Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.890.000
Beli Rp2.750.000
IHSG 7.094,526
LQ45 719,628
Srikehati 343,829
JII 483,464
USD/IDR 17.017

Pembatasan Aktivitas Masyarakat Tidak Berdampak Banyak Terhadap Kualitas Udara

Iwan Supriyatna | Suara.com

Kamis, 29 Juli 2021 | 15:10 WIB
Pembatasan Aktivitas Masyarakat Tidak Berdampak Banyak Terhadap Kualitas Udara
Kualitas Udara Jakarta. (Antara)

Suara.com - Ketika diberlakukan PSBB pada tahun 2020 lalu, langit di wilayah Jakarta beberapa kali tampak membiru. Hal tersebut dinilai bisa terjadi karena penggunaan transportasi yang menurun.

Pembatasan aktivitas sendiri telah membawa dampak dalam meningkatkan kualitas udara di 84% negara di seluruh dunia, seperti dilaporkan CNN pada Maret lalu.

Namun pemandangan tersebut tidak terlihat pada saat pemerintah menerapkan PPKM Darurat sejak awal Juli 2021. Berdasarkan data pantauan dari aplikasi pemantau udara NAFAS, kualitas udara di wilayah Jabodetabek justru menurun. Ini terlihat dari berkurangnya jam dengan kategori kualitas udara “Moderate” dan meningkatnya jam dengan kategori “Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif (UHSG)”.

“Dengan dilakukannya pembatasan mobilitas dan aktivitas masyarakat, kami memperkirakan akan terjadi penurunan dalam kategori “Tidak Sehat” dan “UHSG”, sekaligus peningkatan dalam kategori “Moderate”. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya,” ujar Co-founder dan Chief Growth Officer Nafas, Piotr Jakubowski di Jakarta, Kamis (29/7/2021).

Piotr menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa kualitas udara di wilayah Jabodetabek malah menurun di masa penerapan PPKM Darurat. Pertama, transportasi bukanlah satu-satunya sumber dari polusi udara.

“Di masa lalu, laporan yang diterbitkan kerap menyoroti bahwa sebagian besar polusi udara Jakarta disebabkan oleh transportasi. Ya, Jabodetabek memang memiliki jumlah mobil, truk, dan sepeda motor yang sangat banyak, tetapi banyak dari kendaraan tersebut tidak ada di jalanan selama masa PPKM. Lalu kenapa kualitas udara tak juga ikut membaik?” ujar Piotr.

Artinya, hal ini membuktikan bahwa pencemaran udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya ternyata turut disebabkan oleh aspek lain, dan cukup signifikan. Faktor yang dimaksud adalah energi (pembangkit listrik tenaga batu bara & gas), industri (pabrik & manufaktur), pembakaran limbah industri, industri ilegal, pembakaran sampah pinggir jalan, dan pembakaran lahan pertanian.

Faktor kedua, lanjutnya, adalah sedikitnya hujan dan angin di musim kemarau. Karena pada kenyataannya faktor hujan, angin, kekuatan angin dan juga arah angin sangat berkontribusi pada kualitas udara. Faktor tersebut turut membawa dan memindahkan polusi dari satu tempat ke tempat lain.

“Sejak bulan Mei, jumlah hari dengan cuaca hujan telah berkurang secara signifikan, dan hal tersebut membuat polusi udara yang dihasilkan di wilayah Jabodetabek tidak ke mana-mana,” terangnya.

Ketiga, lanjut Piotr, adalah tingginya aktivitas pembakaran sampah yang terjadi. Seperti diketahui, pembakaran sampah industri dan pribadi merupakan isu yang berperan cukup besar dalam masalah pencemaran udara di Jabodetabek.

Menurutnya, ada beberapa daerah di mana tumpukan sampah lebih banyak dibakar karena kurangnya sumber daya pengelolaan sampah. Adanya plastik dan elemen lain dalam pembakaran sampah ini juga dapat menghasilkan asap yang sangat beracun.

“Sebagian besar pembakaran sampah di Jabodetabek terjadi di tengah malam saat asap tidak terlihat, dan menyebabkan kualitas udara Jakarta menjadi yang terburuk antara pukul 8 malam hingga 9 pagi. Berolahraga antara jam 4 sampai 9 pagi sebenarnya bisa jadi tidak menyehatkan karena alasan tersebut,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Langgar PPKM, 54 Perusahaan di Jakbar Dikenai Sanksi Denda dan Dibekukan

Langgar PPKM, 54 Perusahaan di Jakbar Dikenai Sanksi Denda dan Dibekukan

Jakarta | Kamis, 29 Juli 2021 | 15:00 WIB

Seleb Tiktok Bekasi Disanksi Rp 12 Juta karena Langgar Prokes Saat Rayakan Ulang Tahun

Seleb Tiktok Bekasi Disanksi Rp 12 Juta karena Langgar Prokes Saat Rayakan Ulang Tahun

Jabar | Kamis, 29 Juli 2021 | 14:57 WIB

Jerit Driver Ojol: PPKM Diperpanjang, Cari Orderan Kayak Open BO, Takut sama Patroli

Jerit Driver Ojol: PPKM Diperpanjang, Cari Orderan Kayak Open BO, Takut sama Patroli

News | Kamis, 29 Juli 2021 | 14:57 WIB

Terkini

IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global

IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:05 WIB

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:58 WIB

Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?

Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:44 WIB

RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital

RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:41 WIB

Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri

Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:46 WIB

Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga

Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:39 WIB

Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?

Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:20 WIB

Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun

Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 15:40 WIB

Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Petani Tebu Blora, Siap Fasilitasi Penyaluran ke PG di Jawa Tengah

Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Petani Tebu Blora, Siap Fasilitasi Penyaluran ke PG di Jawa Tengah

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 15:32 WIB

82 Orang Diperiksa dalam Kasus PT DSI, Ada Dude Herlino dan Alyssa Soebandono

82 Orang Diperiksa dalam Kasus PT DSI, Ada Dude Herlino dan Alyssa Soebandono

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 15:27 WIB