Hadi Nainggolan, Bocah Penjaja Kue yang Kini MenjelmaJadi Jutawan

Adhitya Himawan
Hadi Nainggolan, Bocah Penjaja Kue yang Kini MenjelmaJadi Jutawan
M Hadi Nainggolan. [banghadinainggolan.com]

Kemiskinan semasa kecil jadi cambuk untuk terjun dalam dunia bisnis.

Suara.com - Garis hidup perjalanan seseorang memang taka da seorangpun yang bisa mengetahuinya. Ini berlaku bagi siapapun termasuk Muhammad Hadi Nainggolan. Melihat sosoknya kini, orang mungkin tak percaya jika belasan tahun lalu Hadi Nainggolan semasa kecil kerap berkeliling kampung menjual kue demi membantu sang ibu untuk menafkahi keluarga. 

Dibesarkan di Desa Rimo, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, sejak usia 9 tahun, pria yang akrab di sapa Bang Hadi ini sudah berdagang menjual kue sepulang sekolah. Mau tak mau, jalan hidup ini terpaksa ia tempuh setelah sang ayah sakit stroke sehingga tak bisa bekerja. “Karena keterbatasan ekonomi ini, rutinitas ini saya tempuh setiap hari sehabis Salat Subuh. Sepulang sekolah, saya jualan lagi, jual es dalam termos,” kata Hadi saat diwawancarai oleh Suara.com di Jakarta, Rabu (6/4/2016).

Jika hari minggu, ia membantu sang ibu berjualan rempah-rempah dan hasil bumi di pasar. Tanggung jawab yang ia pikul semakin besar setelah sang ayah meninggal dunia saat dirinya kelas 6 SD. “Pengalaman hidup saya waktu kecil seharusnya diisi bermain. Tapi seperti ini takdir hidup saya yang telah digariskan Allah SWT dan justru ini membuat saya menjadi mandiri,” ujar pria kelahiran 25 April 1983.

Profesi dagang ia tekuni terus saat memasuki masa SMP dengan SMA.Saat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, Medan, ia membuka bisnis percetakan. Modalnya ia miliki dari hasil keuntungan berdagang melalui kios miliknya di pasar selama SMP dan SMA. Ia bahkan sempat memiliki properti dan kendaraan dari bisnis percetakannya.

Memasuki tahun 2011, Hadi memutuskan menjual seluruh asetnya di Medan. Ia memilih merantau ke Surabaya, Jawa Timur dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin ia menekuni bisnis batubara. Sayangnya komoditi batubara akhirnya melorot. “Dari situ saya berpikir bahwa kita harus merancang bisnis yang lebih bisa bertahan lama,” tutur Hadi.

Akhirnya mulai 1 Januari 2013, Hadi memutuskan merantau ke Ibu Kota Jakarta. Disinilah ia secara bertahap berhasil membangun tiga kelompok usaha. Pertama, Daun Agro Group yang bergerak di bidang usaha perdagangan kelapa kopra. Bahan bakunya dari Nusa Tenggara Timur yang didistribusikan oleh penyalur di Surabaya. Selain itu, ia menyediakan jasa konsultan perencanaan perkebunan sesuai basic pendidikan yang ia miliki. “Usaha ini ada di Medan, Banjaramasin dan Surabaya,” tambah Hadi.

Kedua, ia menjadi Chief Executive Officer (CEO) Langit Digital Group. Usaha ini adalah yang paling menjanjikan secara komersial dari tiga kelompok usaha yang ia miliki. Terdiri dari PT Langin Trans Digital, dengan fokus usaha pengadaan hardware point of sales disertai aplikasi casier web. Kemudian ada PT Langit Taktik Digital, ini fokus pada content digital marketing. Jadi jika ada orang butuh jasa konsultan untuk media social, social media monitoring serta pengelolaan brand (merek).

Selain itu, ada satu PT lagi yang akan diluncurkan yang menyediakan jasa sebagai situs belanja online (e-commerce) pada Juni 2016 mendatang. Namun e-commerce yang akan ia luncurkan lebih bersifat spesifik pada produk-produk tertentu. “Karena itu justru memiliki peluang lebih besar kepada pasar. Kalau situs belanja online terlalu general produknya yang ditawarkan, orang akan malas,” jelas pria berdarah campuran Tapanuli Utara dan Aceh Singkil tersebut.

Kelompok usaha yang ketiga ialah Graha Inspirasi, dimana Hadi juga sebagai founder sekaligus CEO. Graha Inspirasi didirkan pada tahun 2014. Ide mendirikan Graha Insprasi tersebut merupakan kelanjutan dari salah impiannya ketika mendirikan Moeslim Entrepreneur Coacing di Kota Medan, Sumatera Utara pada tahun 2009 silam. Salah satu impian yang belum terwujud adalah membuat sebuat sentra kegiatan "creative hub" berbagai komunitas untuk bertukar ide, belajar bersama, saling mendukung, berbagi ilmu dan bersinergi dalam proses pengembangan bisnis/usaha serta kreatifitas diri. 

Impian tersebut menjadi kenyataan ketika bang hadi bertemu dengan Ibu Riwandari Juniasti di Jakarta, yang akhirnya menjadi partnership untuk bersama-sama mendirikan Graha Inspirasi. “Awalnya ini ditujukan sebagai kegiatan sosial, namun kemudian berkembang menjadi usaha yang menjanjikan,” tutur Hadi.

Fokus usahanya ada 4. Pertama menyediakan jasa persewaan ruangan kantor di 7 tempat, mulai Kalimalang, Pancoran, Rawamangun, Senen dan beberapa tempat lain. Kedua, virtual office yang merupakan kantor bersama. Ini bagi pelaku usaha yang belum mampu menyewa ruang kantor sendiir. Ketiga, coworking space atau kantor harian bagi pelaku usaha yang belum mampu sewa kantor ataupun virtual office. Keempat, jasa pelatihan entrepreneur bagi kawula muda. “Yang terakhir ini bisa saja tak dipungut biaya jika ada sponsornya,” kata Hadi.

Hadi tak melulu mengisi hari-harinya dengan aktivitas bisnis. Ia aktif di beberapa Organisasi/Komunitas, ,mulai dari sebagai Co Founder Komunitas Memberi, Local President JCI Jakarta (Junior Chamber International) Jakarta tahun 2016, Sekretaris Forum Dialog BPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Sekretaris Jenderal PERJAKBI (Perhimpunan Pengusaha Jasa Kantor Bersama Indonesia), Wakil Sekretaris Jenderal DPP BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) dan beberapa organisasi lainnya.

Ia menolak menyebut penghasilan dari total usahanya dalam setahun. Namun dalam SPT tahun pajak 2015, ia membayar pajak Rp680 juta untuk pendapatan korporasi miliknya dalam setahun. “Mimpi saya selanjutnya, di usia 40 tahun bisa punya karyawan 25 ribu orang. Saya sekarang baru punya karyawan 47 orang. Sekarang bisnis saya memang sedang di fase kecil menuju ke menengah,” tutup Hadi sambal tersenyum simpul.  

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS