Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.485.000
IHSG 5.924,360
LQ45 589,254
Srikehati 291,550
JII 348,641
USD/IDR 18.064

Upaya Sumut Tekan Inflasi 2014 Tertahan Kenaikan BBM

Arsito Hidayatullah

Senin, 05 Januari 2015 | 03:05 WIB
Upaya Sumut Tekan Inflasi 2014 Tertahan Kenaikan BBM
Puluhan supir angkutan umum dalam kota melakukan aksi mogok beroperasi di Pekanbaru, Riau, Rabu (19/11/2014) lalu. (Antara)

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) dilaporkan berhasil menekan angka inflasi 2014 dibanding 2013, meski belum maksimal atau tinggal 8,17 persen.

"Tahun 2013, inflasi di Sumut sebesar 10,18 persen. Sedangkan tahun 2014 sebesar 8,17 persen," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Wien Kusdiatmono, di Medan, Minggu (4/1/2015).

Dikatakan Wien, meski sudah turun dibanding 2013, tetapi besaran inflasi 2014 itu masih jauh di atas target Pemprov Sumut yang sebesar 4,5 persen plus minus satu persen. Menurutnya, salah satu penyebab masih belum berhasilnya upaya menekan inflasi itu antara lain adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kenaikan BBM yang mencapai 14,17 persen pada November 2014, disebut mendongkrak inflasi pada Desember hingga 2,51 persen, dari sebelumnya masih 1,80 persen. Selain kenaikan BBM secara langsung, penyumbang inflasi tertinggi kedua adalah kenaikan harga tarif angkutan kota, yang notabene juga merupakan dampak kenaikan BBM.

Wien menjelaskan, di Medan saja misalnya, tarif angkutan dalam kota menurutnya menyumbang inflasi hingga sebesar 0,7 persen. Sementara setelah BBM dan tarif angkutan kota, kenaikan harga cabai merah, tarif listrik, serta beras, juga tercatat sebagai penyumbang inflasi.

Sehubungan dengan itu, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan IX (Sumut-Aceh), Difi A Johansyah, juga berharap dan bertekad bisa menekan angka inflasi di Sumut pada 2015 ini di angka 4 plus minus satu persen. Dengan inflasi sebesar itu menurutnya, diharapkan Sumut bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi daerah pada 2015 menjadi sekitar 5,8 persen.

Menurutnya lagi, besaran inflasi sendiri sangat mempengaruhi pergerakan pertumbuhan ekonomi, sehingga memang harus dikendalikan. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Inflasi Desember Meningkat, Ini Komentar Gubernur BI

Inflasi Desember Meningkat, Ini Komentar Gubernur BI

Bisnis | Jum'at, 02 Januari 2015 | 16:10 WIB

BBM Naik, Inflasi 2014 Lebih Rendah Dibandingkan Inflasi 2013

BBM Naik, Inflasi 2014 Lebih Rendah Dibandingkan Inflasi 2013

Bisnis | Jum'at, 02 Januari 2015 | 10:53 WIB

Kenaikan Harga BBM Bisa Dinilai Benar, Cuma Salah 'Timing'

Kenaikan Harga BBM Bisa Dinilai Benar, Cuma Salah 'Timing'

Bisnis | Sabtu, 20 Desember 2014 | 15:50 WIB

Menko Perekonomian Yakin Inflasi Pulih Januari

Menko Perekonomian Yakin Inflasi Pulih Januari

Bisnis | Selasa, 02 Desember 2014 | 06:14 WIB

Terkini

Purbaya Tolak Perpanjang Tenor Dana SAL Rp 200 Triliun Milik Pemerintah ke Himbara

Purbaya Tolak Perpanjang Tenor Dana SAL Rp 200 Triliun Milik Pemerintah ke Himbara

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:28 WIB

Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?

Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:19 WIB

Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB

Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:02 WIB

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:51 WIB

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:25 WIB

Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif

Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:10 WIB

Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran

Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:40 WIB

Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun

Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:35 WIB

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:04 WIB

Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116

Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:38 WIB

×