desa di Indonesia

BRILink Agen Tembus 1,18 Juta per Maret 2026, Jangkau Lebih dari 80% Desa di Indonesia

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:10 WIB

Purbaya Sebut KEK Finansial di Bali Bakal Mirip Dubai, Tak Akan Tarik Pajak

Purbaya Sebut KEK Finansial di Bali Bakal Mirip Dubai, Tak Akan Tarik Pajak

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 18:50 WIB

MinyaKita Makin Mahal, Harganya Tembus Rp 22.000

MinyaKita Makin Mahal, Harganya Tembus Rp 22.000

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 18:10 WIB

Pengamat: Industri Baja RI Terancam Kehilangan Pelanggan

Pengamat: Industri Baja RI Terancam Kehilangan Pelanggan

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 18:03 WIB

Setor Rp213 Triliun ke Negara, IHT Kini Tertekan Kebjakan Pemerintah

Setor Rp213 Triliun ke Negara, IHT Kini Tertekan Kebjakan Pemerintah

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:55 WIB

Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?

Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:45 WIB

Pertagas Pegang Kendali Pipa Gas Cisem II

Pertagas Pegang Kendali Pipa Gas Cisem II

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:28 WIB

METI: Energi Hijau Bukan Sekadar Kurangi Emisi, Tapi Buka Peluang Ekonomi Baru

METI: Energi Hijau Bukan Sekadar Kurangi Emisi, Tapi Buka Peluang Ekonomi Baru

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:23 WIB