Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.699.000
Beli Rp2.575.000
IHSG 6.172,340
LQ45 616,921
Srikehati 300,840
JII 375,650
USD/IDR 17.821

Unik, BPS Sebut Ini Penyebab Utama Kemiskinan di Bengkulu

Dythia Novianty

Jum'at, 05 Januari 2018 | 07:19 WIB
Unik, BPS Sebut Ini Penyebab Utama Kemiskinan di Bengkulu
Pemukiman kumuh. [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Kemiskinan kerap dikaitkan dengan tingkat konsumtif masyarakatnya. Uniknya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan rokok menjadi salah satu penyebab utama kondisi kehidupan masyarakat di Provinsi Bengkulu terjebak pada garis kemiskinan.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu Dyah Anugrah Kuswardani di Bengkulu, menyebutkan bahwa rokok berada di posisi kedua teratas setelah beras dalam menyumbang kemiskinan atau dengan porsi yang mencapai sekitar 13 persen.

"Kalau beras bisa diupayakan pemerintah dengan berbagai program bantuan, seperti beras sejahtera, kalau rokok tidak. Jadi bisa di bilang, andil tertinggi bisa berada pada rokok," kata dia, Jumat (5/1/2018).

Jika lebih terperinci lagi, ujar dia, kemiskinan perkotaan di Bengkulu, yang tertinggi didorong oleh komoditas beras sebesar 16,46 persen dan di posisi kedua adalah rokok dengan menyumbang sekitar 13,5 persen.

Hampir sama dengan perkotaan, ujar dia, di perdesaan penyumbang tertinggi juga beras dengan porsi 25,47 persen dan di posisi kedua juga rokok dengan angka serupa, yakni sebesar 12,25 persen.

"Jika dilihat proporsi rokok, baik di kota maupun desa, angkanya sama. Ini menunjukkan bahwa rokok ikut menjadi komponen utama di Provinsi Bengkulu menyebabkan masyarakat tetap berada di garis kemiskinan," kata dia.

Sampai September 2017, kata Dyah, jumlah penduduk miskin Provinsi Bengkulu yakni sebanyak 302.620 orang atau sekitar 15,59 persen dari total jumlah penduduk di daerah itu.

Untuk perdesaan dicatat terdapat 205.470 penduduk miskin atau sekitar 15,67 persen dan perkotaan sebanyak 15,41 persen dari total penduduk atau 97.150 jiwa.

"Kita bersyukur pada 2017 ini kemiskinan Bengkulu turun sekitar 1,44 persen dibandingkan dengan 2016 lalu, tapi penyumbang tertinggi terbesar tetap beras dan rokok," tutupnya. [Antara]

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jokowi Perintahkan Angka Kemiskinan Terus Ditekan

Jokowi Perintahkan Angka Kemiskinan Terus Ditekan

Bisnis | Kamis, 04 Januari 2018 | 12:04 WIB

BPS: Tarif Angkutan Udara Picu Inflasi Desember

BPS: Tarif Angkutan Udara Picu Inflasi Desember

Bisnis | Selasa, 02 Januari 2018 | 12:24 WIB

Bappenas Klaim Angka Kemiskinan 2017 Turun dari 2 Tahun Lalu

Bappenas Klaim Angka Kemiskinan 2017 Turun dari 2 Tahun Lalu

Bisnis | Senin, 18 Desember 2017 | 19:01 WIB

Sri Mulyani: Dana Desa Belum Efektif Turunkan Kemiskinan

Sri Mulyani: Dana Desa Belum Efektif Turunkan Kemiskinan

Bisnis | Senin, 18 Desember 2017 | 13:00 WIB

Oktober 2017, Kinerja Ekspor Naik 3,62 Persen

Oktober 2017, Kinerja Ekspor Naik 3,62 Persen

Bisnis | Rabu, 15 November 2017 | 13:13 WIB

Penurunan Angka Kemiskinan Melambat, Pemerintah Harus Agresif

Penurunan Angka Kemiskinan Melambat, Pemerintah Harus Agresif

Bisnis | Jum'at, 27 Oktober 2017 | 10:42 WIB

Terkini

Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Kembali Sentuh Level Rp17.850

Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Kembali Sentuh Level Rp17.850

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:28 WIB

Dibuka Melemah, IHSG Langsung Gacor Setelah Pengumuman MSCI

Dibuka Melemah, IHSG Langsung Gacor Setelah Pengumuman MSCI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:16 WIB

88 Persen UMKM Masih Andalkan Dana Pribadi, Perbanas Dorong Penggunaan Kredit

88 Persen UMKM Masih Andalkan Dana Pribadi, Perbanas Dorong Penggunaan Kredit

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:00 WIB

Negara Hemat Rp3 Triliun Karena MBG Disetop, Pengusaha Protes: Ganggu Stabilitas

Negara Hemat Rp3 Triliun Karena MBG Disetop, Pengusaha Protes: Ganggu Stabilitas

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 09:00 WIB

MSCI Bongkar Borok Bursa RI di Mata Investor Global, Informasi Saham Tidak Selalu Berbahasa Inggris

MSCI Bongkar Borok Bursa RI di Mata Investor Global, Informasi Saham Tidak Selalu Berbahasa Inggris

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 08:16 WIB

Tak Lagi Bebas, OJK Batasi Kepemilikan Asing dan Atur Ulang Bisnis BNPL

Tak Lagi Bebas, OJK Batasi Kepemilikan Asing dan Atur Ulang Bisnis BNPL

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 08:09 WIB

Ekspor Sawit Terancam Mandek, Pengusaha Wanti-wanti Layanan DSI

Ekspor Sawit Terancam Mandek, Pengusaha Wanti-wanti Layanan DSI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 08:09 WIB

Layani 301 Ribu Penumpang, ASDP Perbesar Pelabuhan Tanjung Uban

Layani 301 Ribu Penumpang, ASDP Perbesar Pelabuhan Tanjung Uban

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 08:05 WIB

Emiten Teknologi ELIT Tahan Dividen untuk Ekspansi Bisnis

Emiten Teknologi ELIT Tahan Dividen untuk Ekspansi Bisnis

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 07:58 WIB

PGN-BRIN Kembangkan Minapadi Salin, Bidik Hasil Padi 7 Ton per Hektare

PGN-BRIN Kembangkan Minapadi Salin, Bidik Hasil Padi 7 Ton per Hektare

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 07:55 WIB