Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.585.000
Beli Rp2.470.000
IHSG 6.037,842
LQ45 602,373
Srikehati 296,769
JII 356,005
USD/IDR 18.126

Kebijakan Plt Menteri ESDM Luhut Dikritik Makin Ngawur

Adhitya Himawan

Rabu, 12 Oktober 2016 | 16:00 WIB
Kebijakan Plt Menteri ESDM Luhut Dikritik Makin Ngawur
Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan saat ditemui di gedung BPPT, Jakarta Pusat, Senin (15/8/2016). [Suara.com/Dwi Bowo Raharjo]

Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean mengkritik  kebijakan Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan semakin hari semakin ngawur dan sangat tidak memiliki cita rasa kebangsaan. Hampir 2 bulan Luhut Binsar Panjaitan sebagai PLT Menteri ESDM pasca Archandra Tahar yang warga negara Amerika diberhentikan dari posisinya oleh Presiden Jokowi. Namun entah apa alasannya hingga sekarang Presiden Jokowi belum memutuskan dan melantik menteri ESDM yang baru.

"Apakah bangsa ini sudah tidak punya putra putri yang mampu jadi menteri ESDM atau Presiden tersandera dan ditekan oleh kekuatan tertentu hingga tidak berdaulat menentukan menterinya? Tidak ada yang tahu secara pasti. Hanya Presiden Jokowi yang tahu jawabannya," kata Ferdinand dalam keterangan tertulis, Rabu (12/10/2016).

Ferdinand mengingatkan bahwa saat ini kebutuhan bangsa sangat besar dengan sosok Menteri ESDM yang baru. Kebijakan yang berpihak pada bangsa sangat diperlukan sekarang mengingat sektor ini penuh masalah yang belum terselesaikan dan sektor ini mengelola Sumber Daya Alam yang nilainya puluhan ribu trilliun. "Tidak etis jabatan Menteri ESDM dikendalikan seorang Plt terlalu lama kecuali Presiden menganggap sektor ini tidak penting. Tapi sangat tidak mungkin Presiden menganggab sektor ESDM tidak penting mengingat sektor ini adalah salah satu urat nadi perekonomian bangsa," ujar Ferdinand.

Ia menambahkan selama 2 bulan Luhut Binsar Panjaitan menjadi Plt menteri ESDM, terlalu banyak kebijakannya yang liberal. Beberapa kebijakannya yang dikritik liberal antara lain: Pertama, pernyataan supaya PLN tidak beli murah batu bara. Menurutnya, semua pihak telah mengetahui bahwa Luhut juga berbisnis batubara, jadi kebijakan ini cenderung konflik interest. Kedua, tentang kebijakan hilir Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ingin dibuka bebas tanpa adanya upaya perlindungan kepada Pertamina. "Silahkan buka persaingan dengan azas kesamaan, asing jangan cuma main dikota besar, tapi wajib main diseluruh Indonesia hingga ke pelosok supaya adil dalam persaingan," jelas Ferdinand.

Ketiga, kebijakan campuran FAME 30 persen ke BBM Solar. Ini hanya menguntungkan pengusaha sawit saja dan merugikan Pertamina. Keempat, relaxasi ekspor konsentrat atau raw material yang dilarang UU Minerba. Ini cuma untungkan pengusaha dan merugikan negara. Kelima, upaya penghapusan pajak explorasi minyak, akan mengurangi pendapatan negara. Keenam, upaya impor gas dari luar untuk turunkan harga gas. "Kalau cuma bisa keluarkan kebijakan impor, anak kecil juga bisa. Menyelesaikan masalah harga gas bukan dengan impor. Produksi gas kita saja tidak terserap semua, kenapa malah mau impor gas? Ini kebijakan sangat dibawah standar seorang menteri," tutur Ferdinand.

Melihat hal tersebut diatas, ditambah permasalahan listrik 35 ribu Megawatt (MW) yang hingga sekarang tidak menunjukkan kemajuan dan bahkan berpotensi akan merugikan bangsa kedepan karena tidak mampu diurus Luhut. Ia mencontohkan transmisi dari Unggaran ke Mandirancan yang tidak jelas progresnya melahirkan ancaman denda trilliunan rupiah perbulan pada akhir 2018. "Hal ini perlu penangan serius dan tidak ditangani oleh orang yang besar konflik interestnya," ucap Ferdinand.

"Kami EWI, meminta dengan hormat kepada Presiden untuk segera melantik Menteri ESDM yang baru. Bangsa ini punya banyak putra putri yang mampu. Ada Milton Pakpahan Doktor Energi, ada Satya Yudha yang sudah kawakan disektor ini, ada Kurtubi yang nasionalis, ada Wawan gubernur OPEC Indonesia, ada Wiratmadja Pudja dirjen Migas dan ada banyak yang layak sehingga presiden tidak perlu berlama lama untuk menentukan menteri ESDM definitif," tutup Ferdinand.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Luhut Ingin Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dimulai di 2017

Luhut Ingin Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dimulai di 2017

Bisnis | Selasa, 11 Oktober 2016 | 20:07 WIB

Luhut Berharap Jepang Garap Kereta Semi Cepat Jakarta-Surabaya

Luhut Berharap Jepang Garap Kereta Semi Cepat Jakarta-Surabaya

Bisnis | Minggu, 09 Oktober 2016 | 04:05 WIB

Begini Jurus Luhut Atasi Dwelling Time di Pelabuhan Tanjung Priok

Begini Jurus Luhut Atasi Dwelling Time di Pelabuhan Tanjung Priok

Bisnis | Rabu, 05 Oktober 2016 | 16:22 WIB

Awasi Dwelling Time, Luhut Tempatkan Mata-mata di Tiap Pelabuhan

Awasi Dwelling Time, Luhut Tempatkan Mata-mata di Tiap Pelabuhan

Bisnis | Rabu, 05 Oktober 2016 | 15:09 WIB

Luhut Ingin Sektor ESDM Tampung Dana Tax Amnesty

Luhut Ingin Sektor ESDM Tampung Dana Tax Amnesty

Bisnis | Selasa, 04 Oktober 2016 | 14:53 WIB

Luhut Ajak Arcandra Ke Jepang Bahas Blok Masela

Luhut Ajak Arcandra Ke Jepang Bahas Blok Masela

Bisnis | Selasa, 04 Oktober 2016 | 14:24 WIB

Luhut Mengaku Terima Pujian di AS Terkait Tax Amnesty

Luhut Mengaku Terima Pujian di AS Terkait Tax Amnesty

Bisnis | Selasa, 04 Oktober 2016 | 14:20 WIB

Luhut Akui Ada Kemungkinan Archandra Jadi Menteri ESDM Lagi

Luhut Akui Ada Kemungkinan Archandra Jadi Menteri ESDM Lagi

Bisnis | Selasa, 04 Oktober 2016 | 13:33 WIB

Luhut Minta Pembenahan Sektor ESDM dengan Kerja Cepat

Luhut Minta Pembenahan Sektor ESDM dengan Kerja Cepat

Bisnis | Selasa, 04 Oktober 2016 | 13:09 WIB

Luhut Optimis Pulau Jawa Sepenuhnya Terhubung Jalan Tol di 2019

Luhut Optimis Pulau Jawa Sepenuhnya Terhubung Jalan Tol di 2019

Bisnis | Senin, 03 Oktober 2016 | 19:08 WIB

Terkini

Polemik Revisi UU Hak Cipta, Google Respon Wacana Pemerintah

Polemik Revisi UU Hak Cipta, Google Respon Wacana Pemerintah

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 17:07 WIB

Setoran Freeport ke Negara Turun Menjadi USD 2,6 Miliar pada 2026

Setoran Freeport ke Negara Turun Menjadi USD 2,6 Miliar pada 2026

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:52 WIB

Bahlil Diserang PDIP Soal Batu Bara PLN, Ade Ginanjar Pasang Badan: Jangan Politisasi Energi

Bahlil Diserang PDIP Soal Batu Bara PLN, Ade Ginanjar Pasang Badan: Jangan Politisasi Energi

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:46 WIB

IHSG Bertahan di Atas 6.000, Tapi Dihantam Saham Perbankan

IHSG Bertahan di Atas 6.000, Tapi Dihantam Saham Perbankan

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:40 WIB

Tak Sekadar Chatbot, Investor Ritel Bisa Manfaatkan AI untuk Analisis Saham

Tak Sekadar Chatbot, Investor Ritel Bisa Manfaatkan AI untuk Analisis Saham

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:28 WIB

Rupiah Menguat Tipis Berkat Sentimen Positif S&P Global Ratings

Rupiah Menguat Tipis Berkat Sentimen Positif S&P Global Ratings

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:28 WIB

Aturan Kemasan Rokok Polos Dinilai Ancam 1,2 Juta Lapangan Kerja

Aturan Kemasan Rokok Polos Dinilai Ancam 1,2 Juta Lapangan Kerja

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:23 WIB

Pengangkatan Keponakan Menteri PU Jadi Komisaris PTPP Atas Usulan BP BUMN-Danantara

Pengangkatan Keponakan Menteri PU Jadi Komisaris PTPP Atas Usulan BP BUMN-Danantara

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:18 WIB

Ajinomoto Indonesia Jadi Pelopor PMR Proaktif, Raih PMR Award 2026 dari BPOM

Ajinomoto Indonesia Jadi Pelopor PMR Proaktif, Raih PMR Award 2026 dari BPOM

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 15:59 WIB

Kas Seret, Pos Indonesia Tunda Bayar Imbal Jasa Sukuk Rp24,11 Miliar

Kas Seret, Pos Indonesia Tunda Bayar Imbal Jasa Sukuk Rp24,11 Miliar

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 14:42 WIB

×