Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.185,783
LQ45 612,558
Srikehati 299,552
JII 369,759
USD/IDR 17.990

Ide Usaha Budidaya Gutta Percha, Pohon Mudah Tumbuh Dengan Harga Daun Jutaan Rupiah

M Nurhadi

Rabu, 15 September 2021 | 17:59 WIB
Ide Usaha Budidaya Gutta Percha, Pohon Mudah Tumbuh Dengan Harga Daun Jutaan Rupiah
Pengolahan Gutta Percha, Tjipetir (Antara)

Suara.com - Pohon Gutta Percha kini makin mempesona. Bukan karena kecantikannya, melainkan potensinya yang berharga fantastis. Selain itu, pohon ini juga tumbuh dengan sendirinya, menjulang semaunya. Tak perlu dirawat, tak harus dipupuk, dia akan tumbuh dengan mandiri. Tapi daun-daunnya bisa bernilai Rp3,5 juta.

Pohon-pohon itu tumbuh di Perkebunan Sukamaju milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di Desa Cipetir, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Mereka tumbuh di area konservasi perkebunan sawit Sukamaju PTPN VIII, pohon Gutta Percha tumbuh di atas lahan seluas 333 hektare yang dikhususkan untuk pelestarian.

Pohon ini memang termasuk pohon langka yang dulu sempat hampir punah akibat eksploitasi besar-besaran. Gutta Percha atau yang memiliki nama latin Palquium Gutta sudah dibudidayakan sejak era kolonial Belanda pada tahun 1885 di Perkebunan Cipetir, yang saat ini bernama Perkebunan Sukamaju milik PTPN VIII.

Mengutip tulisan berjudul "The Gutta Percha Company" karya Bill Burns di laman atlantic-cable.com, Gutta Percha naik pamor setelah diteliti oleh seorang dokter bedah di Inggris.

Penelitian itu mengungkapkan bahwa senyawa yang didapat dari Gutta Percha bisa menjadi bahan baku termoplastik alami yang bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan.

Pohon Gutta Percha (Antara)
Pohon Gutta Percha (Antara)

Gutta merupakan bahasa latin dari getah, sementara Perca adalah nama lain Pulau Sumatera pada zaman dahulu. Getah dihasilkan dari penyadapan batang pohon, dan belakangan baru diketahui getah juga bisa dihasilkan dari daunnya.

Keunikan dari getah Gutta Percha adalah bentuknya yang akan melumer seperti karet elastis ketika dipanaskan, sedangkan getah itu akan mengeras seperti plastik kokoh jika didinginkan di suhu ruang.

Hal ini dimanfaatkan untuk produksi berbagai macam produk seperti gips atau gigi palsu untuk dunia kedokteran, berbagai perabotan rumah tangga, dan yang paling terkenal sebagai pelapis kabel bawah laut di era teknologi telegraf ditemukan. Sejak saat itu, getah dari Gutta Percha menjadi bahan baku industri yang eksklusif.

baca juga

Pada tahun 1850-an, Gutta Percha yang banyak tersebar di hutan pulau Indonesia, Singapura, dan Malaysia kemudian dieksploitasi besar-besaran dengan cara ditebang untuk diambil kayunya kemudian dikirim ke Inggris. Pada 1851, sebanyak 1.500 ton Gutta Percha dikirim ke Inggris untuk keperluan berbagai industri.

Berdasarkan jurnal berjudul "A Victorian Ecological Disaster: Imperialism, the Telegraph, and Gutta Percha" karya John Tully dari University of Hawaii Press, dibutuhkan sebanyak 16 juta kg Gutta Percha untuk lapisan insulasi kabel bawah laut yang membentang membelah samudera dan menghubungkan hampir seluruh benua di dunia dengan teknologi telegraf pada akhir abad 19. 

Pada awal abad 20 ketika kabel bawah laut sudah membentang sepanjang 200 ribu mil ke seluruh dunia, sebanyak 88 juta kg Gutta Percha telah digunakan.

Merujuk pada permintaan industri yang sangat tinggi itulah pemerintahan kolonial Belanda membuat perkebunan Gutta Percha sekaligus membangun pabrik pengolahannya di Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1885 hingga berhenti beroperasi pada 1921. 

Pamor Gutta Perca pudar ketika dunia telah menemukan material sintetis plastik yang memiliki senyawa mirip dengan Gutta Percha dan dengan harga yang jauh lebih murah.

Hingga kini Pabrik Gutta Perca Cipetir di Sukabumi masih beroperasi dan dikelola oleh PTPN VIII dan digunakan untuk mengolah daun pohon Gutta Percha menjadi bahan baku getah karet keras berbentuk lempengan bundar bertuliskan "Tjipetir". 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PTPN X Gandeng Petrokimia Gresik Gelar Tanam Perdana Tebu di Desa Sidonganti

PTPN X Gandeng Petrokimia Gresik Gelar Tanam Perdana Tebu di Desa Sidonganti

Bisnis | Jum'at, 10 September 2021 | 15:08 WIB

2 Cara Mudah Membuat Lumpia dengan 3 Bahan, Dijamin Nggak Gampang Sobek

2 Cara Mudah Membuat Lumpia dengan 3 Bahan, Dijamin Nggak Gampang Sobek

Lifestyle | Kamis, 09 September 2021 | 09:39 WIB

Moeldoko Minta Konflik Agraria PTPN Cepat Diselesaikan

Moeldoko Minta Konflik Agraria PTPN Cepat Diselesaikan

Sumsel | Rabu, 08 September 2021 | 18:23 WIB

Moeldoko Minta Sengketa Tanah PTPN dan Warga Sulsel Diselesaikan Dengan Cepat

Moeldoko Minta Sengketa Tanah PTPN dan Warga Sulsel Diselesaikan Dengan Cepat

Sulsel | Rabu, 08 September 2021 | 14:16 WIB

Penghuni Lapas Sukamiskin Bandung Bertambah 1 Orang Koruptor Hari Ini

Penghuni Lapas Sukamiskin Bandung Bertambah 1 Orang Koruptor Hari Ini

Jabar | Jum'at, 27 Agustus 2021 | 16:59 WIB

WALHI Sulsel: Pelanggar HAM Tidak Layak Mendapatkan Sertifikasi RSPO

WALHI Sulsel: Pelanggar HAM Tidak Layak Mendapatkan Sertifikasi RSPO

Sulsel | Selasa, 24 Agustus 2021 | 17:16 WIB

Terkini

Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung

Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:50 WIB

Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua

Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua

Health | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:40 WIB

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:12 WIB

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:06 WIB

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Bogor | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:59 WIB

Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim

Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:48 WIB

Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok

Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:47 WIB

140 Titik di Banten Darurat Air Bersih

140 Titik di Banten Darurat Air Bersih

Banten | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:37 WIB

Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon

Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon

Jatim | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:23 WIB

Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam

Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:22 WIB

×