Pemain Industri Mebel dan Kayu dari Seluruh Dunia Berkumpul di IFMAC

Iwan Supriyatna
Pemain Industri Mebel dan Kayu dari Seluruh Dunia Berkumpul di IFMAC
Pameran International Furniture Manufacturing Components (IFMAC)

Tradewar antara China dan AS juga merupakan peluang bagi Indonesia untuk mengambil pasar furniture di AS yang ditinggalkan China.

Suara.com - International Furniture Manufacturing Components (IFMAC) menghadirkan teknologi-teknologi yang dibutuhkan bagi industri produksi mebel Indonesia yang sedang mengalami pertumbuhan pesat.

Diselenggarakan oleh PT Wahana Kemalaniaga Makmur tahun ini menandai awal kerja sama dengan Deutsche Messe yang merupakan penyelenggara Ligna yang merupakan pameran permesinan dan kayu terbesar di dunia.

Minat tinggi terhadap pameran ini ditandai dengan ruang pameran yang terjual habis diisi oleh 286 perusahaan dari 23 negara. Pameran IFMAC ke-8 tahun ini digelar mulai 9 hingga 12 Oktober 2019 di Jakarta International Expo, Kemayoran, dengan target pengunjung mencapai 15.000 pebisnis dari dalam dan luar negeri.

Perusahaan-perusahaan ternama yang hadir di IFMAC 2019 antara lain Alpha Utama Mandiri, Felder Group, American Hardwood dan Maju Adil Sejahtera yang rutin berpatisipasi sejak IFMAC pertama kali digelar pada tahun 2012.

Kini dengan bergabungnya Deutsche Messe penyelenggara pameran Ligna yang fokus pada industri produksi mebel dan perkayuan, IFMAC semakin banyak diikuti oleh perusahaan-perusahaan internasional khususnya dari Eropa.

Beberapa perusahaan yang untuk pertama kalinya berpartisipasi di pameran IFMAC antara lain Ledinek GmbH dari Austria, Inter Abrasive A.S. dari Turki, Surteco Pte Ltd dan Raute Group Asia Pte Ltd dari Singapura, Robland NV dari Belgia, dan PK Garuda dari Indonesia.

Secara keseluruhan, IFMAC 2019 mencatat peningkatan peserta sebanyak 70% perusahaan dari luar negeri dan 30% peserta dalam negeri yang terdiri dari distributor besar dalam negeri dan pemasok mesin dan solusi ternama di masing-masing negara tersebut di industri mebel.

“IFMAC adalah platform yang diakui oleh para pemain industri mebel dan kayu untuk bertemu dan diperhitungkan di pasar Indonesia. Partisipasi dari perusahaan-perusahaan raksasa dan pencipta teknologi yang tepercaya dalam industri mebel membuktikan bahwa IFMAC adalah magnet yang menarik perhatian para pemain industri global ke Indonesia dan mengkonkretkan posisi Indonesia sebagai pasar utama bagi industri ini,” kata Direktur PT Wahana Kemalaniaga Makmur, Rini Sumardi dalam keterangannya, Kamis (10/10/2019).

Christian Pfeiffer, Global Director LIGNA & Woodworking Shows Deutsche Messe AG mengatakan bahwa, IFMAC adalah pameran terkemuka untuk mesin, aksesoris dan bahan-bahan pertukangan kayu di Indonesia sekaligus menjadi pusat inovasi di Asia.

"Oleh karena itu, kami sangat senang mendukung pameran IFMAC untuk pertama kalinya dan untuk mempromosikan peningkatan fasilitas produksi dan investasi dalam efisiensi teknologi proses dan aksesori modern. IFMAC adalah marketplace yang membawa industri ini mencapai target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari sepuluh ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030,” ucap Christian Pfeiffer.

Dirjen Industri Argo Kementerian Perindustrian Abdul Rochim mengatakan, inovasi dan desain pada industri furniture dan kerajinan sangat menentukan nilai tambah yang range-nya sangat lebar.

“Kementerian Perindustrian terus mendorong dilakukannya R&D untuk menciptakan inovasi-inovasi baru. Terkait dengan hal ini, Kementerian Perindustrian telah mengusulkan adanya insentif Super Deduction Tax, untuk mendorong R&D sebesar 300% dari investasinya, sedangkan untuk Pendidikan vokasi sebesar 200%, dan alhamdulillah saat ini sudah keluar Peraturan Pemerintah No.45 Tahun 2019 tentang hal tersebut,” tutur Abdul Rochim.

Adapun kinerja ekspor industri furniture Indonesia dalam tiga tahun terakhir adalah sebesar 1,60 miliar dolar AS (2016), 1,63 miliar dolar AS (2017) dan 1,69 miliar dolar AS (2018). Industri furnitur memberikan kontribusi sebesar 0,25% terhadap PDB Nasional.

Sementara itu nilai perdagangan furniture dunia berdasarkan data CSIL adalah sebesar 131 miliar dolar AS pada tahun 2016, tahun 2017 sebesar 140 miliar dolar AS dan tahun 2018 sebesar 154 miliar dolar AS.

Saat ini, pengekspor furniture utama dunia adalah negara China, diikuti oleh Jerman, Italia, Polandia, AS, Mexico, dan Vietnam. Indonesia berada diperingkat 21 dunia. Pasar furniture dunia diprediksi masih akan terus meningkat, yaitu sekitar 3% sampai tahun 2020.

Asia Pasifik, diikuti oleh Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika merupakan Kawasan yang pasar furniturnya tumbuh pesat. Tentu saja hal ini menjadi kesempatan bagi pelaku industri furniture di Indonesia untuk lebih keras berusaha meningkatkan ekspor.

Selain itu, ‘tradewar’ antara China dan AS juga merupakan peluang bagi Indonesia untuk mengambil pasar furniture di AS yang ditinggalkan China. Berdasarkan data tahun 2018, pangsa pasar furniture China di AS sebesar 26,3 miliar dolar AS.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS