Permintaan Produk Sanitary di Dalam Negeri Lesu, TOTO Perkuat Pasar Ekspor

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Permintaan Produk Sanitary di Dalam Negeri Lesu, TOTO Perkuat Pasar Ekspor
Ilustrasi toilet. [Shutterstock]

Persaingan pasar industri keramik sanitary di dalam negeri dinilai semakin kompetitif dengan adanya pemain-pemain baru di industri ini.

Suara.com - Persaingan pasar industri keramik sanitary di dalam negeri dinilai semakin kompetitif dengan adanya pemain-pemain baru di industri ini. Padahal, industri keramik sanitary di Indonesia sedang lesu dikarenakan rendahnya serapan lokal.

Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki), penurunan permintaan keramik sanitary dirasakan sejak akhir 2107. Sebelumnya, produksi diserap pasar domestik sebesar 70 persen dan untuk ekspor sebesar 30 persen, tetapi sekarang porsi serapan lokal hanya sebesar 55 persen dan sisanya ekspor.

Perlambatan sektor properti di Indonesia disebut sebagai "dalang" menurunnya serapan keramik sanitary. Selain itu, banyak pengembang properti dan juga konsumen, masih menganggap sanitary impor kualitasnya lebih baik dibandingkan produksi dalam negeri, terutama untuk segmen menengah ke atas.

Padahal, pabrikan yang ada di Indonesia memiliki standar internasional yang kualitasnya tidak kalah dengan produk impor.

Produsen keramik sanitary di Indonesia yang memiliki afiliasi jaringan internasional, PT Surya Toto Indonesia (TOTO) mengakui bahwa memang saat ini industri keramik sanitary tengah mengalami kelesuan.

Menghadapi kelesuan permintaan dalam negeri, PT Surya Toto Indonesia (TOTO) perusahaan keramik sanitary asal Indonesia ini berencana mengekspor produknya ke China, Amerika Serikat, Vietnam, Malaysia, Singapura dan negara-negara Timur Tengah.

Hal ini dilakukan seiring dengan program pemerintah Indonesia yang tengah menggalakan program ekspor guna menekan defisit neraca perdagangan.

"Pasar ekspor memang sangat menjanjikan. Namun, kami akui bahwa pasar dalam negeri hingga saat ini masih menjadi penopang penjualan. Jika dilihat dari komposisinya, memang ekspor masih 20 persen dari total produksi," ujar Presiden Direktur PT Surya Toto Indonesia (TOTO) Hanafi Admadiredja dalam keterangannya, Senin (3/2/2020).

Tercatat di semester I-2019, penjualan ekspor TOTO naik 3,13 persen menjadi Rp 245,46 miliar, sementara penjualan domestiknya menurun 18,05 persen (y-o-y) menjadi Rp 744,27 miliar.

Menurut Hanafi, masih ada tantangan-tantangan yang harus dihadapi untuk ekspor, antara lain, masih lesunya ekonomi global dan perang dagang antara AS dan China yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

“Tak hanya di luar negeri, pasar dalam negeri yang belum ada perkembangan positif hingga saat ini, juga menjadi tantangan tersendiri untuk pertumbuhan bisnis perusahaan. Untuk menghadapi penurunan penjualan dalam negeri, kami juga menyasar segmen menengah ke bawah. Dengan strategi ini, diharapkan dapat mendorong produk-produk TOTO lebih cepat terserap ke pasar," kata Hanafi.

Setelah resmi melakukan proses produksi dari tahun 1977, kini PT Surya Toto Indonesia (TOTO) telah memiliki lebih dari 3000 dealer yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

TOTO juga telah memiliki 3 pabrik di Indonesia yang berada di Serpong, Balaraja, dan Surabaya.

Hingga saat ini, pabrik TOTO di Balaraja menjadi yang terluas dan terbesar dengan memiliki lebih dari 27 hektare (ha) dan memiliki 8 lini produksi. Hampir 95 persen produk TOTO yang terjual di pasaran diproduksi di pabrik Balaraja.

Pabrik yang memiliki lebih dari 2.500 orang pekerja ini telah mengadopsi teknologi terkini dan terintegrasi antar semua lini produksi.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS