Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.865.000
Beli Rp2.750.000
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...
USD/IDR 17.184

Ide Usaha Budidaya Gutta Percha, Pohon Mudah Tumbuh Dengan Harga Daun Jutaan Rupiah

M Nurhadi | Suara.com

Rabu, 15 September 2021 | 17:59 WIB
Ide Usaha Budidaya Gutta Percha, Pohon Mudah Tumbuh Dengan Harga Daun Jutaan Rupiah
Pengolahan Gutta Percha, Tjipetir (Antara)

Suara.com - Pohon Gutta Percha kini makin mempesona. Bukan karena kecantikannya, melainkan potensinya yang berharga fantastis. Selain itu, pohon ini juga tumbuh dengan sendirinya, menjulang semaunya. Tak perlu dirawat, tak harus dipupuk, dia akan tumbuh dengan mandiri. Tapi daun-daunnya bisa bernilai Rp3,5 juta.

Pohon-pohon itu tumbuh di Perkebunan Sukamaju milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di Desa Cipetir, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Mereka tumbuh di area konservasi perkebunan sawit Sukamaju PTPN VIII, pohon Gutta Percha tumbuh di atas lahan seluas 333 hektare yang dikhususkan untuk pelestarian.

Pohon ini memang termasuk pohon langka yang dulu sempat hampir punah akibat eksploitasi besar-besaran. Gutta Percha atau yang memiliki nama latin Palquium Gutta sudah dibudidayakan sejak era kolonial Belanda pada tahun 1885 di Perkebunan Cipetir, yang saat ini bernama Perkebunan Sukamaju milik PTPN VIII.

Mengutip tulisan berjudul "The Gutta Percha Company" karya Bill Burns di laman atlantic-cable.com, Gutta Percha naik pamor setelah diteliti oleh seorang dokter bedah di Inggris.

Penelitian itu mengungkapkan bahwa senyawa yang didapat dari Gutta Percha bisa menjadi bahan baku termoplastik alami yang bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan.

Pohon Gutta Percha (Antara)
Pohon Gutta Percha (Antara)

Gutta merupakan bahasa latin dari getah, sementara Perca adalah nama lain Pulau Sumatera pada zaman dahulu. Getah dihasilkan dari penyadapan batang pohon, dan belakangan baru diketahui getah juga bisa dihasilkan dari daunnya.

Keunikan dari getah Gutta Percha adalah bentuknya yang akan melumer seperti karet elastis ketika dipanaskan, sedangkan getah itu akan mengeras seperti plastik kokoh jika didinginkan di suhu ruang.

Hal ini dimanfaatkan untuk produksi berbagai macam produk seperti gips atau gigi palsu untuk dunia kedokteran, berbagai perabotan rumah tangga, dan yang paling terkenal sebagai pelapis kabel bawah laut di era teknologi telegraf ditemukan. Sejak saat itu, getah dari Gutta Percha menjadi bahan baku industri yang eksklusif.

Pada tahun 1850-an, Gutta Percha yang banyak tersebar di hutan pulau Indonesia, Singapura, dan Malaysia kemudian dieksploitasi besar-besaran dengan cara ditebang untuk diambil kayunya kemudian dikirim ke Inggris. Pada 1851, sebanyak 1.500 ton Gutta Percha dikirim ke Inggris untuk keperluan berbagai industri.

Berdasarkan jurnal berjudul "A Victorian Ecological Disaster: Imperialism, the Telegraph, and Gutta Percha" karya John Tully dari University of Hawaii Press, dibutuhkan sebanyak 16 juta kg Gutta Percha untuk lapisan insulasi kabel bawah laut yang membentang membelah samudera dan menghubungkan hampir seluruh benua di dunia dengan teknologi telegraf pada akhir abad 19. 

Pada awal abad 20 ketika kabel bawah laut sudah membentang sepanjang 200 ribu mil ke seluruh dunia, sebanyak 88 juta kg Gutta Percha telah digunakan.

Merujuk pada permintaan industri yang sangat tinggi itulah pemerintahan kolonial Belanda membuat perkebunan Gutta Percha sekaligus membangun pabrik pengolahannya di Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1885 hingga berhenti beroperasi pada 1921. 

Pamor Gutta Perca pudar ketika dunia telah menemukan material sintetis plastik yang memiliki senyawa mirip dengan Gutta Percha dan dengan harga yang jauh lebih murah.

Hingga kini Pabrik Gutta Perca Cipetir di Sukabumi masih beroperasi dan dikelola oleh PTPN VIII dan digunakan untuk mengolah daun pohon Gutta Percha menjadi bahan baku getah karet keras berbentuk lempengan bundar bertuliskan "Tjipetir". 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PTPN X Gandeng Petrokimia Gresik Gelar Tanam Perdana Tebu di Desa Sidonganti

PTPN X Gandeng Petrokimia Gresik Gelar Tanam Perdana Tebu di Desa Sidonganti

Bisnis | Jum'at, 10 September 2021 | 15:08 WIB

2 Cara Mudah Membuat Lumpia dengan 3 Bahan, Dijamin Nggak Gampang Sobek

2 Cara Mudah Membuat Lumpia dengan 3 Bahan, Dijamin Nggak Gampang Sobek

Lifestyle | Kamis, 09 September 2021 | 09:39 WIB

Moeldoko Minta Konflik Agraria PTPN Cepat Diselesaikan

Moeldoko Minta Konflik Agraria PTPN Cepat Diselesaikan

Sumsel | Rabu, 08 September 2021 | 18:23 WIB

Moeldoko Minta Sengketa Tanah PTPN dan Warga Sulsel Diselesaikan Dengan Cepat

Moeldoko Minta Sengketa Tanah PTPN dan Warga Sulsel Diselesaikan Dengan Cepat

Sulsel | Rabu, 08 September 2021 | 14:16 WIB

Penghuni Lapas Sukamiskin Bandung Bertambah 1 Orang Koruptor Hari Ini

Penghuni Lapas Sukamiskin Bandung Bertambah 1 Orang Koruptor Hari Ini

Jabar | Jum'at, 27 Agustus 2021 | 16:59 WIB

WALHI Sulsel: Pelanggar HAM Tidak Layak Mendapatkan Sertifikasi RSPO

WALHI Sulsel: Pelanggar HAM Tidak Layak Mendapatkan Sertifikasi RSPO

Sulsel | Selasa, 24 Agustus 2021 | 17:16 WIB

Terkini

Harga BBM Naik Hari Ini! Pertamax Turbo Tembus Rp19.400, Dexlite Rp23.600, Cek Daftar Lengkapnya

Harga BBM Naik Hari Ini! Pertamax Turbo Tembus Rp19.400, Dexlite Rp23.600, Cek Daftar Lengkapnya

Bisnis | Sabtu, 18 April 2026 | 09:10 WIB

Harga Minyak RI Tembus 102 Dolar! Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan ICP Maret 2026

Harga Minyak RI Tembus 102 Dolar! Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan ICP Maret 2026

Bisnis | Sabtu, 18 April 2026 | 08:50 WIB

Selat Hormuz Resmi Dibuka Kembali, Ini Penjelasan ESDM soal Nasib 2 Kapal Pertamina

Selat Hormuz Resmi Dibuka Kembali, Ini Penjelasan ESDM soal Nasib 2 Kapal Pertamina

Bisnis | Sabtu, 18 April 2026 | 07:30 WIB

Anak Usaha Emiten ADHI Mulai Garap Proyek Gedung Presisi 6 Polri

Anak Usaha Emiten ADHI Mulai Garap Proyek Gedung Presisi 6 Polri

Bisnis | Sabtu, 18 April 2026 | 07:03 WIB

Kawal Agenda Ekonomi Kerakyatan, Kang Hero Dianugerahi KWP Award 2026

Kawal Agenda Ekonomi Kerakyatan, Kang Hero Dianugerahi KWP Award 2026

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 23:04 WIB

Konsistensi Kawal Energi Hijau Lewat MPR, Eddy Soeparno Raih KWP Award 2026

Konsistensi Kawal Energi Hijau Lewat MPR, Eddy Soeparno Raih KWP Award 2026

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 22:11 WIB

Tok! Pemerintah Resmi Pajaki Alat Berat Lewat Permendagri 11/2026

Tok! Pemerintah Resmi Pajaki Alat Berat Lewat Permendagri 11/2026

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 20:05 WIB

Harga Minyak Perlahan Turun, Bahlil Tegaskan B50 Tetap Jalan: Ini Survival Mode

Harga Minyak Perlahan Turun, Bahlil Tegaskan B50 Tetap Jalan: Ini Survival Mode

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 19:52 WIB

Harga Bahan Baku Naik Gila-gilaan, Industri Tekstil: Kami Enggak Bisa Survive!

Harga Bahan Baku Naik Gila-gilaan, Industri Tekstil: Kami Enggak Bisa Survive!

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 19:47 WIB

Bahlil Klaim RI Mulai Lepas Ketergantungan Impor BBM

Bahlil Klaim RI Mulai Lepas Ketergantungan Impor BBM

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 19:44 WIB