Kajian Pembangunan Buruk, Proyek Pelabuhan Cilamaya Pindah Lokasi

Arsito Hidayatullah, Dian Kusumo Hapsari

Kamis, 09 April 2015 | 18:17 WIB
Kajian Pembangunan Buruk, Proyek Pelabuhan Cilamaya Pindah Lokasi
Salah satu bagian dari Stasiun Kompresor Gas Cilamaya milik PT Pertagas dan Pertamina, yang menyalurkan gas dari pengeboran minyak lepas pantai milik Pertamina ke pelanggan. [Antara/Vitalis Yogi Trisna]

Suara.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mengungkapkan bahwa pembangunan Pelabuhan Cilamaya, di daerah Karawang, Jawa Barat (Jabar), terpaksa harus ditunda kembali. Ini lantaran kajian perencanaan pembangunan yang kurang lengkap, sehingga pembangunan pelabuhan terpaksa harus digeser ke timur Cilamaya.

Padahal diketahui, kajian tersebut telah berlangsung sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kini yang jelas, dengan adanya perubahan lokasi pembangunan tersebut, pemerintah harus melakukan studi kelayakan kembali, dan proses pembangunan pelabuhan pun bakal molor.

"Kajian Pelabuhan Cilamaya kemarin belum lengkap. Tidak memasukkan hal penting, seperti ada 200 anjungan dan sumur minyak gas (migas). Lalu (akhirnya) diputuskan tidak mungkin dibangun di Cilamaya," ungkap Menteri PPN/Kepala Bappenas, Andrinof A Chaniago, Kamis (9/4/2015), di Jakarta.

Andrinof mengatakan, sebagai alternatif atau pengganti, pembangunan pelabuhan akan bergeser ke arah timur, antara Subang ke Indramayu, dan bukan ke wilayah barat seperti Bekasi. Namun ditegaskannya, penentuan lokasi pelabuhan itu pun masih harus menunggu kajian tambahan.

"Karena lokasinya berpindah, mau tidak mau kita harus mengkaji kembali dengan melakukan studi kelayakan. Tapi ini sifatnya kajian tambahan, bukan mengulang kajian baru lagi, ya, dari yang sebelumnya. Nanti bakal dilihat kebutuhannya bagaimana, lokasinya bagaimana," jelasnya.

Rencananya, menurut Andrinof, kajian tambahan pembangunan Pelabuhan Cilamaya ini akan melibatkan pihak swasta, termasuk hingga ke pembangunannya.

"Nanti kita lihat mana yang lebih menguntungkan. Kalau pengennya sih swasta. Itu kalau bisa. Soalnya swasta kan enak, pemerintah tidak perlu keluar uang," terang Andrinof.

Dijelaskan Andrinof pula, kajian tambahan yang berisi tentang penentuan lokasi pelabuhan pengganti Cilamaya itu akan memakan waktu sekitar enam bulan. Itu artinya, kajian tersebut harus selesai pada tahun ini.

"Kajian itu untuk menentukan lokasi persis pelabuhan, sebagai bagian dari proses pembangunan," jelasnya.

Seperti diketahui, rencana pembangunan pelabuhan di Cilamaya terus mengalami penundaan, sejak mulai direncanakan pada tahun 2010 silam. Pemerintah telah membuat tim gabungan guna mengkaji rencana pembangunan pelabuhan di Cilamaya tersebut. Hasilnya pun telah diserahkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada awal bulan Maret lalu.

Penundaan masih harus terjadi, antara lain lantaran PT Pertamina (Persero) pernah melakukan penolakan atas rencana pembangunan pelabuhan tersebut, mengingat banyaknya aktivitas perminyakan di wilayah tersebut. Artinya, pembangunan tersebut bagi Pertamina berpotensi merugikan perusahaan. Tepatnya, lokasi pembangunan tersebut berada di jalur distribusi gas milik Pertamina, sehingga dinilai akan mengganggu pasokan energi ke industri, bahkan pasokan listrik untuk wilayah Jakarta.

"Pupuk Kujang dapat pasokan gasnya dari situ. Dia produksi 1 juta ton pupuk untuk pertanian. Kemudian listrik Jakarta juga dari ONWJ. Suplai gas untuk kilang Balongan juga. Kalau ini terganggu, maka BBM juga terganggu," ujar VP Corporate Communication PT Pertamina, Ali Mudakir, dalam satu kesempatan.

Sementara itu sesuai rencana awalnya, Pelabuhan Cilamaya yang hendak dibangun dinilai dapat memperlancar pengiriman barang di jalur laur. Hal itu karena akan dapat menghemat waktu tanpa harus berdesak-desakan di Pelabuhan Tanjung Priok, serta dapat menghemat biaya logistik karena perjalanan yang lebih singkat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tak Sanggup Biayai Sendiri, Swasta Dilibatkan Bangun Kereta Cepat

Tak Sanggup Biayai Sendiri, Swasta Dilibatkan Bangun Kereta Cepat

Bisnis | Kamis, 09 April 2015 | 17:32 WIB

Pemerintah Ajukan Syarat Pembangunan Proyek Pelabuhan Cilamaya

Pemerintah Ajukan Syarat Pembangunan Proyek Pelabuhan Cilamaya

Bisnis | Kamis, 09 April 2015 | 15:38 WIB

Pemerintah Siapkan Dana untuk Bangun 10 Kota Baru

Pemerintah Siapkan Dana untuk Bangun 10 Kota Baru

Bisnis | Selasa, 24 Maret 2015 | 14:41 WIB

Menteri PPN: Bangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Luar Jawa

Menteri PPN: Bangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Luar Jawa

Bisnis | Selasa, 16 Desember 2014 | 11:20 WIB

Terkini

Belajar Rupiah dari Anak-Anak: Nilainya Berbeda, Bangganya Harus Sama

Belajar Rupiah dari Anak-Anak: Nilainya Berbeda, Bangganya Harus Sama

Banten | Senin, 14 September 2026 | 20:54 WIB

Warga Rempang Pertanyakan Urgensi Sekolah Merah Putih: yang Sudah Ada Saja Kekurangan Murid!

Warga Rempang Pertanyakan Urgensi Sekolah Merah Putih: yang Sudah Ada Saja Kekurangan Murid!

News | Senin, 14 September 2026 | 20:52 WIB

'Biar yang Mampu Mandiri', Pramono Timbang Usulan Semua Pelajar Jakarta Gratis Transum

'Biar yang Mampu Mandiri', Pramono Timbang Usulan Semua Pelajar Jakarta Gratis Transum

News | Senin, 14 September 2026 | 20:52 WIB

MA Tolak Kasasi, Advokat Marcella Santoso Tetap Dihukum 15 Tahun Penjara

MA Tolak Kasasi, Advokat Marcella Santoso Tetap Dihukum 15 Tahun Penjara

News | Senin, 14 September 2026 | 20:47 WIB

Piala Saja Tidak Cukup! Ini Kunci Sukses Pelajar Indonesia Menembus Panggung Dunia

Piala Saja Tidak Cukup! Ini Kunci Sukses Pelajar Indonesia Menembus Panggung Dunia

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 20:46 WIB

Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan

Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 20:45 WIB

Kronologi Konser Kotak Mendadak Dihentikan: Bau Menyengat di Lagu ke-10, Tantri Sampai Sesak Napas

Kronologi Konser Kotak Mendadak Dihentikan: Bau Menyengat di Lagu ke-10, Tantri Sampai Sesak Napas

News | Senin, 14 September 2026 | 20:36 WIB

Bahas RUU Perampasan Aset Habiburokhman 'Ditodong' Pukat UGM: Buka Drafnya, Biar Kami Bedah!

Bahas RUU Perampasan Aset Habiburokhman 'Ditodong' Pukat UGM: Buka Drafnya, Biar Kami Bedah!

News | Senin, 14 September 2026 | 20:36 WIB

Dari Anak Sekolah hingga Orang Dewasa, 330 Warga Tangerang Dapat Akses Pendidikan

Dari Anak Sekolah hingga Orang Dewasa, 330 Warga Tangerang Dapat Akses Pendidikan

Banten | Senin, 14 September 2026 | 20:29 WIB

Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu

Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 20:21 WIB

×