Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.625.000
Beli Rp2.490.000
IHSG 5.896,134
LQ45 583,722
Srikehati 289,560
JII 342,327
USD/IDR 17.905

KLHK Dukung Pengembangan Industri Sutera Lewat Perhutanan Sosial

Fabiola Febrinastri

Selasa, 06 November 2018 | 15:30 WIB
KLHK Dukung Pengembangan Industri Sutera Lewat Perhutanan Sosial
Peluncuran "Perhutanan Sosial berbasis Sutera Alam", di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Senin (5/11/2018). (Dok:KLHK)

Suara.com - Sebagai produsen sutera ke-9 di dunia, Indonesia memiliki potensi budi daya sutera alam yang tinggi. Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif, karena kualitas benang yang dihasilkan sangat bagus.

Budi daya sutera alam cocok dikembangkan di negara-negara tropis, karena murbei, yang merupakan pakan ulat sutera, tumbuh sepanjang tahun. Kondisi ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan komoditas tersebut secara luas.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Justianto, menyampaikan, Indonesia mempunyai beberapa faktor pendukung bagi pengembangan sutera alam. Salah satunya, kondisi agroklimat dengan dua musim yang sesuai untuk pengembangan sutera.

Teknologi yang digunakan pun relatif sederhana, dan adanya gap supply, demand produk sutera yang cukup besar, merupakan peluang pasar yang terbuka lebar.

“Budi daya sutera alam juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain antusiasme masyarakat yang rendah karena rendahnya harga sutera lokal, dan ketidakpastian harga serta tingkat produktivitas yang belum optimal. Belum optimalnya produktivitas budi daya sutera alam disebabkan karena penggunaan bibit ulat dan pakan daun murbei yang berkualitas rendah,” jelasnya.

Panen kokon perdana telur ulat sutera dan peluncuran "Perhutanan Sosial berbasis Sutera Alam", di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Senin (5/11/2018). (Dok: KLHK)
Panen kokon perdana telur ulat sutera dan peluncuran "Perhutanan Sosial berbasis Sutera Alam", di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Senin (5/11/2018). (Dok: KLHK)

Oleh karena itu, BLI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KLHK, melakukan transfer teknologi pengembangan telur ulat sutera dan murbei hibrida. BLI menerapkan teknologi ini kepada Kelompok Tani Hutan (KTH), yang menjadi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bina Mandiri Sukabumi, Jawa Barat.

“Aplikasi penggunaan bibit unggul persuteraan alam hasil inovasi Badan Litbang dan Inovasi, dengan hibrid ulat PS 01, dan hibrid murbei SULI 01 ini merupakan salah satu upaya membangkitkan kembali pengembangan persuteraan alam di daerah potensial yang memiliki kesesuaian agroklimat,” kata Agus.

Kegiatan pengembangan telur ulat sutera dan murbei hibrida dilakukan melalui skema kemitraan kehutanan antara KUPS Bina Mandiri dengan PT. Begawan Sutera Nusantara.

“Negara memberikan izin kepada masyarakat untuk mengelola hutan melalui skema Perhutanan Sosial dengan Perhutanan Sosial. Masyarakat dapat bermitra dengan siapapun untuk mengembangkan usahanya. Harapannya, hal ini dapat meningkatkan pendapatan melalui pengembangan komoditas, yaitu hasil hutan bukan kayu,” ujar Direktur Jenderal PSKL, Bambang Supriyanto, saat panen kokon perdana telur ulat sutera dan peluncuran "Perhutanan Sosial berbasis Sutera Alam," di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Senin (5/11/2018).

baca juga

Bambang berharap,  pendekatan pendampingan teknologi dari litbang dapat meningkatkan produktivitas.

"Nilai tambah dapat diambil oleh masyarakat, ketika kokon jadi tidak langsung dijual, tetapi diproses kelompok tani menjadi benang. Indikator keberhasilan Perhutanan Sosial adalah ketika akses kelola sudah diberikan, kemudian kerja sama sudah dibuat, dan ketua kelompok dapat menjadi lokal champion. Ke depan, ketika telah terbentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), harus ada kemandirian dan kelanjutan yang terus ditingkatkan oleh kelompok tani. Jika usahanya sudah bagus, maka mereka dapat bekerja sama skema bagi hasil dengan BLU, dengan terlebih dahulu  mengajukan proposal. Petani dapat juga mengajukan KUR (kredit usaha rakyat) dengan bank Mandiri/BTN/BNI/BRI. Di lokasi ini, diharapkan dapat dikembangkan sekolah lapang untuk petani-petani sutera yang lain, sehingga dapat menjadi modal pengembangan usaha sutera alam Indonesia," jelasnya.

Panen kokon perdana telur ulat sutera dan peluncuran "Perhutanan Sosial berbasis Sutera Alam", di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Senin (5/11/2018). (Dok: KLHK)
Panen kokon perdana telur ulat sutera dan peluncuran "Perhutanan Sosial berbasis Sutera Alam", di Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Senin (5/11/2018). (Dok: KLHK)

Sebelumnya, Ditjen PSKL, melalui Direktorat Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat (BUPSHA) telah memfasilitasi pembentukan tujuh kelompok pengelola Hutan Rakyat (HR) persuteraan alam menjadi tujuh KUPS.

"Dengan KUPS diharapkan dapat membuka peluang pekerjaan dan meningkatkan jumlah dan kualitas produksi kokon sutera guna memenuhi kebutuhan industri kesuteraan alam," tutur Bambang.

Ia menambahkan, pesuteraan alam merupakan kegiatan yang dapat dilakukan oleh seluruh keluarga dan ramah gender.

"Melalui perhutanan sosial berbasis persuteraan alam inilah, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus juga menjaga kelestarian lingkungan, karena tanaman murbei yang merupakan pakan ulat sutera, juga dapat berfungsi sebagai tanaman rehabilitasi, dan pencegah erosi," pungkasnya.

Kolaborasi para pihak di KUPS Bina Mandiri menjadi titik penting dalam pengembangan program sejenis di lokasi lain. Dengan skema perhutanan sosial lainnya, seperti hutan rakyat, hutan desa, maupun kemitraan kehutanan, hal ini dapat mendorong industri sutera alam nasional untuk bangkit kembali.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?

Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:05 WIB

BPDLH Luncurkan Skema Blended Finance, Dorong Pembiayaan Perhutanan Sosial Berkelanjutan

BPDLH Luncurkan Skema Blended Finance, Dorong Pembiayaan Perhutanan Sosial Berkelanjutan

News | Selasa, 28 April 2026 | 12:41 WIB

70 Persen Warga Gantungkan Hidup dari Hutan, Perhutanan Sosial Jadi Harapan Solok Selatan

70 Persen Warga Gantungkan Hidup dari Hutan, Perhutanan Sosial Jadi Harapan Solok Selatan

News | Kamis, 10 Juli 2025 | 09:34 WIB

Perempuan 'Ujung Tombak' Perhutanan Sosial, Veronica Tan: Kesetaraan Gender Bukan Cuma Isu Sosial

Perempuan 'Ujung Tombak' Perhutanan Sosial, Veronica Tan: Kesetaraan Gender Bukan Cuma Isu Sosial

News | Kamis, 08 Mei 2025 | 09:52 WIB

Wamen PPPA Veronica Tan Akui Perempuan Jadi Tulang Punggung Perhutanan Sosial

Wamen PPPA Veronica Tan Akui Perempuan Jadi Tulang Punggung Perhutanan Sosial

News | Kamis, 08 Mei 2025 | 07:08 WIB

Prabowo Subianto Tegaskan Lanjutkan Program Perhutanan Sosial

Prabowo Subianto Tegaskan Lanjutkan Program Perhutanan Sosial

Kotak Suara | Minggu, 17 Desember 2023 | 17:49 WIB

Arahan Jokowi, KSP Integrasikan 82 Program Pemberdayaan Masyarakat Perhutanan Sosial

Arahan Jokowi, KSP Integrasikan 82 Program Pemberdayaan Masyarakat Perhutanan Sosial

News | Kamis, 03 Agustus 2023 | 06:06 WIB

Legiman Bingung Diajak Ngobrol Jokowi Soal Pemanfaatan Lahan, Dikit-dikit Sebut Pak RT

Legiman Bingung Diajak Ngobrol Jokowi Soal Pemanfaatan Lahan, Dikit-dikit Sebut Pak RT

News | Rabu, 22 Februari 2023 | 19:45 WIB

Terkini

Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Perang AS-Iran Bisa Picu Penguatan?

Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Perang AS-Iran Bisa Picu Penguatan?

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:02 WIB

Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong

Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 19:34 WIB

Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI

Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:57 WIB

Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus

Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 16:36 WIB

Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco

Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 15:51 WIB

Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris

Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 15:25 WIB

Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?

Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 14:55 WIB

Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?

Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 14:07 WIB

Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris

Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 13:51 WIB

Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam

Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 13:39 WIB

×