alexametrics

Harga Tomat Jadi Pemicu Kenaikan Inflasi Kota Cirebon

Erick Tanjung
Harga Tomat Jadi Pemicu Kenaikan Inflasi Kota Cirebon
Ilustrasi--Bahan pokok seperti tomat di Pasar Palmerah, Jakarta Barat. (Suara.com/Dian Kusumo Hapsari)

"Harga tomat menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Cirebon," kata Joni Kasmuri.

Suara.com - Badan Pusat Statistik atau BPS Kota Cirebon, Jawa Barat, mendata kenaikan harga tomat, pisang, tarif dokter spesialis, dan beras memicu inflasi 0,09 persen pada bulan Agustus 2021, dengan Indeks Harga Konsumen/IHK sebesar 104,18.

"Harga tomat menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Cirebon," kata Kepala BPS Kota Cirebon Joni Kasmuri di Cirebon, Rabu (1/9/2021).

Menurutnya pada Agustus 2021, Kota Cirebon mengalami inflasi 0,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,18. Dari tujuh kota pantauan IHK di Provinsi Jawa Barat, tercatat enam kota mengalami inflasi dan satu kota deflasi.

Joni mengatakan beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga pada Agustus 2021, antara lain, biaya masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), beras, tomat, pisang, dan tarif dokter spesialis.

Baca Juga: Kota Bekasi Resmi Gelar PTM Terbatas Jenjang SMP

"Inflasi Kota Cirebon pada bulan Agustus 2021 0,09 persen," ujarnya.

Ia melanjutkan pada Agustus 2021 dari 11 kelompok pengeluaran tujuh mengalami inflasi dan tiga deflasi, dan satu kelompok lainnya tidak mengalami perubahan indeks.

Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi yaitu pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,19 persen.

Selanjutnya kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,15 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,41 persen dan kelompok pendidikan sebesar 1,43 persen.

"Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,11 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,23 persen," tuturnya.

Baca Juga: Pengamat Nilai Sudah Saatnya Objek Wisata di Jabar Dibuka

Joni menambahkan untuk kelompok yang mengalami deflasi yaitu makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,20 persen, kelompok transportasi sebesar 0,21 persen dan kelompok informasi, komunikasi, serta jasa keuangan sebesar 0,06 persen.

Komentar