Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.495.000
IHSG 5.744,556
LQ45 565,493
Srikehati 279,472
JII 338,217
USD/IDR 17.989

Suku Bunga Turun, Likuiditas Bank Masih Ketat

Pebriansyah Ariefana, Mohammad Fadil Djailani

Minggu, 27 Oktober 2019 | 17:31 WIB
Suku Bunga Turun, Likuiditas Bank Masih Ketat
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah) didampingi jajaran Deputi Gubernur (kiri ke kanan) Sugeng, Mirza Adityaswara, Erwin Rijanto dan Rosmaya Hadi bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (30/5).

Suara.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan penurunan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini belum mampu untuk menstimulus kinerja bank-bank dalam negeri keluar dari masalah likuiditas yang ketat. Besaran suku bunga yang diturunkan BI sebesar 25 bps atau menjadi 5 persen.

Dia bilang, masalahnya saat ini Loan Deposit Ratio (LDR) bank secara rata-rata mencapai 94,6 persen yang artinya bank mati-matian harus berebut dana murah.

"Tapi di saat kondisi likuiditas bank mengetat maka transmisi nya akan sangat lambat. Jadi dampak penurunan ke suku bunga KPR pun akan relatif lama," kata Bhima saat dihubungi Suara.com, Minggu (27/10/2019).

"Jika bank terlalu cepat ikuti BI (respons penurunan suku bunga) khawatir dana akan pindah ke bank yang mempertahankan bunga tinggi," tambah Bhima.

Bhima menjelaskan saat ini persaingan antar 115 bank dinilai membuat bank bank kecil paling menderita di tengah perang likuiditas.

"Merger dan akuisisi berjalan sangat lambat. Idealnya OJK juga harus mendorong konsolidasi perbankan agar transmisi penurunan bunga acuan lebih cepat," ucapnya.

"Jadi masalah yang harus dipecahkan adalah pelonggaran likuiditas. BI bisa turunkan lagi GWM (Giro Wajib Minimum) nya atau lakukan operasi moneter lain," tambah Bhima.

Maka dari lanjut Bhima, untuk bank yang likuiditasnya ketat, pilihan menawarkan obligasi bisa jadi alternatif pendanaan. Namun, di tengah resiko pasar yang naik, tidak semua bank bisa terbitkan obligasi dan laku.

"Bank kecil misalnya, cenderung konservatif. Mau terbitkan obligasi khawatir bunga nya juga mahal, dan segmentasi pembelinya terbatas. Jadi tidak semua bank bisa dengan cara terbitkan obligasi. Buat bank buku 3 dan 4 relatif mudah," katanya.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gubernur BI Bantah Dana Asing Kabur karena Pengumuman Menteri Jokowi

Gubernur BI Bantah Dana Asing Kabur karena Pengumuman Menteri Jokowi

Bisnis | Jum'at, 25 Oktober 2019 | 17:08 WIB

Suku Bunga Acuan BI Turun Lagi 25 Basis Poin Jadi 5 Persen

Suku Bunga Acuan BI Turun Lagi 25 Basis Poin Jadi 5 Persen

Bisnis | Kamis, 24 Oktober 2019 | 15:10 WIB

Rupiah Diprediksi Menguat Setelah Jokowi Umumkan Nama-nama Menteri

Rupiah Diprediksi Menguat Setelah Jokowi Umumkan Nama-nama Menteri

Bisnis | Kamis, 24 Oktober 2019 | 08:44 WIB

Profil Darmin Nasution, Kandidat Menko Perekonomian Periode Kedua Jokowi

Profil Darmin Nasution, Kandidat Menko Perekonomian Periode Kedua Jokowi

News | Senin, 21 Oktober 2019 | 14:19 WIB

Utang Indonesia Naik Lagi, Hingga Agustus 2019 Capai Rp 5.589,5 Triliun

Utang Indonesia Naik Lagi, Hingga Agustus 2019 Capai Rp 5.589,5 Triliun

Bisnis | Selasa, 15 Oktober 2019 | 16:40 WIB

Terkini

Komisi Ojol Dipangkas Jadi 8%, Ekonom: Belum Tentu Bikin Driver Lebih Sejahtera

Komisi Ojol Dipangkas Jadi 8%, Ekonom: Belum Tentu Bikin Driver Lebih Sejahtera

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:31 WIB

Dugaan Cuci Uang Emas Ilegal Diusut, Modusnya Samarkan Hasil Tambang Tanpa Izin

Dugaan Cuci Uang Emas Ilegal Diusut, Modusnya Samarkan Hasil Tambang Tanpa Izin

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:25 WIB

Rekam Jejak Novel Bamukmin, Eks FPI yang Diisukan Jadi Komisaris BUMN

Rekam Jejak Novel Bamukmin, Eks FPI yang Diisukan Jadi Komisaris BUMN

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:21 WIB

Rupiah Menguat, Tapi Masih Betah di Level Rp17.900 per Dolar AS

Rupiah Menguat, Tapi Masih Betah di Level Rp17.900 per Dolar AS

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:19 WIB

Harga Pertamax Harusnya Rp13.700, Ekonom: Ada Upaya Pertamina Pulihkan Margin

Harga Pertamax Harusnya Rp13.700, Ekonom: Ada Upaya Pertamina Pulihkan Margin

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:04 WIB

Purbaya Ngeluh Bawahannya Lelet Urus Aset Negara, Singgung Kasus BLBI

Purbaya Ngeluh Bawahannya Lelet Urus Aset Negara, Singgung Kasus BLBI

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:56 WIB

Nyaris 10.000 Karyawan Tokopedia Kena PHK Massal, Bermula dari Akusisi Tiktok

Nyaris 10.000 Karyawan Tokopedia Kena PHK Massal, Bermula dari Akusisi Tiktok

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:53 WIB

B50 Resmi Disalurkan ke Industri, Pertambangan Jadi Penerima Perdana

B50 Resmi Disalurkan ke Industri, Pertambangan Jadi Penerima Perdana

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:52 WIB

2 Cara Tukar Uang Rusak di Bank, Bisa Datang Langsung atau Lewat Aplikasi

2 Cara Tukar Uang Rusak di Bank, Bisa Datang Langsung atau Lewat Aplikasi

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:09 WIB

Aturan Baru Komisi Ojol Resmi Berlaku, Penumpang Siap-siap Bayar Lebih Mahal

Aturan Baru Komisi Ojol Resmi Berlaku, Penumpang Siap-siap Bayar Lebih Mahal

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:05 WIB

×