Lewat Bisnis Kaligrafi, Perempuan Ini Tembus Pasar Dunia

Adhitya Himawan | Dian Kusumo Hapsari
Lewat Bisnis Kaligrafi, Perempuan Ini Tembus Pasar Dunia
Bisnis kaligrafi Mazidah Kurniati yang telah menembus pasar mancanegara [Suara.com/Dian Kusumo Hapsari]

Berawal dari kegemarannya pada seni kaligrafi, Mazidah Kurniati mampu memperkenalkan hasil karyanya di pasar Internasional

Berawal dari kegemarannya pada dunia seni terutama seni kaligrafi, Mazidah Kurniati wanita asal Magelang ini mampu memperkenalkan hasil karyanya di pasar Internasional. Dalam merintis karirnya dalam bisnis Industri Kecil Menengah (IKM), Mazidah tidak menyangka bahwa produknya kini sudah mejeng dibeberapa negara seperti Malaysia, Vietnam dan Filipina.

“Alhamdulilah sekarang sudah bisa ekspor ke beberapa negara. Saya juga nggak nyangka kalau sekarang bisa ekspor. Karena saya mengawali bisnis ini iseng aja, karena saya suka sama melukis atau buat kerajinan tangan, eh sekarang malah jadi sumber pendapatan saya,” kata Mazidah saat berbincang dengan suara.com Selasa (22/12/2015).

Perempuan yang lebih akrab dipanggil Mazidah ini bercerita, saat mengawali kariernya dalam bisnis seni kaligrafi, mantan karyawan bank swasta ini mulai memproduksi seni lukis kaligrafinya menggunakan kanvas seperti pada seni lukis lainnya. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, ia mulai berpikir untuk membuat sebuah inovasi yang lebih menarik agar produknya mempunyai ciri khas dibandingkan dengan seni kaliigrafi lainnya.

Kemudian, ia mencoba mengaplikasikan seni kaligrafi dengan menggunakan dasar kayu namun dibentuk sebagai pajangan yang bisa diletakkan di meja ruang tamu atau untuk mendekorasi rumah.

“Biasanya kaligrafi kan dilukis terus setelah itu dibingkai. Nah saya mikir-mikir lagi, kok kayaknya biasa aja, kurang menarik. Terus saya terinspirasi sama kayak hiasan di meja-meja gitu. Nah saya mulai coba buat seperti itu pakai bahan kayu. Nah yang beda, biasanya kalau pakai kayu kan warnanya kayu dipernis biasa, nah kita kasih warna yang bergambar lebih glamour agar nggak monoton aja,” ungkapnya.

Awalnya, kata Mazidah, bukan hal yang mudah untuk memasakan produk seni kaligrafi ini, pasalnya pasar seni kaligrafi sudah membludak di Indonesia. Namun, ia terus berusaha memasarkan produknya tersebut kepada orang-orang terdekatnya, terutama kepada teman-teman sekantornya dulu.

“Kalau dibilang susah ya susah mba. Kan pengusaha kaligrafi sudah banyak, makanya kita bikin inovasi yang beda dengan pengusaha lainnya. Saya jual ke teman sekantor saya, terus ke bos-bos di kantor saya waktu itu. Ternyata mereka suka, saya terus promosikan itu,” ungkapnya.

Ia juga mengaku, saat menjalankan bisnisnya pernah kehabisan modal lantaran harga bahan-bahan untuk memproduksi hasil kerajinan tangannya tersebut mengalami kenaikan. Ia bahkan hingga rela mengambil utang lewat bank agar bisnisnya tidak pupus begitu saja.

“Awalnya saya cuma punya modal Rp5 juta. Tapi kan satu bulan pertama ni belum balik modal, masih merugi terus. Ditambah lagi harga-harga pada naik waktu akhir 2014 lalu karena BBM naik, itu semua jadi naik, mulai harga kayu terus micanya. Pusing lah saya itu. Saya beranikan diri buat ngutang dululah ke bank waktu itu, kalau nggak nanti bisnis saya mati dong kalau nggak ambil keputusan,” katanya.

Namun, usaha dan kegigihannya dalam menjalankan bisnis kaligrafinya tersebut tak sia-sia, kini Mazidah sudah mampu mengekspor produknya hingga ke beberapa negara seperti Malaysia, Vietnam dan Filipina. Ia pun kini mampu mengantongi omzet Rp70 juta per bulan.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS