Jokowi: Masyarakat Indonesia akan Malas Jika Disubsidi

Adhitya Himawan

Sabtu, 03 September 2016 | 19:53 WIB
Jokowi: Masyarakat Indonesia akan Malas Jika Disubsidi
Presiden Jokowi saat tiba dalam lawatan di negeri Cina, Jumat (2/9/2016). [Biro Pers Istana]

Presiden Joko Widodo di hadapan warga negara Indonesia yang tinggal, belajar dan bekerja di Cina bahwa pemerintah saat ini fokus pada keterbukaan dan kompetisi.

"Kompetisi tidak bisa kita tolak. Komitmen kita keterbukaan dan kompetisi," kata Presiden saat bertemu dengan 800 masyarakat Indonesia dari berbagai kota wilayah Cina di Shanghai, Sabtu (3/9/2016).

Dalam era kompetisi saat ini, Presiden mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing dan berkompetisi.

Jokowi juga mengatakan karakter masyarakat Indonesia akan malas jika disubsidi, namun akan hidup jika dihadapkan dalam persaingan.

Presiden mencontohkan Bank BNI dan BRI di tahun 70-an yang hanya memiliki kantor pelayanan kecil karena tidak ada persaingan.

Setelah masuknya bank swasta dan asing, kata Jokowi, kedua bank BUMN ini berbenah dan justru hidup dan memiliki keuntungan yang besar dan memiliki layanan yang bagus.

Presiden juga mencontohkan Pertamina, Garuda serta perusahaan lainnya yang justru tumbuh pesat ketika ada persaingan. "Saya hafal karekter orang Indonesia," katanya.

Untuk itu, Presiden berharap para WNI tengah menimba ilmu maupun bekerja di luar negeri, jika ingin kembali dan bekerja di Indonesia harus mempersiapkan keahlian dan keterampilan dalam berbagai bidang.

"Kalau yang di sini, misalnya sudah bekerja di Alibaba. Pulang ke Indonesia buatlah Alibaba Indonesia," kata Presiden.

Jokowi juga berharap WNI yang tinggal di Cina untuk mempelajari bagaimana negara Tirai Bambu ini dapat berkembang dengan sangat cepat.

"Kenapa mereka bisa mengerjakan rel kereta api setahun sejauh 2.000 kilometer, Indonesia baru saja akan membangun kereta cepat Jakarta-Bandung sejauh 140 kilometer saja ramainya bukan main (protes)," kata Jokowi.

Presiden mengungkapkan pada saat kunjungan pertamanya (2014) masih memiliki 18.000 kilometer rel kereta api, tetapi saat sudah 21.000 kilometer.

"Bagaimana kita mengejarnya," kata Presiden.

Untuk itu, kata Jokowi, WNI yang tinggal di luar negeri dan memiliki keahlian khusus dapat kembali untuk membangun Indonesia.

Presiden juga WNI di Cina dapat menjadi tenaga pemasaran untuk meningkatkan pariwisata dalam negeri.

"Warga Indonesia di Cina mengampanyekan Indonesia patut dikunjungi," kata Jokowi.

Menurut Presiden, Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai pesona alam sehingga layak dijadikan destinasi wisata bagi para wisatawan.

Namun, lanjutnya, jumlah wisatawannya kalah dengan Malaysia yang dikunjungi oleh 24 juta wisatawan mancanegara (wisman) dalam satu tahun, Thailand didatangi oleh 28 juta wisman, sedangkan Indonesia masih 9,8 juta wisman.

"Padahal tempat yang indah-indah di kita itu banyak sekali. Apa yang keliru, apa yang salah? Tahun 2019 harus sudah di atas 20 juta (wisman)," katanya.

Presiden juga mengungkapkan dirinya dan Presiden Cina Xi Jinping telah menandatangani kerjasama tentang pariwisata.

Kedua negara berupaya untuk mendatangkan sepuluh juta wisatawan asal Cina ke Indonesia dan upaya tersebut kini telah mulai mendatangkan hasil.

"Manado mulai bulan lalu terjadi peningkakan turisnya hingga 1.000 persen karena ada direct flight dari empat provinsi di sini (Tiongkok). Sekarang di Manado banyak bangun restoran, hotel. Banyak sekali," katanya.

Dalam pertemuan dengan WNI yang tinggal di Cina ini, Presiden yang didampingi Ibu Iriana Jokowi serta beberapa menteri, diantaranya Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menkominfo Rudiantara, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, Kepala BIN Sutiyoso, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Dubes Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Cina Sugeng Rahardjo.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tenaga Kerja Indonesia Tetap Harus Dilindungi di Era MEA

Tenaga Kerja Indonesia Tetap Harus Dilindungi di Era MEA

Bisnis | Senin, 15 Agustus 2016 | 09:31 WIB

Dibanding Negara Berkembang, Infrastruktur RI Relatif Terbelakang

Dibanding Negara Berkembang, Infrastruktur RI Relatif Terbelakang

Bisnis | Rabu, 22 Juni 2016 | 14:45 WIB

Menaker Dianggap Belum Berjuang Keras Selamatkan Rita

Menaker Dianggap Belum Berjuang Keras Selamatkan Rita

News | Kamis, 02 Juni 2016 | 11:09 WIB

DPR Dorong Pemerintah Beri Pembelaan Maksimal Terhadap Rita

DPR Dorong Pemerintah Beri Pembelaan Maksimal Terhadap Rita

News | Kamis, 02 Juni 2016 | 10:08 WIB

Menlu Harus Habis-habiskan Selamatkan Nyawa Rita di Malaysia

Menlu Harus Habis-habiskan Selamatkan Nyawa Rita di Malaysia

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 14:49 WIB

TKW Terancam Mati, Indonesia Diingatkan Jangan Gampang Hukum Mati

TKW Terancam Mati, Indonesia Diingatkan Jangan Gampang Hukum Mati

News | Selasa, 31 Mei 2016 | 20:48 WIB

Dede Yusuf: Ratusan Rita di Luar Negeri Terancam Hukuman Mati

Dede Yusuf: Ratusan Rita di Luar Negeri Terancam Hukuman Mati

News | Selasa, 31 Mei 2016 | 20:34 WIB

Jokowi Mau Investasi Industri & Manufaktur Prefektur Aichi Naik

Jokowi Mau Investasi Industri & Manufaktur Prefektur Aichi Naik

Bisnis | Jum'at, 27 Mei 2016 | 00:01 WIB

Terkini

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:44 WIB

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sport | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:43 WIB

Mantab! Tiga Atlet Muaythai Solo Tembus Semifinal Porprov 2026

Mantab! Tiga Atlet Muaythai Solo Tembus Semifinal Porprov 2026

Surakarta | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?

Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?

Sumsel | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:27 WIB

Sepatu Futsal Lokal Tembus Dunia, Ortuseight Siapkan Enam Lini Jogosala Terbaru

Sepatu Futsal Lokal Tembus Dunia, Ortuseight Siapkan Enam Lini Jogosala Terbaru

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Dari Kekalahan ke Pesta Gol, Shin Tae-yong Ungkap Perubahan Persija Saat Hajar Arema FC

Dari Kekalahan ke Pesta Gol, Shin Tae-yong Ungkap Perubahan Persija Saat Hajar Arema FC

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Fadli Zon Terima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara, Ini Alasan di Baliknya

Fadli Zon Terima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara, Ini Alasan di Baliknya

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:59 WIB

WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik

WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik

Sumsel | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Haji Isam Dikaitkan MSCI, Pakar Saham Minta Dibuktikan

Haji Isam Dikaitkan MSCI, Pakar Saham Minta Dibuktikan

Bisnis | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:50 WIB

×