Dibanding Negara Berkembang, Infrastruktur RI Relatif Terbelakang

Adhitya Himawan

Rabu, 22 Juni 2016 | 14:45 WIB
Dibanding Negara Berkembang, Infrastruktur RI Relatif Terbelakang
Pekerja menyelesaikan pembangunan fisik rel kereta baru di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (22/1). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Indonesia berhasil keluar dari turbulensi ekonomi tahun 2015 dengan proyeksi pertumbuhan yang relatif kuat meskipun tetap menghadapi beberapa tantangan ekonomi kedepannya. Harga komoditas yang rendah menekan pendapatan pemerintah, perlambatan pertumbuhan di China membebani perdagangan, dan perkiraan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) telah menyebabkan tekanan arus modal keluar.

"Dengan kondisi tersebut, bagaimanapun, prospek pertumbuhan Indonesia relatif tetap tinggi sekitar 5 persen untuk 2016 serta sentimen internasional tetap positif," kata Ziad Daoud, Acting Head of Economic QNB Group dalam keterangan resmi, Rabu (22/6/2016).

Proyeksi bullish (tren naik atau menguat) ini terutama merupakan hasil dari dukungan terhadap program pemerintahan Jokowi yang sering disebut sebagai program investasi infrastruktur. Ini sebuah paket sebesar 480 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) (atau 50 persen dari Produk Domestik Bruto) yang dilaksanakan selama empat tahun (2015-2019), dengan fokus pada infrastruktur energi dan transportasi. "Indikasi-indikasi awal sangat meyakinkan. Investasi, yang terutama dipimpin oleh belanja publik di sektor infrastruktur, telah menambah sekitar dua poin persentase (pps) untuk pertumbuhan PDB riil sekitar 5 persen baik pada kuartal empat 2015 dan kuartal satu 2016," ujar Ziad.

Fokus pemerintah untuk mempersempit kesenjangan infrastruktur telah memperoleh justifikasi. Dibandingkan dengan negara-negara berkembang (emerging markets/EM) besar lainnya, Indonesia terlihat menonjol karena memiliki infrastruktur relatif terbelakang. Menurut World Economic Forum, Indonesia berada di peringkat 62 di antara 140 negara dalam hal kualitas infrastruktur, di belakang negara-negara berkembang/EM regional utama seperti Malaysia (24), China (39) dan Thailand (44). Ketersediaan infrastruktur yang sangat kurang di negeri ini adalah akibat dari kurangnya investasi yang kronis. Belanja modal publik rata-rata hanya mencapai 3,5 persen dari PDB selama tahun 2011-2014, dibandingkan dengan lebih dari 10 persen di China dan Malaysia dan di atas 5 persen di Thailand.

Sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau, kurangnya investasi di bidang infrastruktur telah sangat mempengaruhi konektivitas antara rumah tangga dan tempat kerja. Indonesia menderita kemacetan yang parah, penundaan dan kurangnya kapasitas di pelabuhan, bandara yang terlalu padat, sistem kereta api yang tidak memadai, kurangnya pasokan listrik dan air serta jaringan data yang lamban. Hal-hal tersebut meningkatkan biaya untuk melakukan bisnis, kesenjaangan ini begitu besar sehingga harga semen sepuluh kali lebih mahal di pulau Papua dibandingkan di Jakarta.

Ditinjau secara lebih luas, hal ini mengikis daya saing, menghambat investasi dan mengurangi potensi pertumbuhan Indonesia. Menambah dan meningkatkan kualitas infrastruktur dapat menjadi pendorong yang kuat bagi perekonomian Indonesia. "Dalam jangka pendek, akan meningkatkan permintaan domestik dan lapangan pekerjaan, dan dalam jangka panjang, hal itu dapat mendorong pertumbuhan produktivitas ekonomi secara luas," tutup Ziad.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pengamat Menilai Jokowi Menerapkan Rezim Pajak Kolonial

Pengamat Menilai Jokowi Menerapkan Rezim Pajak Kolonial

Bisnis | Selasa, 21 Juni 2016 | 14:26 WIB

Kesal Banyak Proyek Tol Swasta Mangkrak, Jokowi Ancam Ambil Alih

Kesal Banyak Proyek Tol Swasta Mangkrak, Jokowi Ancam Ambil Alih

Bisnis | Selasa, 21 Juni 2016 | 10:17 WIB

Jokowi Tinjau Pembangunan Jalan Tol di Jawa Barat

Jokowi Tinjau Pembangunan Jalan Tol di Jawa Barat

Bisnis | Selasa, 21 Juni 2016 | 09:57 WIB

Pemerintah Tak Sanggup Tuntaskan Tol Trans Sumatera di 2019

Pemerintah Tak Sanggup Tuntaskan Tol Trans Sumatera di 2019

Bisnis | Senin, 20 Juni 2016 | 14:51 WIB

Jalan Tol yang akan Dibangun Sampai 2019 Lebih dari 1.000 Km

Jalan Tol yang akan Dibangun Sampai 2019 Lebih dari 1.000 Km

Bisnis | Senin, 20 Juni 2016 | 13:10 WIB

Kunjungi Jawa Tengah, Jokowi Resmikan Tol Pejagan-Pemalang

Kunjungi Jawa Tengah, Jokowi Resmikan Tol Pejagan-Pemalang

Bisnis | Kamis, 16 Juni 2016 | 15:16 WIB

Jokowi: Kontribusi Laut ke PDB Nasional Masih Dibawah 30 Persen

Jokowi: Kontribusi Laut ke PDB Nasional Masih Dibawah 30 Persen

Bisnis | Rabu, 15 Juni 2016 | 15:33 WIB

Konsumsi Rumah Tangga Sumbang 50 Persen PDB Indonesia

Konsumsi Rumah Tangga Sumbang 50 Persen PDB Indonesia

Bisnis | Jum'at, 10 Juni 2016 | 08:27 WIB

Jokowi Saksikan Penandatanganan 6 Proyek Strategis Nasional

Jokowi Saksikan Penandatanganan 6 Proyek Strategis Nasional

Bisnis | Kamis, 09 Juni 2016 | 14:39 WIB

Jokowi Jengkel Enam Kali Rapat Soal LRT Belum Ada Keputusan

Jokowi Jengkel Enam Kali Rapat Soal LRT Belum Ada Keputusan

Bisnis | Rabu, 08 Juni 2016 | 14:57 WIB

Terkini

Persib Resmi Pinjamkan Bek Muda Dion Markx ke Persita

Persib Resmi Pinjamkan Bek Muda Dion Markx ke Persita

Jabar | Senin, 31 Agustus 2026 | 21:04 WIB

Tambang Ilegal di Bukit Soeharto Disikat Satgas PKH, Potensi Denda Tembus Rp147 Miliar

Tambang Ilegal di Bukit Soeharto Disikat Satgas PKH, Potensi Denda Tembus Rp147 Miliar

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:52 WIB

Purbaya Siapkan Teknologi Canggih Baru Deteksi Cukai Rokok, Libatkan Perusahaan Asing

Purbaya Siapkan Teknologi Canggih Baru Deteksi Cukai Rokok, Libatkan Perusahaan Asing

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:47 WIB

Bisa Picu Konflik Horizontal! Pengerahan Ormas saat Kerusuhan Demo DPR Disorot

Bisa Picu Konflik Horizontal! Pengerahan Ormas saat Kerusuhan Demo DPR Disorot

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:36 WIB

Desil Bansos Bukan Takdir, Begini Cara Mengoreksi Datanya

Desil Bansos Bukan Takdir, Begini Cara Mengoreksi Datanya

Your Say | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Apa Saja Mimpi yang Tidak Boleh Diceritakan Menurut Islam? Ini Penjelasan Ulama

Apa Saja Mimpi yang Tidak Boleh Diceritakan Menurut Islam? Ini Penjelasan Ulama

Lifestyle | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Aksi 'Duka' BEM SI Jatim di Grahadi: Sentil Anggaran Makan Bergizi Gratis di Tengah Bencana

Aksi 'Duka' BEM SI Jatim di Grahadi: Sentil Anggaran Makan Bergizi Gratis di Tengah Bencana

Jatim | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:24 WIB

Petronas Masuk Madura, Bahlil Kerek Target Lifting Minyak di RAPBN 2027

Petronas Masuk Madura, Bahlil Kerek Target Lifting Minyak di RAPBN 2027

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:21 WIB

Asap Berkurang, SF Hariyanto Sebut Penanganan Karhutla di Riau Terkendali

Asap Berkurang, SF Hariyanto Sebut Penanganan Karhutla di Riau Terkendali

Riau | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:21 WIB

Satgas Udara Telah Jatuhkan 3,5 Juta Liter Air untuk Tangani Kebakaran Hutan Indonesia

Satgas Udara Telah Jatuhkan 3,5 Juta Liter Air untuk Tangani Kebakaran Hutan Indonesia

Video | Senin, 31 Agustus 2026 | 20:20 WIB

×