Pejualan Ritel Mei 2020 Alami Penurunan Terbesar Sejak 2008

Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Pejualan Ritel Mei 2020 Alami Penurunan Terbesar Sejak 2008
Salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (4/6).

Kondisi ini merupakan hasil survei Bank Indonesia (BI), yang dirilis pekan ini.

Suara.com - Indeks penjualan ritel Indonesia mengalami kontraksi sebesar 20,6 persen pada Mei, penurunan terbesar sejak 2008. Hal ini akibat dari penjualan pakaian yang jatuh dan pengeluaran yang besar dalam bidang budaya dan rekreasi. Kondisi ini merupakan hasil survei Bank Indonesia (BI), yang dirilis pekan ini.

Kontraksi lebih curam daripada April, yang mana penjualan ritel menyusut 16,9 persen tahun ke tahun (yoy).

Hal ini menyusul diperkenalkannya pembatasan sosial skala besar (PSBB) pada April dan Mei untuk mengekang penyebaran Covid-19 .

"Kinerja penjualan ritel akan membaik pada bulan Juni meskipun masih dalam fase kontraksi," bank sentral menyatakan dalam survei.

Bank sentral memproyeksikan penurunan penjualan melambat menjadi 14,4 persen pada Juni, karena penjualan makanan dan minuman yang lebih tinggi, serta bahan bakar kendaraan, karena Indonesia secara bertahap membuka kembali perekonomian, tambah situs broker IQ OPTION.

Menurut survei, pengeluaran untuk pakaian di Mei turun 74 persen yoy, sementara belanja untuk rekreasi turun 53,7 persen yoy, dan bahan bakar kendaraan turun 45,4 persen yoy.

Pandemi Virus Corona telah menghantam ekonomi Indonesia tahun ini. Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan setahun penuh hanya mencapai 1 persen di bawah skenario dasar, atau bagi ekonomi berkontraksi 0,4 persen di bawah skenario terburuk.

Indonesia mencatat pertumbuhan PDB terendah dalam 19 tahun pada kuartal pertama sebesar 2,97 persen. Wabah Covid-19 memaksa orang untuk tinggal di rumah, sehingga mengganggu kegiatan ekonomi.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS